Malanginspirasi.com – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) berkiprah di tingkat internasional lewat Research Exchange Program yang difasilitasi oleh Department of Research Exchange (DORE) di bawah naungan Medical Students’ Committee for International Affairs (MSCIA) UB.
Program ini merupakan kerja sama dengan jaringan internasional IFMSA Standing Committee on Research Exchange (SCORE).
Research Exchange Program ini memberikan kesempatan untuk mahasiswa kedokteran mengikuti pertukaran penelitian di berbagai institusi akademik luar negeri.
Peserta menjalani kegiatan riset selama sekitar satu bulan dengan bimbingan dosen atau peneliti dari universitas tujuan delama mengikuti program,
Pada 2025 lalu, program ini melibatkan mahasiswa FK UB dalam kegiatan outbound research exchange ke sejumlah negara, antara lain Rumania (Cluj-Napoca dan Iasi), Portugal (Lisbon), serta Mesir (Benha).
Empat mahasiswa FK UB yang mengikuti program outbound tersebut adalah Jefta Amaziabel Simamora, Gracia Siregar, Jihan Tabina Salma, dan Jennifer Angelina Kotambunan.
Selain itu, jumlah peserta program research exchange dari FK UB setiap tahunnya dapat berbeda karena pelaksanaannya dibagi dalam beberapa batch.
Gelombang Keberangkatan Mahasiswa
Ketua MSCIA UB, Rhaina Chandra Mahira, menyampaikan pada tahun ini terdapat beberapa gelombang keberangkatan mahasiswa.
“Perkiraan pada bulan Juli ada sekitar 8 mahasiswa yang berangkat, kemudian pada Agustus sekitar 2 mahasiswa. Setiap batch bisa berbeda jumlahnya karena program ini berlangsung setiap tahun dan menyesuaikan dengan kesempatan yang tersedia di negara tujuan,” ujarnya.
Selama mengikuti program, mahasiswa mendapatkan pengalaman riset langsung di berbagai institusi dan rumah sakit pendidikan internasional.
Oeserta menjalani penelitian di Gulbenkian Institute for Molecular Medicine (GIMM) di Portugal bertopik Synthetic Lethality in Cancer.
Fokusnya adalah pada riset molekuler serta analisis ilmiah berbasis laboratorium.
Rhaina menjelaskan bahwa program ini menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat kemampuan riset sekaligus mengembangkan wawasan global dalam bidang kesehatan.
“Dalam program ini, mahasiswa melakukan riset sesuai bidang kedokteran yang dipilih dan dibimbing oleh dosen atau peneliti di universitas negara tujuan. Sebagai calon dokter, mahasiswa tidak hanya perlu memiliki keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan riset serta kemampuan beradaptasi di lingkungan akademik yang berbeda,” jelas Rhaina.
Mahasiswa yang mengikuti program di Rumania terlibat dalam penelitian di bidang Gastroenterologi, Hepatologi, serta Metabolic-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD).
Mereka juga berkesempatan mengamati berbagai prosedur klinis seperti endoskopi, kolonoskopi, dan fibroscan.
Baca Juga:
Kuliah Tamu di Fakultas Vokasi UB Bersama Wamen Pariwisata Bahas Peningkatan Daya Saing
Sementara di Mesir, mahasiswa menjalani penelitian di departemen Oftalmologi, dengan aktivitas observasi tindakan klinis termasuk operasi katarak serta analisis data klinis untuk penyusunan abstrak penelitian.
Selain kegiatan akademik, peserta juga mengikuti berbagai program sosial dan budaya yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa setempat.
“Kegiatan utama mahasiswa adalah menjalani riset bersama dosen atau peneliti di laboratorium, klinik, atau rumah sakit. Selain itu, mereka juga didampingi oleh anggota IFMSA di negara tujuan dan sering mengikuti kegiatan cultural exchange untuk mengenal budaya setempat,” tambah Rhaina.
MSCIA UB berafiliasi dengan CIMSA Indonesia dan IFMSA yang memiliki jaringan luas di berbagai negara.
Lewat jaringan tersebut, organisasi ini berperan dalam memperkenalkan sekaligus memfasilitasi mahasiswa FK UB untuk mengikuti program research exchange internasional.
Manfaat Besar Research Exchange International
Selain membantu proses seleksi, MSCIA UB juga memberikan pembekalan sebelum keberangkatan (pre-departure training), pendampingan administrasi, hingga monitoring selama program berlangsung.
Menurut Rhaina, program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik bagi mahasiswa, tetapi juga berdampak pada penguatan budaya riset di lingkungan kampus.
“Melalui pengalaman melakukan penelitian di lingkungan internasional, mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, metodologi penelitian, serta kolaborasi lintas budaya. Pengalaman tersebut juga diharapkan dapat dibagikan kepada mahasiswa lainnya sehingga dapat mendorong berkembangnya budaya riset di lingkungan FK UB,” jelasnya.
Salah satu peserta program, Jihan Tabina Salma, mahasiswa FK UB angkatan 2022 yang mengikuti research exchange di Benha University, Mesir, mengungkapkan pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai praktik kedokteran di tingkat global.
Ia melakukan observasi klinis di Departemen Oftalmologi, termasuk mengikuti proses diagnosis, penatalaksanaan pasien, hingga menyaksikan berbagai prosedur operasi mata seperti operasi katarak selama program berlangsung.
Jihan berujar pengalaman exchange tidak hanya memperkaya keterampilan akademik, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai praktik pelayanan kesehatan di berbagai negara.
“Melalui program ini saya menyadari bahwa menjadi dokter tidak hanya tentang keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi lintas budaya. Melihat langsung bagaimana pelayanan kesehatan dilakukan di Mesir membuka wawasan saya bahwa pendekatan medis dapat berbeda-beda tergantung latar belakang pasien dan sistem kesehatan yang berlaku,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan pengalaman tersebut semakin memotivasi dirinya untuk terus mengembangkan diri di bidang riset dan kolaborasi internasional.
“Exchange ini membuat saya semakin terdorong untuk terus belajar, memperluas wawasan, serta mengeksplorasi dunia riset global agar nantinya dapat berkontribusi lebih besar dalam bidang kesehatan,” tambah Jihan.







