Bulan Bahasa, Dosen UIN Malang Tegaskan Nilai Lokal Tak Boleh Tergusur Globalisasi

Malanginspirasi.com – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Dosen Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Malang, Dr. Ulil Fitriyah M.Pd., M.Ed., menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara bahasa lokal, nasional, dan internasional.

Ia menekankan bahwa semangat mempelajari bahasa internasional, salah satunya Bahasa Inggris, tidak boleh menggeser eksistensi Bahasa Indonesia dan bahasa lokal.

“Jika mengobrol tentang Bahasa Inggris di tengah upaya melestarikan budaya bahasa Indonesia, maka  bahasa Inggris tidak boleh menggantikan posisi bahasa Indonesia. Bahkan bahasa lokal pun tidak boleh tergantikan,” tegas Ulil.

Ia menilai, setiap individu membawa identitas budaya dan bahasa sejak lahir.

Karena itu, mengabaikan bahasa lokal sama saja dengan menghilangkan sebagian dari jati dirinya.

“Sebagai orang yang sudah memiliki identitas, budaya, dan bahasa dari asalnya itu seharusnya tidak boleh menghilangkan bahasa lokal,” tambahnya.

Nilai dalam Bahasa Lokal
Jaga Bahasa Ibu, Kuasai Bahasa Dunia: Dosen UIN Malang Tekankan Keseimbangan Bahasa
Ilustrasi berbagai macam bahasa. (Pixabay.com/ Venkatesh S.)

Ulil menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang lebih menonjolkan bahasa internasional dibandingkan menggunakan bahasa lokal.

“Mengapa hanya bahasa nasional dan internasional yang selalu diangkat? Padahal bahasa lokal juga harus mendapatkan tempat. Justru keberagaman itu yang menjadikan kita semakin kuat dan menyatu,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa bahasa lokal menyimpan nilai moral dan budaya yang perlu ditanamkan sejak dini.

“Bahasa lokal juga mengandung values. Ada norma budaya yang harus diajarkan dan akhlak yang bisa kita sisipkan kepada anak,” tutur Ulil.

Ia memberikan contoh Bahasa Jawa yang memiliki sistem tutur seperti Krama Inggil, Krama Alus, dan Ngoko.

Masing-masing mengajarkan unggah-ungguh, tata krama, dan rasa hormat terhadap lawan bicara.

Bahasa Global dan Lokal Seimbang
Ilustrasi mempelajari bahasa inggris. (Pixabay.com/geralt)

Meski demikian, Ulil mengakui pentingnya menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional untuk berkomunikasi di tingkat global.

“Sebagai orang Jawa kita harus bisa berbahasa Jawa, sebagai orang Indonesia kita harus mampu berbahasa Indonesia, dan sebagai masyarakat global, kita juga perlu menguasai Bahasa Inggris,” tekan Ulil.

Sebagai pendidik sekaligus orang tua, Ulil menerapkan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari.

Ia lebih dulu memperkenalkan bahasa lokal tkepada anak-anaknya sebelum mengajarkan Bahasa Inggris.

“Saya tidak mengajarkan bahasa Inggris sebelum mereka memahami bahasa lokal. Minimal mereka tahu kapan menggunakan ‘nggih’, ‘mboten’, dan ‘enggak’. Itu merupakan bagian dari unggah-ungguh,” ujarnya.

Bangun Otak Bilingual
Jaga Bahasa Ibu, Kuasai Bahasa Dunia: Dosen UIN Malang Tekankan Keseimbangan Bahasa
Ilustrasi anak belajar bahasa. (Pixabay.com/sasint)

Ulil menilai bahwa kemampuan anak memahami dua bahasa sejak dini membentuk pola pikir bilingual.

Hal itu akan mempermudah mereka dalam mempelajari bahasa asing.

“Selama anak terbiasa mempelajari lebih dari satu bahasa, pikirannya sudah terprogram untuk membedakan berbagai macam bahasa,” ungkapnya.

“Bahasa Jawa dan Indonesia kan sangat berbeda. Jadi dasarnya mereka sudah punya otak bilingual,” tambahnya.

Ia mulai memperkenalkan Bahasa Inggris dan Arab kepada anak-anaknya ketika memasuki usia 8 hingga 9 tahun, atau sekitar kelas 3 SD.

Selain itu, Ulil mengimbau para orang tua agar tidak khawatir perihal aksen yang dimiliki oleh anak ketika belajar bahasa asing.

Dikarenakan saat ini konsep dari bahasa sendiri selama masih bisa dipahami, berbagai aksen bisa diterima.

“Tidak perlu takut kalau aksen kita tidak seperti orang barat. Sekarang konsepnya bukan lagi English as an International Language, tapi English as a Lingua Franca. Selama bisa dipahami, semua aksen diterima,” kata Ulil.

Sebagai penutup, Ia menegaskan bahwa kunci utama dalam mempelajari bahasa adalah paparan (language exposure).

“Saya percaya dengan language exposure. Berapapun usiamu, kamu tetap bisa belajar bahasa, selama kamu banyak di-expose dengan bahasa target,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *