Malanginspirasi.com – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Angkatan 2024 Universitas Islam Malang (UNISMA) sukses menggelar perhelatan budaya bertajuk ‘Kereta Sastra.’
Acara yang mengusung tema Melihat Sastra dari Pandangan Gen-Z ini berlangsung meriah di Ruang Seminar KH. Hasyim Asy’ari, Gedung B Lantai 7 UNISMA, pada Rabu (07/01/2026).
Gebrakan Baru PBSI UNISMA
Kegiatan ini menjadi gebrakan baru di lingkungan kampus.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada aspek keprotokolan, angkatan kali ini memilih untuk kembali ke akar keilmuan mereka. Yakni sastra murni yang dikemas secara modern.
Ketua Pelaksana ‘Kereta Sastra,’ Ahmad Falah Al Ansori, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini didasari atas keprihatinan mahasiswa.
Terutama terhadap eksistensi sastra yang mulai dianggap redup di mata generasi muda.

Dengan mengundang siswa SMA sebagai representasi Gen-Z, panitia berharap sastra dapat kembali dikenal dan dicintai.
”Kami melihat semakin tahun sastra agak mulai redup. Melalui pandangan Gen-Z ini, kami ingin menunjukkan apa yang membuat sastra masih tetap hidup hingga sekarang,” katanya.
“Nama ‘Kereta Sastra’ sendiri filosofinya adalah kereta memiliki banyak gerbong, sama halnya dengan sastra yang memiliki banyak cabang,” ujar Falah saat ditemui di sela-sela acara.
Falah mengakui bahwa tantangan terbesar dalam menyelenggarakan acara ini adalah aspek publikasi dan inovasi acara.
“Kami dituntut untuk melakukan publikasi yang menarik dan menyusun rundown yang segar agar tidak monoton seperti acara-acara sebelumnya,” tambahnya.

Upaya tersebut terbukti berhasil dengan membludaknya jumlah peserta. Tercatat, hampir 100 peserta hadir, melampaui target awal sebanyak 80 orang.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Keprotokolan, Itznaniyah Umie Murniatie, M.Pd., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif mahasiswa ini.
Menurutnya, program studi berperan sebagai fasilitator yang memberikan kebebasan ekspresi bagi mahasiswa untuk bereksperimen.
”Saya melihat adanya keberanian bereksperimen tanpa meninggalkan ruh sastra. Esensi sastra sebagai ruang refleksi, kritik sosial, dan ekspresi kemanusiaan hadir dengan kuat dan relevan dengan konteks generasi mereka,” ungkap Itznaniyah.
Sarana Pembelajaran Kontekstual

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa acara ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas.
Tetapi juga melatih kepemimpinan, komunikasi publik, dan manajemen kegiatan yang nyata.
“Tujuan utama acara ini adalah menghadirkan sastra sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi akademik. Merawat sastra berarti merawat identitas, dan itu dimulai dari keberanian untuk terus berkarya,” tegasnya.

Acara yang menghadirkan penggiat sastra anak, Mbak Upik, sebagai salah satu narasumber ini memberikan berbagai manfaat bagi peserta.
Mulai dari ilmu yang bermanfaat, relasi baru, sertifikat, hingga cinderamata.
Melalui ‘Kereta Sastra,’ diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal dan melihat bagaimana sastra berkembang dinamis di era Gen-Z.








