Tommy Cash dan SMOT Gallery: Dari Rejoso Kota Batu, Ubah Limbah Jadi Karya hingga Ekspor ke Luar Negeri

Malanginspirasi.com – Siapa sangka, dari gang sempit perkampungan di Kampung Rejoso Junrejo Kota Batu, ada seorang artworker yang berhasil menyulap limbah bangunan menjadi karya seni. Tak tanggung-tanggung, karyanya sudah diekspor ke mancanegara. Artworker tersebut adalah Tomi Adi W (38), atau lebih dikenal dengan nama Tommy Cash.

Tommy Cash mendirikan SMOT Gallery pada 2010. SMOT adalah akronim dari Semesta Orang Tua sekaligus plesetan dari namanya sendiri, Toms, yang dibalik menjadi Smot.

Galeri miliknya ini berfokus pada home decoration dari limbah, mulai dari kayu bekas, bata ringan, hingga barang-barang antik yang ia temukan dari kampung ke kampung.

Berawal dari iseng, kata Tommy, mengenai apa yang digelutinya.

“Karena saat ngajar dulu, saya nggak bisa bebas menjalani hobi. Tapi lingkungan di sini mendukung, dan saya resah lihat banyak limbah berserakan,” ujarnya.

Salah satu karyanya adalah Wooden Lamp, lampu unik dari kayu limbah yang sering ia temukan. Ia juga memahat bata ringan bekas bangunan menjadi dekorasi dan patung kecil yang tak biasa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SMOT galery (@smot_project)

Sampah Jadi Karya Seni Tembus ke Luar Negeri

Pria berusia 38 tahun ini adalah lulusan Jurusan Seni Desain Universitas Negeri Malang. Ia juga dikenal sebagai gitaris LastCarBitch, salah satu band punk legendaris asal Malang.

Akan tetapi di luar kegiatan berkesenian dan bermusik, Tommy memiliki perjalanan panjang yang tak banyak diketahui publik. Ia mengaku pernah menjadi guru SMP di Malang selama delapan tahun, sejak 2008 hingga 2016.

Konsistensinya mengubah barang tak terpakai membawa karya seninya terbang ke Prancis (2015), Portugal dan Belanda (2017). Lebih lagi saat ini dirinya tengah proses kerja sama dengan pembeli dari Italia.

SMOT, Mosstongarden dan Sans Project

SMOT Gallery terletak di Kampung Ekonomi Kreatif Rejoso, Kota Batu. Dahulu terkenal sebagai kampung cobek, yang kini menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif di Kota Batu.

Kampung Rejoso Junrejo Kota Batu. (Janu)

Selain SMOT, Tommy juga membidani dua proyek lain yaitu projeknya menggarap dekorasi taman Mosstonegarden (MSG).

Melalui MSG, Tommy sering menjadi konseptor untuk wahana taman.

Kedua, Sans Project, projek karya seninya yang berupa lukisan pada media kado atau suvenir tiga dimensi.

Melalui media sosial, karya-karyanya itu bisa sampai Eropa. Akun Instagramnya bisa dikunjungi di @smot_project, @mosstonegarden, @sans3dproject.

Berkat ide kreatifnya ini juga, banyak akademisi seperti mahasiswa dari kampus-kampus terjun ke Rejoso.

“Ada yang riset, bikin tugas branding, bahkan KKN bareng,” ungkap Tommy.

Ia menyebut kampus seperti UB, UMM, UIN Malang, hingga Binus dan beberapa dari Surabaya sering berkunjung ke galerinya.

Berbagai karya seni dari daur ulang sampah di SMOT Gallery milik Tommy Cash. (Janu)

Saat ini Tommy juga kerap diundang menjadi dosen praktisi di Universitas Brawijaya dan sering diundang sebagai pemateri di berbagai forum.

Ia juga sempat jadi konseptor untuk wahana wisata di Batu, dan kabarnya tengah terlibat dalam proyek sungai buatan di Jakarta.

Hambatan Berkesenian

Perjalanannya tak selalu mulus. Ia pernah mengalami kesulitan administratif saat mendapat kesempatan kerja di Prancis.

“Seolah-olah aku merasa orang Indonesia itu nggak boleh berkembang,” kenangnya.

Kini, dengan keyakinannya, Tommy merasa lebih percaya diri.

“Dulu nggak PD karena ini hal baru. Tapi ternyata banyak yang suka. Harapanku, generasi muda bisa mandiri, jangan terus-menerus merepotkan negeri,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *