Malanginspirasi.com – Sekolah Dasar (SD) Taman Harapan Malang tetap mendorong siswa kelas 6 SD mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) meski bersifat tidak wajib.
Guru kelas 6, Heni Widiastuti S.Pd, melakukan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan, terutama dalam hal literasi dan numerasi.
“Para siswa menghadapi banyak latihan soal, dan juga mengikuti beragam try out selain upaya guru memasukkan materi TKA ke dalam mapel utama yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika,” katanya kepada wartawan Malang Inspirasi.

Menurut Heni, para siswa belajar banyak terkait pemecahan masalah atau problem solving dan juga bedah soal serta diskusi.
“Kami memberikan pelajaran tambahan juga untuk memperdalam materi TKA. Bahkan untuk jam pelajaran tertentu yang materinya sudah cukup, jam pelajaran tersebut diisi materi TKA,” sambungnya.
Guru juga memasukkan materi TKA ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Dengan cara ini, siswa tidak merasa terbebani oleh materi tambahan yang terpisah.
Baca Juga:
Siapkan TKA Secara Matang, Guru Kelas 6 SDN Purwantoro 4 Malang Ini Punya Cara Jitu
Sebaliknya, mereka terbiasa menghadapi tipe soal TKA dalam suasana belajar yang sudah familiar.
Namun demikian, Heni mengatakan bahwa dalam hal pemahaman literasi dan numerasi, para siswa masih harus mendapatkan dorongan lebih tinggi.
Apalagi,TKA tidak bersifat wajib meski pihak sekolah memastikan seluruh siswa kelas 6 tetap berpartisipasi.
Kebijakan ini adalah membangun budaya akademik yang konsisten, sekaligus melatih kesiapan siswa menghadapi tes di jenjang pendidikan selanjutnya.
Pasalnya, TKA kerap dianggap sebagai tes untuk mendaftar ke sekolah negeri.
“Mereka memiliki mindset bahwa TKA hanya untuk siswa yang hendak mau melanjutkan ke SMP Negeri. Sementara mayoritas murid telah mendaftar ke SMP swasta jauh-jauh hari,” lanjutnya.
Tetapi, Heni memastikan bahwa semua siswa berpartisipasi dalam TKA di SD Taman Harapan yang akan berlangsung pada 22 dan 23 April tersebut.
“Tantangan lainnya adalah siswa cenderung membaca soal secara sekilas dan kurang cermat. Mereka sering keliru dalam menjawab meskipun sebenarnya mampu setelah mendapatkan pengarahan,” kata Heni.







