Malanginspirasi.com – Suasana Taman Bunga Merjosari Kota Malang pada Sabtu (29/11/2025) malam tampak semarak. Lebih dari 70 pengunjung memenuhi area taman untuk menyaksikan Festival Budaya Lombok, yang menjadi malam puncak peringatan Dies Natalis IKPM Lombok Timur ke-7.
Acara dimulai pukul 20.00 WIB dan menghadirkan rangkaian seni serta tradisi khas masyarakat Lombok.

Ketua Pelaksana Dies Natalis IKPM Lombok Timur, Lalu Isnaini, menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Tetapi momentum memperkuat identitas budaya Sasak.
“Bukan hanya peringatan ulang tahun yang ke-7, tetapi memberikan ruang untuk memperkuat budaya kearifan lokal Lombok Sasak di perantauan,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa asal Lombok yang berada di Malang dapat terus mempromosikan dan mengembangkan budaya daerahnya.
Goal Tahunan Organisasi

Ketua Umum IKPM Lombok Timur Malang Raya, Wirya, menambahkan bahwa Festival Budaya menjadi goal tahunan dari kepengurusan organisasi.
“Dengan terlaksananya Festival Budaya 2025 ini, menandakan akhir dari masa jabatan kami periode 2024–2025,” jelasnya.
Sebelumnya, rangkaian Dies Natalis telah diisi dengan kegiatan Futsal Series dan turnamen Mobile Legends.
Acara turut dihadiri perwakilan Badan Kesbangpol Kota Malang, yakni Kepala Bidang Bina Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Ekonomi Sosial Budaya, Drs. M. Bambang Irianto, M.AP.
Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kota Malang, Prof. Haedar, juga hadir dan menyambut baik keberadaan komunitas mahasiswa Lombok di Malang.
“Mudah-mudahan setelah ini bisa bekerja sama membangun Kota Malang, terutama dalam persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.
Titik Kumpul

Pembina IKPM Malang Raya, Sofyan Atsauri, menekankan bahwa Dies Natalis menjadi ruang berkumpul bagi mahasiswa dan perantau Lombok dari berbagai daerah.
“Acara ini ajang silaturahmi, mengingat kembali rindu kami terhadap adat dan budaya Lombok. Budaya yang ditampilkan bukan hanya tontonan, tetapi mengandung nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan,” ujarnya.
Wirya juga menuturkan tantangan persiapan festival, terutama dalam pengadaan perlengkapan adat.
Sejumlah busana Sasak dan alat Peresean bahkan didatangkan langsung dari Lombok.
“Tantangannya banyak. Beberapa perlengkapan harus kami bawa dari Lombok, termasuk alat Peresean,” katanya.
Pengunjung asal Lombok Timur, Fardisa Aulia Rahmadani, mengaku menikmati seluruh rangkaian acara, terutama Peresean.
“Masyaallah sekali. Yang paling berkesan itu Peresean,” ujarnya.

Pengunjung lain, Alfin, sependapat.
“Peresean itu seru. Walaupun terlihat saling pukul, tapi tujuannya mempererat solidaritas dan tali silaturahmi,” tuturnya.
Rangkaian penampilan budaya berlangsung meriah sejak awal acara. Yasmin, penari Tari Asih Tresna, mengungkapkan persiapannya yang singkat.
“Karena aku tampil solo, latihan cuma tiga kali,” katanya.
Panitia memilih sejumlah tarian dan drama yang dianggap paling mewakili kekayaan budaya Lombok, menyesuaikan talenta mahasiswa baru angkatan 2025.
Rangkaian Acara
Rangkaian acara mencakup:
1. Tari Asih Tresna
2. Sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua Umum IKPM, Wakil Ketua FPK Kota Malang, dan Pembina Organisasi Daerah
3. Fashion Show Baju Adat Sasak
4. Tari Sesekan
5. Drama Putri Mandalika
6. Pembacaan Puisi (Mettu Telu, Ia Menangis)
7. Penampilan Musik Grup Embun Jiwa
8. Penyerahan hadiah lomba Futsal dan Mobile Legends
9. Peresean sebagai penutup
Di akhir acara, Ketua Umum IKPM, Wirya, menegaskan makna tersirat dari festival ini.
“Kegiatan seperti ini bertujuan agar kita bisa kembali ke rumah tanpa harus badan kita yang kembali ke rumah.”
Festival Budaya Lombok malam itu menjadi bukti kuatnya ikatan mahasiswa Lombok di Malang serta komitmen mereka menjaga dan merawat budaya leluhur di tanah rantau.








