Malanginspirasi.com – Pengusaha kembar dari Medan dan Bali, Yayuk Surati dan Nani Suriyani, tak melewatkan ajang Pameran Anggrek Nasional 2025 yang digelar tiap tahunnya di Kota Batu.
Ratusan kilometer mereka membawa puluhan anggrek koleksinya untuk dipamerkan dan didagangkan pada pendatang.
Ir. Yayuk Surati, dalam wawancaranya mengungkap alasan mengapa ia selalu aktif mengikuti pameran ini.
“Yang pasti untuk mengenalkan koleksi dari toko bunga kami. Dari spesies yang paling banyak ditemui hingga yang langka dijual di pasaran,” ungkapnya.
Lebih dari itu, ia juga menceritakan sedikit alasannya terjun di dunia bisnis tanaman hias, terkhusus anggrek.
“Saya termotivasi karena pada saat itu om saya yang kerja di Dinas Kehutanan minta tolong ke saya untuk mencarikan tanaman Euphorbia Milii, tanaman yang lagi rame saat itu,” tuturnya.
“Disisi lain juga saat itu saya baru menikah, pengen punya pekerjaan yang gak menyita banyak waktu di luar. Juga saya kan saat itu Sarjana Pertanian, jadi kenapa ngga buat nyoba,” ujar wanita berkerudung itu.
Itulah awal mulanya mengapa ia memilih berbisnis tanaman hias hingga sekarang.

Koleksi Stand Dira Orchid
Dilanjut dengan memperkenalkan berbagai macam koleksinya. Jenis anggrek yang paling banyak ia budidayakan yakni Anggrek Bulan, Tebu, dan Scomborgia. Spesies anggrek yang dijual di hampir semua toko bunga.
Tak hanya itu, banyak koleksi anggrek yang sedang booming akhir-akhir ini. Layaknya seperti Anggrek Tillandsia, salah satu tanaman anggrek yang bisa hidup tanpa ditanaman.
Jadi walaupun digantung saja, anggrek jenis ini akan tetap hidup. Dengan syarat harus disiram dan boleh sesekali diberi pupuk daun atau semacamnya.
Ada juga Tanduk Rusa, atau biasa dikenal dengan Simbar Menjangan. Salah satu spesies yang sangat difavoritkan di banyak daerah.
Di Indonesia sendiri, yang paling banyak beredar yakni yang berwarna ungu.
Ia mengungkap juga koleksi barunya yang diimpor dari Thailand. Bernama Thompsoniana Far Yellow dan Thompsoniana Far Orange, yang masih berkerabat dekat dengan jenis Scomborgia.
Tidak semua stand anggrek mempunyai jenis ini, karena sifatnya langka.
Bukan hanya sebatas koleksi booming dan langka saja, ia juga mempunyai koleksi spesial pada pameran kali ini.
Agrama Parigata, salah satu tanaman yang berkelainan genetik. Jika disamakan dengan manusia, seperti albino. Spesies ini apabila diperjualbelikan, harganya akan melonjak mahal.

Dari banyaknya jenis yang ia budidaya, ternyata perawatannya mayoritas sama.
“Yang penting ada pupuk dasarnya, terus juga dipersiapkan segala alat bahannya untuk pertumbuhan, pembungaan, anti busuk, anti bakteri, insektisida juga,” ujarnya.
Perawatan Anggrek
Lebih daripada itu, ia juga menjelaskan bagaimana merawat anggrek di musim tak menentu ini.
“Kalo musim penghujan gini rawan busuk, karena air hujan kan mengandung nitrogen. Nah mengantisipasinya yakni dengan cara penyemprotan obat, antracol namanya. Disemprotkan sebanyak dua minggu sekali. Jikalau curah hujannya semakin tinggi, boleh seminggu sekali,” tegasnya.
Untuk penggunaan pupuknya sendiri, ia memilih impor dari Thailand juga, Pupuk Dekastar.
Namun, beberapa saat juga ia campurkan dengan Pupuk Gaviota agar hasil pertumbuhan anggrek semakin maksimal.
Tak lupa, disebutkan juga media tanam yang ia gunakan ketika membudidayakan koleksi anggreknya.
Ia menggunakan media arang dan juga pakis. Karena menurutnya, mayoritas jenis anggrek cocok menggunakan dua media itu.
Sesi terakhir wawancara, ia memberikan tips dan trik bagi pemula yang baru merawat tanaman hias ini.
“Kalau sudah beli anggrek, karena sudah mengeluarkan uang, ya dirawat dengan cara yang baik, sesuai SOP-nya. Ada tahapannya, ikutin, dengan belajar gimana cara bercocok tanam yang baik. Mulai dengan mungkin mencuci arangnya, dibersihkan, direndam pakai fungisida,” jelasnya.
“Habis itu dikasih pemupukan yang benar, disemprot pakai insektisida dan bakterisida gitu-gitulah mbak. Kira-kiranya disesuaikan tahapan dia masa pembibitan beda, masa remaja beda, masa berbunga beda. Ikutin aja tahapannya sesuai SOP,” pungkasnya.
Dari kisah dan pengalaman panjangnya, Ir. Yayuk Surati dan Nani Suriyani, S.H, menunjukkan bahwa membudidayakan anggrek bukan sekadar urusan estetika. Namun juga dedikasi dan ketelatenan.
Lewat partisipasinya di Pameran Anggrek Nasional 2025, ia tak hanya memamerkan keindahan koleksinya.
Tetapi juga menularkan semangat kepada generasi baru pecinta tanaman hias untuk terus belajar, merawat, dan melestarikan keanekaragaman anggrek Indonesia.







