Malanginspirasi.com – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam (IAI) Sunan Kalijogo Malang secara resmi mengintegrasikan penguatan moderasi beragama ke dalam seluruh aspek akademik.
Langkah ini diambil sebagai strategi prodi dalam membekali mahasiswa menghadapi tantangan dakwah di era digital.
Ketua Program Studi KPI, Muhammad Hamdan Yuwafik, M.Sos., menjelaskan bahwa materi moderasi kini bukan lagi sekadar suplemen, melainkan bagian inti dari pembelajaran.
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara seminar Penguatan Moderasi Beragama yang digelar di Aula Kampus IAI Sunan Kalijogo, Jabung, lantai 2.
”Yang sudah prodi KPI laksanakan selama ini yaitu mencantumkan khusus materi penguatan moderasi beragama dalam kegiatan pembelajaran,” katanya.

“Jadi di setiap mata kuliah, di pertengahan pertemuan itu pasti ada penyampaian materi tentang moderasi beragama. Entah tentang konsepnya, teorinya, maupun indikatornya,” ujar Hamdan.
Penguatan Krusial
Menurutnya, penguatan ini krusial mengingat bidang keilmuan KPI bersentuhan langsung dengan dakwah dan penyiaran.
Ia khawatir tanpa pemahaman yang inklusif, lulusan KPI justru berpotensi memicu ketegangan di masyarakat.
”Lulusan KPI ini kalau tidak diberikan keilmuan tentang moderasi beragama. Nanti takutnya ketika menyiarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat malah menjadi pendakwah yang ekstrem,” terang Hamdan.
“Agar mereka menjadi pendakwah yang moderat, bisa memahami keadaan masyarakat, bisa menyampaikan dakwah yang moderat juga,” tegasnya.
Selain di kelas, penguatan ini juga menyasar pada kemampuan produksi konten mahasiswa. Hamdan menyoroti fenomena tsunami informasi yang seringkali memicu perpecahan.

Mahasiswa diarahkan untuk menggunakan media sosial sebagai alat pemersatu.
”Di tengah tsunami informasi yang begitu masif, kawan-kawan kita latih untuk membuat konten-konten yang kiranya bisa mempersatukan perbedaan yang ada di Indonesia,” ujarnya.
“Bukan malah memecah belah, tapi kita membimbing mahasiswa agar bisa produksi konten. Baik di Instagram, Website, maupun di media sosial lainnya,” imbuh Hamdan.
Tekankan Isu Keberagaman
Dalam hal teknis jurnalistik, prodi juga menekankan pentingnya sensitivitas terhadap isu keberagaman.
Setiap produk pemberitaan yang dihasilkan mahasiswa wajib melewati pertimbangan SOP yang ketat agar tidak bias.
”Kawan-kawan dimohon membuat berita yang notabennya bisa diterima semua kalangan. Jadi tidak memberatkan satu sisi saja, pokoknya harus moderat di semua produk pemberitaan,” jelasnya lagi.

Upaya ini merupakan bagian dari visi besar prodi untuk menjadi pusat pendidikan insan yang moderat pada tahun 2037.
Sebagai penutup, Hamdan memberikan pesan mendalam kepada para mahasiswa yang hadir.
”Pesan untuk mahasiswa KPI, mari kita menjadi insan yang bisa menjadi penerang, menjadi penyebar rahmat untuk semua agama, wabil khusus untuk umat Islam. Dan jangan kita menjadi api, tapi ayo kita menjadi mentari yang bisa menyinari semuanya dan menjadi penerang untuk semua masyarakat,” pungkasnya.








