Keyakinan Diperdebatkan, Pluralisme Menjadi Jawaban

Malanginspirasi.com – Diskriminasi terhadap agama merupakan perilaku tidak adil terhadap individu maupun kelompok berdasarkan keyakinan yang mereka anut. Sehingga ketika keyakinan diperdebatkan, pluralisme menjadi jawaban untuk menjaga keberagaman.

Bentuk dari diskriminasi agama ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti pengucilan sosial, pembatasan akses pendidikan atau pekerjaan, hingga kekerasan fisik.

Hal tersebut disampaikan oleh Mahasiswa Administrasi Bisnis UB angkatan 2023, Marcello Kusuma Sanjaya, saat menjadi salah satu pembicara dalam Forum Moderasi Beragama yang diselenggarakan FIA UB, Jumat (19/9/2025).

“Jadi diskriminasi agama itu sebuah tindakan yang sangat mungkin beberapa orang merasakan dari cara perbedaan pendapat, perbedaan pandangan mengenai suatu keyakinan ataupun agama,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa fenomena diskriminasi agama juga kerap hadir di lingkungan kita.

Contohnya seperti pembatasan pembangunan ibadah, kesulitan perizinan kegiatan ibadah, serta ketidakadilan dalam mengakses fasilitas publik.

Forum Moderasi Beragama: Keyakinan Diperdebatkan, Pluralisme Menjadi Jawaban
Pemberian sertifikat kepada Marcello sebagai pembicara forum moderasi beragama. (Riznima Azizah Noer)

Selain itu, ia juga memberikan kasus diskriminasi agama yang terjadi di Indonesia.

Salah satunya pembangunan tempat ibadah yang sempat terhambat karena masalah perizinan. Meski demikian, permasalahan tersebut dapat terselesaikan dengan baik dan pembangunan tempat ibadah tetap dilanjutkan.

Selain kasus di Indonesia, di luar negeri juga sering adanya diskriminasi terhadap agama. Seperti kasus di negara-negara benua Eropa. Sampai detik ini umat Muslim yang menghadapi diskriminasi sangat tinggi.

“Oleh karena itu diskriminasi agama ini perlu kita kaji atau perlu kita ketahui agar supaya permasalahan diskriminasi agama ini tidak terjadi lagi atau mungkin dapat berkurang di daerah-daerah tersebut atau di luar negeri ataupun di Indonesia itu sendiri,” tambahnya.

Diskriminasi Berawal dari Eksklusivisime

Selain diskriminasi agama, ia juga membahas ekslusivisme agama. Eksklusivisme adalah pandangan yang meyakini bahwa hanya satu agama yang benar, sementara yang lain salah.

“Mungkin teman-teman pernah mendengar suatu agama atau kelompok tertentu mengatakan, agama A benar, agama B bukan benar. Nah, dari kedua hal tersebut, mungkin dapat kita sebutkan kalau itu eksklusivisme agama,” ungkap Marcello

Ia menegaskan betapa pentingnya cara pandang dan penyampaian yang baik dalam menghadapi persoalan eksklusivisme, agar tidak menimbulkan intoleransi. Intoleransi apabila berkembang, hal tersebut bisa menjadi bentuk diskriminasi.

Forum Moderasi Beragama: Keyakinan Diperdebatkan, Pluralisme Menjadi Jawaban
Pembacaan deklarasi policy brief setelah pemaparan materi dalam forum moderasi beragama. (Riznima Azizah Noer)

Sebagai penutup, Marcello mengungkap solusi untuk menghindari hal-hal tersebut, yakni pluralisme dalam beragama.

Sikap ini merupakan bentuk pengakuan adanya keberagaman agama sebagai kenyataan yang sah dan berharga.

“Artinya kita harus saling menghormati, saling mengasihi dan intinya kita harus respek lah antara satu sama lain,” tandasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *