Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) menegaskan peran strategisnya sebagai penjaga nilai-nilai budaya. Sekaligus penggerak transformasi sosial berbasis humaniora dalam Universitas Brawijaya Education Expo 2026.
Dalam sesi presentasi yang interaktif, perwakilan dosen, Luthfi Fatayatus Azwa dan Fauzi Syam Mas’udi, menjelaskan peran strategis FIB UB di dunia pendidikan.
Dalam melestarikan budaya lokal, serta mendukung pembangunan masyarakat berbasis kreativitas dan inovasi digital.
Profil Fakultas dan Program Studi
FIB UB memiliki visi menjadi fakultas unggul dan bermartabat di tingkat internasional dalam bidang bahasa dan budaya, serta mendukung pengembangan industri kreatif berbasis budaya.
Visi ini diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan kebutuhan sosial dan dinamika global.
FIB UB memiliki 10 program studi, terbagi dalam tiga departemen:
1. Departemen Bahasa dan Sastra
• Sastra Inggris (kelas internasional)
• Sastra Jepang (kelas internasional)
• Bahasa dan Sastra Perancis (kelas internasional, program double degree di Perancis)
• Sastra Cina (kelas internasional, program double degree di Beijing Foreign Studies University)
2. Departemen Pendidikan Bahasa
• Pendidikan Bahasa Inggris
• Pendidikan Bahasa Jepang
• Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
3. Departemen Seni dan Antropologi
• Antropologi
• Seni Rupa

Selain itu, FIB UB juga memiliki program Magister (S2) Linguistik dengan opsi fast track bagi lulusan S1.
Semua program studi FIB telah terakreditasi Unggul oleh BAN-PT dan terakreditasi internasional AQAS (Agency for Quality Assurance through Accreditation of Study Programmes).
Menunjukkan standar pendidikan yang setara dengan institusi global.
Peran dalam Pelestarian Budaya dan Masyarakat
Selain unggul dalam pendidikan, FIB UB menekankan kontribusi nyata terhadap masyarakat melalui berbagai program kolaboratif.
Baik dengan pemerintah daerah maupun lembaga nasional dan internasional.
Salah satu implementasi konkret dilakukan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diarahkan untuk memetakan.
Juga mendokumentasikan serta mengembangkan potensi budaya lokal di wilayah Malang Raya.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi terjun langsung ke desa-desa untuk mendampingi masyarakat. Mengidentifikasi kebutuhan budaya lokal, dan membantu melestarikannya melalui pendekatan ilmiah dan digital,” jelas Fauzi.
Jalin Kerja Sama Aktif dengan Pemerintah
Selain itu, FIB UB juga aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Serta berpartisipasi dalam program internasional seperti International Workshop Station yang berfokus pada pemetaan industri lokal berbasis budaya. Mulai dari kerajinan batik hingga topeng Malangan.
Keunggulan FIB UB dalam pelestarian budaya juga diperkuat melalui pendirian Rumah Budaya Indonesia di dua universitas di Tiongkok.
Yakni Guangxi Normal University dan Tianjin Foreign Studies University.
Inisiatif ini menjadi bukti komitmen Universitas Brawijaya dalam mempromosikan budaya Indonesia di tingkat global.
“Melalui Rumah Budaya Indonesia, kami tidak hanya memperkenalkan bahasa dan seni, tetapi juga nilai-nilai budaya Indonesia kepada dunia internasional,” tambahnya.

Dalam menghadapi era digital, FIB UB mengintegrasikan digital humanities sebagai pusat keunggulan.
“Jadi kami ingin mengembangkan riset-riset dan juga pengabdian masyarakat di Jawa Timur. Kami menggali budaya lokal berdasarkan data-data yang autentik. Kami kembangkan sehingga nanti bisa diekspos secara global,” ujar Fauzi.
Pusat Kaji Bahasa, Budaya, dan Karakter
Selain itu, FIB UB hadir bukan hanya sebagai pusat kajian bahasa dan budaya, tetapi juga sebagai pondasi karakter dan kebudayaan universitas yang berperan langsung di tengah masyarakat.
“Digitalisasi tanpa budaya itu seperti pembangunan tanpa karakter. Karena itu, posisi Fakultas Ilmu Budaya sangat penting untuk memastikan perkembangan teknologi tetap. Berlandaskan nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” ujar Luthfi.
Digitalisasi budaya dilakukan melalui dokumentasi digital, riset berbasis data, serta pengemasan konten budaya dalam bentuk kreatif seperti media sosial, film, dan platform digital lainnya.
“Budaya tidak harus ditinggalkan demi modernitas. Justru dengan digitalisasi, budaya bisa hidup berdampingan dengan zaman dan menjadi sumber ekonomi kreatif,” ungkap Fauzi.
Artikel Terkait:
Pertama Kali Digelar di Kampus, UB Education Expo 2026 Diserbu 20 Ribu Pengunjung
Melalui pendekatan tersebut, lulusan FIB UB dipersiapkan untuk menjadi tenaga profesional yang berkompeten di bidang humaniora dan budaya.
Dengan kemampuan kebahasaan yang mumpuni, wawasan global, jiwa kewirausahaan, dan kepekaan budaya.
Prospek Alumni
Prospek lulusan meliputi:
• Wirausaha dan pengembang industri kreatif (content creator, content writer, digital marketing)
• Pendidik atau guru bahasa dan budaya
• Penerjemah profesional
• Arsiparis dan konsultan sosial-budaya
• Praktisi antropologi dalam pemerintah daerah atau perusahaan
Khusus Program Studi Antropologi, lulusan diarahkan untuk berkontribusi dalam perencanaan kebijakan publik, pendampingan masyarakat, serta pengembangan program sosial yang berkelanjutan.
Contoh nyata implementasi kompetensi lulusan terlihat dari mahasiswa Sastra Jepang dan Sastra Cina yang direkrut perusahaan Jepang setelah mengikuti program magang.
Selain itu, FIB UB terus meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui kerja sama dengan institusi dalam dan luar negeri.
Menghadirkan native speaker di setiap program studi bahasa asing, serta menyediakan fasilitas belajar yang lengkap.
Diantaranya fasilitas ramah disabilitas, pusat literasi, co-working space, serta ruang seni dan budaya.
FIB UB menegaskan komitmennya sebagai fakultas inklusif yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.








