Malanginspirasi.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi tuan rumah Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren, Senin (24/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri pimpinan pesantren, akademisi, dan perwakilan Kementerian Agama sebagai ruang penyamaan arah penguatan pesantren di Indonesia.
Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menegaskan bahwa halaqah merupakan momentum penting untuk memperkuat pesantren dari sisi kelembagaan.
“Halaqah adalah ruang untuk menyatukan pandangan, merumuskan strategi, dan memperkuat kapasitas pesantren,” ujarnya.
Sruji menjelaskan bahwa pemerintah kini memperluas skema pendanaan bagi pesantren untuk mendukung penguatan program dan sarana prasarana yang lebih layak.
“Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pesantren sangat dibutuhkan agar pesantren mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan tradisi keilmuannya,” tegasnya.

Tantangan Kompleks
Rektor UIN Malang, Ilfi Nur Diana, dalam pemaparannya menyebut bahwa dunia pesantren kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dibanding sebelumnya.
Baik dari sisi internal maupun eksternal.
Ilfi menjelaskan bahwa kebutuhan santri generasi Z mendorong pesantren untuk menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan.
“Secara internal, tantangannya adalah kurikulum yang memadai bagi Gen Z saat ini. Santri harus siap bekerja bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu, fasilitas harus aman dan nyaman, sanitasi serta air bersih terpenuhi, dan santri sehat baik fisik maupun psikis,” ujarnya.
Selain kurikulum, faktor fasilitas juga menjadi syarat mutlak untuk menjaga kualitas pembelajaran.
Ia menekankan bahwa sanitasi, ketersediaan air bersih, keamanan lingkungan, serta kesehatan fisik dan mental santri harus menjadi perhatian utama pesantren.
Ilfi juga menyoroti tantangan eksternal yang mengharuskan pesantren lebih responsif terhadap perkembangan zaman.
Baca Juga:
Malam Puncak Dies Maulidiyah ke-64, UIN Malang Gelar Istighotsah dan Pengajian Akbar
“Masyarakat menuntut keseimbangan antara tradisi pesantren dan modernisasi. Adaptasi terhadap teknologi dan digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan,” jelasnya.
Menurutnya, pesantren juga diharapkan berperan dalam mengurangi angka pengangguran dengan membekali santri keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Hal ini menuntut model pembelajaran yang lebih kreatif dan terbuka tanpa meninggalkan karakter khas pesantren.
Ia menegaskan bahwa modernisasi dapat berjalan selaras dengan tradisi jika dikelola dengan tepat, terutama untuk memperkuat peradaban pesantren di era digital.
Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren memerlukan sinergi dengan berbagai pihak dalam proses transformasinya.
Karena itu, kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi menjadi semakin strategis dalam memperkuat kapasitas kelembagaan.

Program Pendampingan
Sebagai perguruan tinggi yang terlibat dalam pengembangan pesantren, UIN Malang menyiapkan tiga program pendampingan prioritas.
Di mana sejalan dengan penguatan kelembagaan yang sejalan dengan agenda Pendirian Direktorat Jenderal Pendidikan Pesantren, yaitu:
• Manajemen Konstruksi
• Penguatan Ekoteologi Ramah Lingkungan
• Pendampingan Psikososial Santri
Program tersebut disiapkan untuk menjawab kebutuhan penguatan pesantren yang semakin kompleks, terutama di bidang teknis, lingkungan, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kami siapkan mahasiswa dan dosen dari teknik lingkungan dan arsitektur untuk turun memberikan pendampingan ke pesantren yang memerlukan evaluasi sarpras. Selain itu, pendampingan konseling bagi para santri dan guru-guru,” kata Ilfi.
Halaqah ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pesantren.
Gunanya dalam membangun arah baru pendidikan Islam yang adaptif, aman, dan berkualitas.








