Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menggelar Forum Moderasi Beragama “Berbeda Warna Satu Canvas: Menjawab Tantangan Diskriminasi, Eksklusivisme, dan Masa Depan Pluralisme di Indonesia”, Jumat (19/9/2025) di Gedung A Lantai 4 FIA UB.
Dalam forum tersebut, FIA UB menghadirkan Direktur Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah, Bertholomeus George Da Silva, untuk menjadi salah satu pembicara dalam forum ini.
George membagikan kisah keluarganya yang berbeda keyakinan. Ia memeluk agama Katolik sedangkan istri dan anak-anaknya memeluk agama Islam.
Meski berbeda keyakinan. George sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Justru ia menekankan pentingnya kebebasan dalam memilih keyakinan.
“Kebebasan beragama itu tanpa adanya paksaan, karena sejatinya beragama adalah jati diri dan hati nurani kita semua,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia sama sekali menolak adanya segala bentuk paksaan dalam urusan memilih keyakinan.

Menurutnya, keputusan dalam beragama tidak boleh lahir dari tekanan atau keterpaksaan. Melainkan harus dari hati nurani seseorang yang paling dalam.
“Dalam agama itu, tidak boleh memaksa seseorang untuk harus mengikuti agama tertentu. Perlunya kita berbuat cinta kasih. Dengan mencintai keluarga dan saudara, lalu bisa mencintai Tuhan. Cinta kasih itu cinta untuk sesama manusia,” tegasnya.
Ia menambahkan, hukum terbesar dalam kehidupan beragama adalah cinta kasih. Cinta kepada Tuhan tidak akan pernah sempurna tanpa cinta kepada sesama manusia.
Bentuk cinta kasih tersebut dapat diwujudkan dengan sikap menghormati, berbuat baik kepada keluarga, menjaga hubungan dengan sesama serta menumbuhkan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
George juga menyebutkan, sikap menghargai merupakan kunci untuk mencapai sebuah keharmonisan di tengah adanya perbedaan.
“Dari kekurangan dia kita tutup dengan kita. Kurang kita tutup dengan kelebihan. Serta harus saling menghargai,” tambah George.
Tidak Hanya Jargon
Ia menutup materi ini dengan menekankan bahwa moderasi beragama seharusnya diwujudkan melalui tindakan, tidak hanya sekedar jargon saja.
“Moderasi beragama bukan cuma konsep. Akan tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengutamakan cinta kasih dan sikap saling menghargai, masyarakat kita akan lebih damai dan harmonis,” tuturnya.

Melalui forum ini, George menunjukkan betapa pentingnya menghadirkan perspektif dalam beragama. Ia juga berharap agar fakultas lain dapat menyelenggarakan acara yang serupa, mengingat perbedaan agama di Indonesia begitu nyata.
Kegiatan seperti ini, ia menegaskan, tidak hanya bermanfaat bagi sarana kerukunan. Akan tetapi juga sebagai pendidikan untuk kalangan masyarakat.
@malanginspirasicom 🙌🏻 FIA UB gelar Forum Moderasi Beragama bertajuk “Berbeda Warna Satu Canvas”. Dari kisah keluarga lintas agama Bertholomeus George, hingga pandangan kritis mahasiswa UB Marcello Kusuma soal diskriminasi, semua menegaskan satu hal: ✨ Moderasi beragama harus jadi praktik nyata, bukan hanya jargon. 📍 Ikuti terus update hanya di @malanginspirasicom 🎥 Video & info oleh: Riznima Azizah #moderasiberagama #fiaub #UniversitasBrawijaya #malangupdate #malanginspirasi ♬ suara asli – Malang Inspirasi








