Malanginspirasi.com – Hujan deras yang mengguyur kawasan sekitar Jl. Gatot Subroto pada Minggu (23/11/2023) memicu tanah longsor.
Hal ini mengakibatkan struktur Jembatan Brantas di sisi dekat Kampung Tridi ambrol.
Material longsor menerjang permukiman warga dan menyebabkan kerusakan pada total 19 rumah dengan 62 jiwa terdampak.
Kilas Balik
Hujan berintensitas tinggi mulai turun sekitar pukul 17.00 WIB.
Satu jam berikutnya, warga melaporkan adanya luapan air bercampur lumpur yang memasuki rumah-rumah di radius kurang lebih 50 meter dari lokasi tebing.

Amblesnya struktur jembatan membuat material tanah, batu, dan lumpur merosot ke kawasan permukiman di RT 01 dan RT 02 Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing.
Di RT 01, sebanyak 15 rumah rusak dengan 13 kategori ringan dan 2 kategori sedang. Sementara di RT 02, empat rumah mengalami intrusi lumpur.
Salah satu warga terdampak, Dasuki, menjelaskan bahwa suara amblesan terdengar sangat keras sesaat sebelum material longsor menimpa bagian belakang rumahnya.
“Saya kira datangnya mendadak dari atas. ‘Groto-groto’ itu saya kira kecelakaan mobil. Tiba-tiba langsung nabrak rumah saya. Suaranya keras sekali,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan yang dialaminya jauh lebih parah dibandingkan kejadian banjir yang sebelumnya pernah terjadi.
“Tembok belakang jebol semua, lemari hancur. Saya tinggal di sini sudah 30 tahun, baru kali ini kejadian separah ini,” sambungnya.
Pada malam kejadian, Dasuki dan istrinya segera menyelamatkan diri dengan bantuan warga sekitar dan mengungsi di rumah tetangga yang kosong.
Tinjau Lokasi

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meninjau lokasi kejadian bersama jajaran pemerintah, termasuk personel dari Dinas Perhubungan Kota Malang serta aparat kepolisian, pada pukul 10.17 WIB.
Rombongan kemudian mengobservasi langsung permukiman terdampak di Kampung Tridi.
Dalam keterangannya, Wali Kota menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jembatan dan sistem drainase di kawasan tersebut.
“Kejadian ini tidak bisa dilihat hanya dari hasil akhirnya. Ada beberapa permasalahan di bagian atas, termasuk genangan air yang tidak teralirkan dengan baik serta struktur lama yang mulai melemah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti adanya penutupan jalur air oleh warga melalui peninggian kosmik secara swadaya, yang menyebabkan air menggenang dan memperburuk kondisi.
Pemerintah Kota akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan Balai Besar Jalan Nasional untuk penanganan darurat dalam satu hingga dua minggu ke depan, sekaligus pembenahan jangka panjang.
Selain itu, Wali Kota mengungkapkan adanya resapan air dari perbaikan jalan serta paving di bagian atas yang secara perlahan mengikis tanah di bawah jembatan.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar tanah di lokasi longsor merupakan aset milik PT KAI, sementara Jembatan Brantas merupakan bagian dari jaringan Jalan Nasional.
Penetapan Pembatasan Jalur

Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menyampaikan bahwa pembatasan jalur telah diterapkan sebagai langkah awal pengamanan.
“Kami melakukan pembatasan lajur dari dua menjadi satu pada masing-masing arah. Untuk rekayasa lanjutan, kami masih menunggu rekomendasi teknis dari Balai Besar Jalan Nasional,” ujarnya.
Pembatasan diberlakukan demi mencegah getaran kendaraan yang berpotensi memperburuk stabilitas struktur jembatan.
Data Dampak Kerusakan
• Total rumah terdampak: 19
• RT 01: 15 rumah (13 rusak ringan, 2 rusak sedang)
• RT 02: 4 rumah terdampak lumpur
• Total jiwa terdampak: 62 orang

Bantuan darurat telah disalurkan oleh BPBD Kota Malang, Baznas Kota Malang, serta perangkat kelurahan.
Pemerintah Kota memastikan bahwa solusi hunian sementara akan disiapkan, sekaligus mendukung perbaikan struktur rumah warga.
Sementara itu, perbaikan Jembatan Brantas berada sepenuhnya di bawah kewenangan Balai Besar Jalan Nasional.
Dengan harapan proses penanganan dapat dipercepat mengingat akan memasuki periode Natal dan Tahun Baru.








