Forum Sahabat Tunas Hadir di Ponpes Bahrul Maghfirah

Malanginspirasi.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) kembali menggelar Forum Sahabat Tunas: Sesi Anak Hebat Belajar Aturan PP Tunas.

Forum kali ini berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Malang.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi bagi para santri mengenai pentingnya literasi digital dan perlindungan anak di ranah online.

Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Fifi Aleyda Yahya, yang menyampaikan apresiasinya kepada para santri.

Ia menceritakan pengalamannya berkeliling berbagai daerah dan melihat berbagai potensi anak Indonesia.

“Di Yogyakarta, kami bertemu anak-anak yang hebat coding tapi juga masih suka bermain egrang. Di Sukabumi, anak-anak bercocok tanam dan memancing di alam,” ungkapnya pada Selasa (18/11/2025).

Menurutnya, santri di Ponpes Bahrul Maghfiroh juga tidak kalah luar biasa.

Hal pertama yang diperlihatkan kepada rombongan Kemkomdigi adalah Laboratorium Digital dan AI yang menjadi fasilitas pendukung pembelajaran para santri.

“Kalau di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh ini luar biasa. Karena tadi yang pertama kali diperkenalkan adalah Laboratorium Digital dan AI. Laboratorium ini menjadi fasilitas untuk mendukung pembelajaran para santri,” tutur Fifi.

Ia juga menambahkan bahwa media digital sudah menjadi bagian dari kehidupan santri. Dari situ mereka dapat belajar banyak hal melalui video hingga berkarya bersama teman santri lainnya.

“Media digital sudah menjadi bagian dari kehidupan santri. Mereka bisa belajar lewat video, mencari informasi, dan berkarya bersama teman,” tambahnya.

Risiko Dunia Digital
Forum Sahabat Tunas Hadir di Ponpes Bahrul Maghfirah
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Fifi Aleyda Yahya saat memberikan sambutan di Forum Sahabat Tunas. (Riznima Azizah Noer)

Lebih lanjut, Fifi mengingatkan bahwa dunia digital memiliki risiko, terutama bagi anak-anak. Ia mengibaratkan internet sebagai perpustakaan raksasa dengan jutaan buku.

Sebagian berisi ilmu bermanfaat, tetapi ada juga yang belum pantas diakses anak-anak. Karena itulah pemerintah menghadirkan aturan untuk membantu memilih ruang digital yang aman.

Pada Maret lalu, Presiden Prabowo Subianto resmi mengeluarkan PP Tunas, yakni Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Perlindungan Anak di Ranah Digital.

Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang menerapkan aturan ini, setelah Australia.

PP Tunas mewajibkan platform digital untuk memastikan konten berbahaya tidak muncul, menyediakan fitur keamanan, serta memberikan pengaturan sesuai usia pengguna.

“Ini bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi adik-adik. Kami ingin kalian tumbuh sebagai tunas bangsa yang hebat, cerdas, beretika, dan mampu memilah informasi di dunia digital,” tegas Fifi.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan perlindungan anak digital tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan kolaborasi dengan pesantren, sekolah, orang tua, dan anak-anak sendiri.

Sebagai penutup, Fifi percaya bahwa santri Bahrul Maghfiroh merupakan generasi berteknologi yang juga berakhlak mulia dan membawa kebaikan bagi lingkungan.

“Kami percaya bahwa santri di pondok pesantren Bahrul Maghfirah ini bukan hanya generasi yang pandai teknologi. Tetapi juga generasi yang berakhlak mulia, berakhlak kharimah dan membawa kebaikan untuk lingkungan sekitar,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *