Malanginspirasi.com – Di sela kesibukan kuliah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang ini mencoba hal baru dengan membuka usaha sampingan berjualan cireng homemade.
Dea Amelia Putri memilih berjualan cireng dibanding produk lain karena ia merupakan orang Sunda. Selain itu, ia juga mampu membuat dan cireng merupakan makanan kesukaannya.
“Kalo cireng kan ga sesulit beking, terus ga perlu banyak barang, alat dan bahan,” jelasnya.
Ide usaha sampingan ini sudah ia jalankan sejak tahun 2023. Tepatnya, sejak ia menginjak semester empat awal.
Namun, yang namanya usaha, proses awal tidak selalu berjalan mulus, pasti ada kendala dan tantangan di tengah jalannya.
“Awalnya aku kan coba di rumah, itu gagal. Abis itu, aku nyoba lagi bikin sendiri di kos-an, beli sendiri bahannya. Alhamdulillah berhasil. Terus aku coba jual, laku,” ungkap Dea, mahasiswi jurusan Sastra Inggris tersebut.
Setelah jatuh bangun berusaha mendirikan usaha, akhirnya mulailah ia rajin membuka Pre-Order (PO) dua kali dalam seminggu. Pesanan datang dari teman-teman dan sekaligus mendapatkan promosi gratis dari pelanggan.
Menu yang laku keras adalah cireng dengan isi ayam suwir, dan terdapat menu lainnya adalah keju mozzarella. Setiap pieces cireng ia patok dengan harga jual Rp.2000 dengan ketentuan minimal pembelian 5 pieces.
Dalam menjalankan usahanya selama kurang lebih dua tahun ini, ada satu waktu dagangannya benar-benar sepi. Hingga ia memutuskan untuk vakum sejenak selama kurang lebih 3 bulan.
Namun, selama vakum berjualan tidak sekadar berhenti, ia juga memikirkan bagaimana memulai ulang usaha dengan menambahkan menu baru. Menu baru yang ditawarkan adalah cireng kuah seblak dan cireng kuah keju.

Bisa Membagi Waktu
Walaupun menuntut ilmu sambil berjualan, hal ini tidak mendatangkan kendala baginya, karena ia juga menyesuaikan antara berjualan dengan padatnya jadwal perkuliahan.
“Alhamdulillah gaada kendala, soalnya ini open PO sesuka hati. Kalo misal cuma ada satu matkul dalam sehari, itu baru aku open PO. Atau pas hari sabtu minggu, kalau ada pr banyak itu juga ga open PO,” jelas mahasiswi semester tujuh itu.
Bagi Dea, keputusan berjualan cireng bukan sekedar mencari tambahan uang saku. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia dapat mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya.
Sedari kecil, ia sering berpindah-pindah kota dan untuk mengikuti keinginan orang tuanya. Saat SD, ia bersekolah di Tangerang, saat SMP ia bersekolah di Salatiga, lalu menginjak bangku SMA ia bersekolah di Ponorogo.
Selama ini, ia merasa tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan tujuan ingin menimba ilmu dimana walaupun ia memilik potensi untuk masuk ke sekolah yang lebih baik. Dan pada akhirnya saat menginjak bangku perkuliahan, ia memilih keputusannya sendiri dengan mendaftar di UIN Malang.
Tak berhenti di situ, orang tua, khususnya ibunya, menyarankan ia mengambil beasiswa dan mendaftarkan KIP. Namun sayangnya ia tidak mendapatkan keduanya.
Demi menutupi rasa kecewanya, terbesitlah ide untuk berjualan.
“Karena merasa bersalah kan, aku juga ga bisa kerja, ga punya kendaraan, terus fisikku juga gampang capek. Jadi yaudah aku jualan aja kan waktunya fleksibel. Yah sekalian aku coba pengalaman baru,” jelas Dea, anak kedua dari tiga bersaudara.
Meski sederhana, langkah dengan membuka usaha jualan kecil-kecilan yang ia kerjakan sendiri menjadi bentuk nyata bahwa mahasiswi yang kini berusia 22 tahun itu mampu mengambil keputusannya sendiri.
Produk cireng ini ia namai dengan nama “cireng recing” dengan alasan lucu dibaliknya.
“Kan ada temenku di Korea pengen cireng, terus dia minta aku anterin cirengnya ke Korea, ngerecing gitu. Makanya dinamain cireng recing,” pungkasnya sembari tersenyum.








