Bedah Karya Penyair dan Dramawan W.S. Rendra dalam ‘Festival Kata’ UIN Malang 2025

Malanginspirasi.com – Suasana basement Kampus I UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Jumat (7/11/2025) terasa berbeda dari biasanya.

Tempat itu dipenuhi semangat literasi dan diskusi intelektual dalam event bertajuk ‘Festival Kata.’ Sebuah projek yang diinisiasi oleh DEMA Fakultas Humaniora melalui disivi Riset dan Kajian Strategis.

Acara ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seputar dunia sastra mulai pukul 09.00 pagi, namun inti acara berlangsung pada pukul 16.00 WIB.

Sesi ‘Diskusi Sastra’ menghadirkan M. Anwar Mas’adi, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang, sebagai pembicara utama.

Diskusi tersebut dipandu oleh Lalu Ahmad Albani Atsauri, alumni prodi BSA yang baru saja meraih gelas sarjananya pada Oktober 2025.

Bedah Karya Penyair dan Dramawan W.S. Rendra dalam 'Festival Kata' UIN Malang 2025
Penjelasan oleh pembicara, M. Anwar Mas’adi (kiri) di dampingi dengan moderator, Lalu Ahmad Albani Atsauri (kanan). (Maulidia Fatimah)

Dalam pemaparannya, Anwar Mas’adi mengangkat sosok inspiratif ‘W.S. Rendra,’ penyair dan dramawan besar Indonesia yang terlahir dari kultur sastra, dikenal sebagai ‘Burung Merak.’

Ia menuturkan perjalanan hidup Rendra sejak masa sekolah, perkuliahan, hingga kiprahnya sebagai penyair yang berani bersuara lewat karyanya.

Selain berangkat dari latar belakang kultur sastra, Rendra juga menekuni dunia pendidikan. Menjadikannya perjalanan membentuk pemikiran dan kesadaran sosial.

Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 7 November 1935. Ia menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) dan melanjutkan ke SMP dan SMK Katolik St. Yosef, Solo.

Setelah lulus SMA, Rendra melanjutkan studi di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1950-an.

Baca Juga:

Bulan Bahasa, Dosen UIN Malang Tegaskan Nilai Lokal Tak Boleh Tergusur Globalisasi

Beberapa puisi yang di bahas dalam sesi ini antara lain ‘Kangen,’ ‘Permintaan,’ dan ‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo.’

Puisi Kangen

Puisi ‘Kangen’ merupakan salah satu karya Rendra yang paling terkenal karena kesederhanaan bahasanya namun sarat makna emosional.

Puisi Permintaan

Puisi ini memiliki keunikan tersendiri, karena tercipta dari permintaan teman-teman dekatnya yang ingin ia menuliskan puisi bertema cinta untuk temannya berikan kepada seseorang.

Puisi ‘Permintaan’ ini termasuk dalam kumpulan Sajak-sajak Cinta karya W.S. Rendra.

“Kenapa Rendra itu menulis puisi-puisi yang sedemikian sederhana namun memiliki makna yang menurut saya sendiri itu luar biasa. Karena diksi-diksi Rendra itu, dalam bahasa kita itu bukan diksi yang menye-menye,” ujar pembicara.

Bedah Karya Penyair dan Dramawan W.S. Rendra dalam 'Festival Kata' UIN Malang 2025
Karya yang dipajang sepanjang dinding acara Festival Kata UIN Malang 2025. (Maulidia Fatimah)

Artinya tidak memaksa sebuah kalimat di tempatkan sedemikian rupa, dan menganggap kalimat itu indah. Sedangkan Rendra menempatkan kalimat sederhana secara tepat, dan tidak memaksa.

“Sederhana sekali bahasanya, kita mudah memahaminya, orang yang membaca akan tersenyum. Nah ini keunggulan-keunggulan dari puisi-puisi Rendra,” lanjutnya.

Aspek-aspek seperti ini akhirnya merubah pandangan pembicara terhadap sebuah karya puisi.

Yang mana berbicara tentang aturan-aturan puisi yang ketat, seperti harus memuat 4 bait 2 baris, dengan rime A-B-A-B.

Puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Berbeda dengan dua puisi sebelumnya, ‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo’ adalah puisi panjang dengan gaya naratif yang kuat.

‘Atmo Karpo’ digambarkan sebagai rakyat miskin yang hidup di lingkungan yang penuh ketidakadilan. Karena ditekan keadaan sosial, ia memberontak, dan perlawanan itu dianggap ancaman oleh penguasa.

Ia diburu dan dituduh sebagai penjahat. Meskipun Atmo Karpo melawan dengan gigih, ia akhirnya terbunuh oleh seseorang yang ternyata menjadi anaknya sendiri, Joko Pandan, menciptakan kehancuran dan penderitaan yang lebih dalam.

Puisi ‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo’ menghadirkan cerita dramatis yang penuh dengan emosi, konflik batin, dan ketegangan.

Melalui simbolisme dan gambaran kuat, W.S. Rendra menciptakan karya yang memprovokasi pemikiran tentang keadilan, pengorbanan, dan kompleksitas konflik manusia.

Meski hujan deras sempat mengguyur kawasan kampus, kegiatan tetap berlangsung lancar selama satu jam berjalan.

Bedah Karya Penyair dan Dramawan W.S. Rendra dalam 'Festival Kata' UIN Malang 2025
Mahasiswa dari berbagai fakultas UIN Malang menghadiri acara Festival Kata. (Maulidia Fatimah)

Para audiens, yang sebagian besar merupakan mahasiswa BSA dan Sastra Inggris, tampak antusias dan menyimak dengan khidmat.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat, dengan berbagai pertanyaan seputar relevansi karya Rendra di era modern dan bagaimana generasi muda dapat belajar dari idealisme sang penyair.

‘Festival Kata’ menjadi ruang penting bagi mahasiswa Humaniora untuk terus menumbuhkan apresiasi terhadap sastra Indonesia dan memperkuat budaya berdiskusi yang kritis serta inspiratif.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *