Bagikan Pengalaman Karir Sebagai Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Dorong Perempuan Jadi Pemimpin

Malanginspirasi.com – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, membagikan kisah perjalanan karir politiknya yang mulai dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara pandangnya.

Hingga perjuangannya menghadapi stigma dan memperkuat perspektif kesetaraan gender dalam kepemimpinannya.

Titik Balik

Amithya mengawali cerita dengan mengenang sosok ibunya, Sri Rahayu, seorang mantan Ketua DPRD Kota Malang periode 1999-2004.

Pengalaman melihat sang ibu memimpin pada usia muda menjadi inspirasi awal bagi dirinya.

“Jauh sebelum saya ada di sini, saya sudah melihat ibu saya menjadi Ketua DPRD pada tahun 1999. Usianya bahkan lebih muda dari saya ketika saya menjabat,” kenangnya pada Senin (1/12/2025).

Dari sosok sang ibu, ia belajar bahwa kepemimpinan perempuan membutuhkan keberanian dan kemampuan untuk mengambil posisi yang tinggi.

Nilai itu diperdalam oleh lingkungan keluarga yang menurutnya sangat demokratis. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam rumah yang penuh diskusi.

Bagikan Pengalaman Karir Sebagai Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Dorong Perempuan Jadi Pemimpin
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita bersama Malang Inspirasi saat membagikan pengalamannya sebagai ketua DPRD Perempuan di Kota Malang. (Riznima Azizah Noer)

“Kebetulan keluarga saya itu demokratis banget ya, bapak dan ibu saya tidak pernah menekankan pendapat mereka sebagai orang tua. Semua dimulai dengan diskusi,” ujarnya dalam Gedung DPRD Kota Malang.

Pola asuh inilah yang membentuk Amithya menjadi pribadi yang terbuka dan mampu melihat persoalan dari berbagai perspektif.

Jalankan Studi

Disisi lain, saat ini ia sedang melanjutkan studi Magister bidang Kajian Perempuan, keilmuan yang menurutnya penting untuk memahami isu gender dari perspektif legislator.

“Saya mengambil Magister Kajian Wanita karena saya ingin memahami sebagai perspektif seorang legislator. Agar bisa membawa nilai nilai kesetaraan gender, isu isu gender disini,” ungkapnya.

Namun, di balik kemajuan perempuan dalam politik, Amithya tidak menutup mata bahwa hambatan masih ada.

Hambatan Memimpin

Ia menyebut tantangan besar yang kini dihadapkan oleh para perempuan yakni terbatasnya akses.

“Banyak pembatasan yang dialami perempuan dari akses. Ini terjadi pada saya sendiri ketika menetapkan pimpinan fraksi. Bahwa kebanyakan perempuan-perempuan yang ada di dalam fraksi itu sudah diposisikan untuk urusan domestik.” ujarnya.

“Seperti posisi bendahara yang dinilai bahwa perempuan itu biasa pegang uang dan mengelolanya dengan baik. Jadi ketika memilih perempuan menjadi pemimpin di sebuah tim itu juga biasanya akan menjadi second liner gitu. Jadi bukan menjadi first option,” imbuh Amithya.

Selain keterbatasan akses terhadap perempuan, stigma juga menjadi tantangan bagi para wanita saat ini.

Amithya menilai bahwa stigma tentang patriarki oleh masyarakat masih kuat saat ini.

Stigma masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Saat pertama kali turun kampanye, komentar meragukan justru datang dari sesama perempuan.

Ia pernah ditanya, “Memang bisa jadi politisi? Urusan keluarga sudah beres?” Bagi Amithya, pertanyaan semacam ini menunjukkan betapa domestiknya peran perempuan.

Bagikan Pengalaman Karir Sebagai Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Dorong Perempuan Jadi Pemimpin
Amithya Ratnanggani Sirraduhita saat dilantik menjadi Ketua DPRD Kota Malang. (Instagram/amithya.ratnanggani)

Namun, Amithya menilai bahwa di era ini sudah ada kemajuan signifikan terkait representasi perempuan dibandingkan zaman dulu.

“Sekarang perempuan lebih stand out ya dibanding mungkin zaman dulu gitu. Dimulai dari kita bisa lihat ibu saya bisa menjadi pimpinan DPRD. Saya kira di sekitar tahun itu sudah mulai banyak kesetaraan gender dan lebih terbuka perspektifnya bahwa perempuan itu juga ya sama sama individu,” tuturnya

Pentingnya Soft Skills

Menurut Amithya, dua soft skills penting bagi pemimpin perempuan adalah kemampuan mengelola emosi dan melihat persoalan secara luas.

Keduanya dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tekanan.

“Untuk menjadi pemimpin perempuan, soft skill yang paling penting pertama adalah kemampuan mengelola emosi. Yang kedua kemampuan untuk melihat perspektif secara luas agar dapat menyelesaikan berbagai persoalan,” kata Amithya.

Sebagai penutup, ia berharap semakin banyak perempuan mengambil peran kepemimpinan, bahkan dari level paling kecil yakni ketua RT, RW, dan karang taruna.

“Saya harap lebih banyak perempuan yang mengambil peran kepemimpinan. Semoga ke depan kesempatan semakin setara dan beban stigma semakin berkurang,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *