Tottenham Hotspur Tak Kunjung Moncer, Igor Tudor di Ambang Pemecatan

Malanginspirasi.com – Pelatih kepala interim Tottenham Hotspur, Igor Tudor, menghadapi ancaman pemecatan dini setelah kalah 1-3 dari Crystal Palace di Tottenham Hotspur Stadium. Kekalahan ini menandai kekalahan ketiga berturut-turut sejak Tudor mengambil alih jabatan pada pertengahan Februari, memperburuk posisi Spurs di papan bawah klasemen Premier League dan memicu spekulasi tentang masa depannya.

Tudor sebagai pengganti Thomas Frank yang dipecat pada 11 Februari 2026 setelah delapan bulan menjabat. Frank meninggalkan Spurs di posisi ke-16 dengan hanya dua kemenangan dalam 17 laga terakhir, dan Tudor diharapkan membawa perubahan cepat untuk menyelamatkan klub dari ancaman degradasi.

Sayang, debutnya berakhir dengan kekalahan 4-1 dari Arsenal, diikuti kekalahan dari tim lain, termasuk dari Palace. Hasil buruk ini membuat Tottenham hanya satu poin di atas zona merah dengan sembilan pertandingan tersisa.

Berita Terkait:

Kalahkan Tottenham 3-1, Crystal Palace Jauhi Zona Degradasi

Pelatih Arsenal Katakan Tak Pernah Sebangga Ini Dengan Kemenangan Telak Atas Tottenham Hotspur

Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Tudor tampak tenang namun mengakui kekecewaan.

“Saya melihat sesuatu di sini,” katanya, merujuk pada upaya tim di babak kedua meski bermain dengan 10 pemain setelah kartu merah Micky van de Ven.

Namun pelatih asal Kroaia itu menolak berkomentar langsung soal kemungkinan pemecatan. Ia hanya mengatakan “no comment” ketika ditanya apakah ia bisa bertahan hingga akhir musim.

Sebelum laga, Tudor sempat meremehkan tekanan dengan menyebutnya “hanya 7 dari 10,” tapi kekalahan ini diyakini akan meningkatkan intensitasnya.

Desakan Pemecatan

Reaksi dari kalangan pengamat dan mantan pemain Spurs semakin memanaskan situasi. Jamie O’Hara, eks gelandang Tottenham Hotspur dan pembawa acara talkSPORT, menyerukan pemecatan segera Igor Tudor.

“Manajer harus pergi. Singkirkan dia,” ujarnya ketus.

O’Hara bahkan mendesak klub untuk memanggil kembali Ange Postecoglou, manajer sebelum Frank yang dikenal membawa gaya permainan menyerang.

Pundit lain seperti Joe Cole dan Peter Crouch juga menyoroti performa buruk Spurs sepanjang 2026.

Sementara itu, media Inggris seperti Express melaporkan bahwa Tottenham bisa ganti manajer untuk ketiga kalinya musim ini jika Tudor gagal.

Empat nama disebut-sebut potensial sebagai penggantinya. Mauricio Pochettino (mantan manajer Spurs), Eddie Howe (Newcastle), serta opsi lain seperti Roberto De Zerbi atau Graham Potter.

Di sisi lain, jurnalis dari The Guardian menilai masalah Spurs lebih dalam daripada sekadar gonta ganti manajer. Menuding kepemilikan interim dan identitas klub yang tidak stabil sebagai akar penyebab.

Tottenham, yang terakhir terdegradasi pada 1977, kini menghadapi risiko nyata kehilangan status elit sebagai salah satu klub besar di Premier League.

Dengan hanya 9 laga tersisa musim ini, jika tak ada perbaikan drastis, bukan tidak mungkin klub asal London utara itu tampil di Championship (kasta nomor dua di kompetisi sepak bola Inggris) musim depan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *