Fapet UB Gelar Kuliah Tamu Etnosotografi Soto Kambing Malang, Ungkap Rahasia Warung Legendaris

Malanginspirasi.com – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) menggelar Kuliah Tamu Etnosotografi Studi Soto Kambing Khas Malang.

Di mana studi ini dikemas melalui pemutaran film dokumenter serta diskusi buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas, Seruput Kisah Soto Kambing Malangan.”

Acara berlangsung di Auditorium Gedung 5 Fakultas Peternakan UB dan menghadirkan dua narasumber utama yakni Nedi Putra AW, Jurnalis sekaligus alumni Fapet UB serta Ary Budianto sebagai dosen FIB UB.

Usaha Keluarga

Awalnya Nedi menceritakan pengalamannya selama melakukan riset mengenai warung-warung soto kambing legendaris di Malang. Ia menemukan adanya ikatan keluarga yang kuat di balik kuliner ini.

“Di utara dan selatan Sungai Brantas ada keluarga-keluarga yang ternyata berasal dari sumber yang sama, sehingga resepnya masih relatif serupa. Ini menarik, karena kalau tidak ditulis, kisah ini hanya akan hilang menjadi cerita lisan saja,” ujar Nedi, pada Jumat (21/11/2025).

Fapet UB Gelar Kuliah Tamu Etnosotografi Soto Kambing Malang, Ungkap Rahasia Warung Legendaris Bertahan
Nedi Putra A.W, Jurnalis sekaligus alumni Fapet UB. (Riznima Azizah Noer)

Menurutnya, keberadaan Soto Kambing Malangan juga memperlihatkan bagaimana UMKM keluarga bisa bertahan hingga tiga sampai empat generasi.

Hal ini tidak mudah, karena banyak usaha kuliner yang berhenti pada generasi kedua ketika anak anaknya memilih profesi lain.

“Sekarang kebanyakan usaha F&B berhenti di generasi kedua, alasannya bahwa anak anaknya memilih profesi lain. Tapi di sini, mereka punya loyalitas yang kuat, tetap mempertahankan usahanya,” katanya.

“Pedagangnya loyal pada resep dan tradisi, pelanggan pun jadi loyal. Warung warung itu tidak selalu ramai, tapi selalu ada yang datang,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan alasan penggunaan kata Brantas pada judul buku.

Sungai Brantas, menurutnya, adalah sumber peradaban yang memengaruhi perkembangan seni, budaya, dan usaha para pedagang.

Dari utara Brantas, para penjual soto keliling bisa menjangkau wilayah selatan yang sejak dulu dikenal lebih hidup secara budaya.

“Di Brantas itu selain para penjual soto keliling hingga ke daerah selatan, disana juga terkenal akan prasasti, seni jaranan, wayang, hingga ludruk. Sehingga Brantas ini jadi sumber peradaban yang membuat pedagang juga ingin masuk ke sana,” tambah Nedi.

Kuliner dalam Sosial Budaya

Sementara itu, Ary Budiyanto menekankan pentingnya melihat kuliner dari sudut pandang sosial dan budaya.

Fapet UB Gelar Kuliah Tamu Etnosotografi Soto Kambing Malang, Ungkap Rahasia Warung Legendaris Bertahan
Ary Budianto, dosen Fakultas Ilmu Budaya UB. (Riznima Azizah Noer)

Menurutnya, makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga perjalanan hidup para penjualnya dan konteks masyarakat di sekitarnya.

Kurangnya menceritakan hal tersebut, membuat usaha kuliner lokal di Kota Malang semakin sedikit.

“Sekarang di kota kita banyak makanan Korea atau Jepang. Sedangkan kuliner lokal mulai kehilangan tempat. Tempat-tempat lama seperti di Klojen atau Oro Oro Dowo sudah sering berganti orang orangnya,” ujarnya.

Ary juga menjelaskan bahwa perubahan kebiasaan makan sering dipengaruhi budaya rendah diri dalam masyarakat.

Banyak orang menganggap makanan lokal, seperti telo atau masakan tradisional, sebagai makanan orang miskin.

Padahal, menurutnya, kuliner tersebut justru menyimpan nilai sejarah dan ketahanan pangan.

“Sekarang tuh banyak orang mengamggap bahwa makanan kayak Telo dan lainnya itu makanan orang miskin, entah itu sifatnya rendah diri atau rendah hati. Padahal makanan makanan seperti itu termasuk dalam ketahanan pangan dan menyimpan nilai sejarah yang kuat,” ungkap Ary.

Ia menambahkan apabila perspektif buruk tersebut dilestarikan, maka kuliner lokal akan menghilang.

“Jika tidak kita catat, semua akan hilang. Bahkan menentukan soto mana yang mewakili Indonesia saja masih diperdebatkan. Karena itu generasi muda harus mulai menulis pengalaman dan kenangan kuliner mereka,” tegasnya.

Fapet UB Gelar Kuliah Tamu Etnosotografi Soto Kambing Malang, Ungkap Rahasia Warung Legendaris Bertahan
Buku Semangkuk Lumintu ing Brantas karya Nedi Putra A.W dan Ary Budiyanto. (Nedi Putra)

Nedi dan Ary berharap buku ini dapat menjadi pijakan awal bagi penelitian lintas disiplin di bidang peternakan, budaya, maupun kuliner.

Buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas, Seruput Kisah Soto Kambing Malangan” rencananya akan resmi diluncurkan pada Desember.

Mereka juga mendorong mahasiswa untuk melihat peluang riset dan inovasi dari kuliner lokal.

Termasuk apabila suatu hari ingin membuka usaha soto kambing, mahasiswa dapat jadikan buku tersebut sebagai referensi.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *