Pengukuhan Tiga Profesor UMM, Paparkan Gagasan Ilmiah untuk Masa Depan Indonesia

Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyan Malang (UMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali menambah guru besar bergelar professor pada Sabtu (22/11/2025).

Pada acara pengukuhan guru besar yang diadakan di Basement Dom UMM, kampus secara resmi menganugerahkan jabatan akademik tertinggi kepada tiga dosennya.

Mereka adalah Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd (Bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika), Prof. Dr. Lud Waluyo, M.Kes (Bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan), serta Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M (Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum).

Metode OIDDE
UMM Kukuhkan Tiga Profesor Baru, Paparkan Gagasan Ilmiah Untuk Masa Depan Indonesia
Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha saat memberikan orasi ilmiah mengenai metode pembelajaran yang ia kembangkan. (Riznima Azizah Noer)

Dalam orasinya, Prof. Atok Miftachul Hudha memaparkan model pembelajaran inovatif OIDDE yang ia kembangkan.

Ia menegaskan bahwa model tersebut berpotensi kuat mendukung tujuan pendidikan nasional secara utuh.

“Model pembelajaran OIDDE dirancang agar peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa model pembelajaran tersebut dirancang untuk mendukung tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh.

Mulai dari pembentukan karakter hingga peningkatan literasi sains.

Menurutnya, berbagai riset mahasiswa UMM maupun kampus lain menunjukkan bahwa rendahnya literasi konseptual dan tingginya miskonsepsi.

Serta keterbatasan pedagogi dan teknologi masih menjadi masalah utama dalam pembelajaran biologi.

“Riset menunjukkan masih rendahnya literasi sains dan banyaknya miskonsepsi. OIDDE hadir untuk menjawab problematika pembelajaran biologi di abad global,” tambahnya.

Ia berharap bahwa OIDDE dapat menjadi solusi dalam problematika pembelajaran biologi pada saat ini.

“OIDDE diharapkan menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan konteks sosial dan etika dalam setiap proses pembelajaran,” ujarnya.

Teknologi Biofitoremediator
UMM Kukuhkan Tiga Profesor Baru, Paparkan Gagasan Ilmiah Untuk Masa Depan Indonesia
Prof. Dr. Lud Waluyo saat memberikan orasi ilmiah mengenai teknologi biofitoremediator, (YouTube/UMM)

Sementara itu, Prof. Lud Waluyo mengangkat isu pencemaran lingkungan akibat senyawa xenobiotik yang semakin meningkat.

“Senyawa-senyawa ini tidak dikenali mikroba, sehingga bersifat resisten dan tidak terdegradasi,” jelasnya.

Ia mencontohkan keberadaan logam berat, detergen, plastik, hingga polimer yang semakin mencemari alam.

“Saat ini hujan di Kota Malang saja sudah mengandung mikroplastik hal ini dikarenakan zat zat tersebut yang mencemari lingkungan,” ungkapnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, ia menawarkan teknologi bernama biofitoremediator.

Penelitiannya sejak 1999 telah menghasilkan teknologi “simba” berbasis simbiosis mikroba serta produk mikroorganisme generasi baru.

“Ketika pencemaran meningkat, teknologi harus berkembang. Itu sebabnya kami menghibritkan bakteri hidrotropik dengan tumbuhan air remediator,” tuturnya.

Kurikulum Indonesia Satu
UMM Kukuhkan Tiga Profesor Baru, Paparkan Gagasan Ilmiah Untuk Masa Depan Indonesia
Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi saat memberikan orasi ilmiah mengenai Kurikulum Indonesia Satu yang ia gagas. (Riznima Azizah Noer)

Dalam orasi terakhir, Prof. Moh. Mahfud Effendi memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) yang menempatkan integrasi pengetahuan dan karakter sebagai fondasi utama.

Ia mengajak agar pembelajaran lebih kontekstual dan menyatu dengan berbagai hal.

“Bisa dibayangkan jika fisika dikaitkan dengan seni membatik atau biologi dengan kearifan pertanian lokal,” imbuhnya.

Menurutnya, teknologi seperti AI dan big data merupakan hanya alat bantu manusia menuju jembatan pemerataan, namun tetap yang menentukan arah atau jalannya adalah manusia.

“Teknologi hanyalah alat, arah tetap ditentukan manusianya,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa pengajar perlu memiliki keberanian dalam merancang kurikulum yang mumpuni, hingga KIS menjadi peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.

“Kita memerlukan keberanian intelektual untuk merancang kurikulum yang mumpuni,
yang memenuhi keberagaman, sekaligus menegaskan persatuan, yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, tengah derasnya arus teknologi. Inilah Kurikulum Indonesia Satu, Kurikulum yang memanusiakan manusia, menyatukan bangsa, dan menuntun Indonesia menuju emas,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *