Malanginspirasi.com – Fakultas Psikologi Universitas Merdeka (UNMER) Malang menggelar PoPsy Festival 2025 (Positive Psychology Festival). Sebuah acara perdana yang bertujuan mengkampanyekan pentingnya psikologi positif kepada mahasiswa dan masyarakat umum.
Acara yang diadakan di Fakultas Psikologi ini menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa Mata Kuliah Psikologi Positif, yang melibatkan sekitar 200 mahasiswa dari enam kelas.
Festival ini menghadirkan berbagai aktivitas menarik seperti fun games, role playing, entertaining practice, journaling, hingga gratitude wall dan bilik harapan. Semuanya dirancang untuk menggali sisi positif dalam diri manusia.
Kegiatan ini sepenuhnya gratis dan dibuka untuk publik, sehingga pengunjung dapat berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa hingga keluarga serta anak anak PAUD.
Sinergi Mengubah Pandangan
Dosen pengampu Mata Kuliah Psikologi Positif, Al Thuba Septa Priyanggasari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa acara ini lahir dari keinginan untuk mengubah pandangan masyarakat tentang psikologi.

Selama ini, banyak yang menganggap psikologi identik dengan isu depresi, kecemasan, atau masalah klinis lainnya. Namun, menurutnya, psikologi tidak melulu berkutat pada hal negatif.
“Psikologi itu juga ada aliran positive psychology, yang menekankan bahwa setiap manusia memiliki trait positif dalam dirinya. Kalau potensi itu tidak digali, tidak akan terlihat, jadi tidak melulu yang berkaitan dengan negatif,” ujarnya pada Selasa (9/12/2025).
Ia menambahkan bahwa berbagai aktivitas di PoPsy Festival seperti gratitude wall dan bilik harapan sebenarnya membantu pengunjung menyadari aspek positif yang sudah ada dalam diri mereka.
Tetapi sering terabaikan karena terlalu fokus pada hal hal negatif.
Baca Juga:
Gelar Market Day, 48 Stand Mahasiswa Psikologi UNMER Tampilkan Kreativitas dan Jiwa Wirausaha
Al juga menekankan bahwa festival ini sangat relevan bagi mahasiswa karena langsung menghubungkan teori psikologi positif dengan praktik lapangan.
Mahasiswa mempelajari konsep seperti mindfulness, self love, optimisme, dan harapan.
Lalu menerapkannya dalam bentuk aktivitas atau mini treatment yang memiliki dampak positif terhadap pengunjung.
Menariknya, karya karya mahasiswa psikologi ini tidak dikompetisikan. Menurut Al, setiap karya yang lahir dari kreativitas dan kerja keras, sehingga semuanya dihargai tanpa harus dibandingkan.
“Ini tidak kami kompetisikan ya, kami sangat menghargai karya karya mahasiswa. Ternyata acara ini di luar ekspektasi kami. Mahasiswa effort banget dan benar benar memaknai mata kuliah ini dalam bentuk aktivitas yang punya impact positif,” katanya.
Antusiasme Besar

Sebagai proyek perdana, PoPsy Festival mendapat antusiasme besar. Bahkan, anak anak PAUD turut diundang dan terlihat menikmati suasana penuh positive vibes yang dihadirkan oleh para mahasiswa.
Persiapan acara ini dilakukan cukup singkat oleh panitia inti, yaitu hanya dalam waktu lima hari sebelum pelaksanaan.
Meski begitu, festival berlangsung lancar karena seluruh mahasiswa peserta mata kuliah berperan sebagai pengisi tenant sesuai kreativitas masing masing.
Untuk kedepannya, ia berharap PoPsy Festival dapat menjadi agenda tahunan.
Selain menyebarkan kampanye psikologi positif secara lebih luas.
Pihak dosen juga menargetkan untuk menghasilkan artikel ilmiah dari data yang terkumpul selama acara, seperti temuan dari gratitude wall atau aktivitas lainnya.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya selesai sebagai event saja, tetapi menghasilkan sesuatu yang bisa disebarkan kembali, misalnya tulisan ilmiah. Semoga tahun depan bisa kami lanjutkan lagi,” tutup Al.
Dengan antusiasme besar dari mahasiswa dan pengunjung, PoPsy Festival 2025 menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam memperkenalkan psikologi positif ke masyarakat luas.
Serta memperkuat pemahaman bahwa setiap individu memiliki potensi baik untuk tumbuh dan berkembang.








