Malanginspirasi.com – Inovasi teknologi tidak harus datang dari industri besar, kreativitas siswa sekolah menengah pun mampu menjawab tantangan masa kini. Hal ini dibuktikan oleh para siswa SMP Muhammadiyah 2 Inovasi Kota Malang yang berhasil menciptakan dua alat cerdas. Diantaranya bak sampah otomatis dan alat pengukur tinggi badan digital.
Karya inovatif ini dipamerkan dalam ajang pameran pendidikan yang berlangsung meriah di area Amphitheater 2, Lantai 5, Malang Creative Center (MCC).
Demonstrasi Produk
Di hadapan para pengunjung, Gatya bersama timnya dari kelas teknologi mendemonstrasikan bagaimana perangkat elektronik sederhana dapat diubah menjadi solusi praktis sehari-hari.
Gatya menjelaskan bahwa pengembangan alat ini bermula dari tugas sekolah yang memicu rasa penasaran mereka terhadap dunia robotika dan pemrograman.

Komponen utama yang mereka gunakan meliputi Arduino Uno sebagai “otak” pengontrol, sensor ultrasonik HC-SR04, motor servo, dan layar LCD.
“Cara kerjanya sederhana namun efektif. Pada bak sampah otomatis, sensor akan mendeteksi objek dalam jarak di bawah 10 hingga 15 cm. Begitu ada tangan yang mendekat, Arduino memerintahkan motor servo untuk membuka tutup sampah secara otomatis,” ujar Gatya.
Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan higienitas di tempat umum.
Dengan sistem nirkontak (touchless), pengguna tidak perlu menyentuh tutup bak sampah secara langsung, sehingga meminimalisir penyebaran kuman dan bakteri.
“Biar lebih gampang buang sampahnya, jadi orang tidak perlu mendorong atau menyentuh tutupnya,” tambahnya.
Selain bak sampah, tim ini juga memamerkan alat pengukur tinggi badan otomatis.
Berbeda dengan penggaris manual, alat ini menggunakan gelombang suara untuk menentukan posisi kepala seseorang.

Data yang ditangkap sensor kemudian diproses secara real-time dan hasilnya ditampilkan langsung pada layar LCD.
Meski demikian, Gatya mengakui adanya tantangan teknis dalam pengembangan alat ini.
“Sensor ultrasonik cukup sensitif terhadap kondisi udara dan cahaya di sekitar, sehingga ada toleransi pengukuran sekitar 2 hingga 3 sentimeter,” jelasnya secara teknis.
Presentasi yang ditutup dengan tepuk tangan meriah dari hadirin ini bukan sekadar pameran hasil akhir, melainkan pembuktian proses belajar.
Baca Juga:
Para siswa tidak hanya belajar merangkai kabel pada breadboard, tetapi juga mendalami logika algoritma dan bahasa pemrograman koding.
Bagi para siswa SMP Muhammadiyah 2 Inovasi, proyek ini adalah langkah awal untuk mendalami teknologi lebih jauh.
Mereka berharap karya ini dapat menginspirasi teman sebaya bahwa teknologi bukan hanya untuk dimainkan, tetapi untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang membanggakan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.








