Malanginspirasi.com – Pelatih Manchester United Michael Carrick menghindari pertanyaan soal masa depannya di klub tersebut sekaligus minta maaf kepada suporter atas penampilan buruk yang berujung kekalahan telak dari Como 4-1.
Carrick juga menolak menjawab pertanyaan mengenai masa depannya sendiri.
Sebaliknya, ia mengungkapkan perasaannya terkait performa United dan memilih untuk bertanggung jawab.
“Saya harus meminta maaf kepada para pendukung karena saya sangat peduli dengan klub sepak bola ini, mungkin sama besarnya—atau bahkan lebih—dibandingkan siapapun. Cara kami bermain malam ini sungguh tidak bisa diterima,” akunya.
“Saya memang selalu menghampiri para penggemar, apa pun situasinya, jadi alasan saya menghampiri mereka kali ini tidaklah berbeda dari biasanya. Ini adalah bentuk apresiasi dan pengakuan atas apa yang telah mereka lalui dan lakukan selama beberapa minggu terakhir. Seperti yang saya katakan, saya pun pernah menjadi salah satu dari mereka,” lanjutnya.
Ia mengatakan bahwa dirinya merasakan hal yang sama seperti mereka.
“Klub ini memiliki nilai-nilai yang kuat; tentang apa yang kami wakili dan bagaimana kami ingin melangkah. Kami bisa saja menang atau kalah, tetapi cara kami bermain malam ini tidak bisa diterima. Saya hanya ingin para penggemar tahu bahwa saya turut merasakan apa yang mereka rasakan,” lanjut dia.
Setelah memenangkan 12 dari 17 pertandingan yang ia pimpin musim lalu, yang membawa United kembali ke Liga Champions setelah absen selama dua tahun, Carrick mendapatkan kontrak berdurasi dua tahun.
Baca Juga:
Bruno Fernandes Kritik Michael Carrick Pasca Kekalahan Memalukan MU dari Como
Namun, seperti yang terjadi pada Solskjaer lima tahun lalu, musim kompetisi kali ini justru berantakan secara drastis.
Saat ini, mereka menempati peringkat ke-13 di Liga Primer, hanya unggul tiga poin dari klub juru kunci, Sunderland.
Meski sempat bangkit dari kekalahan mengejutkan di laga pembuka melawan tim promosi Hull dengan mengalahkan Ipswich pada pekan berikutnya, United belum pernah menang lagi di Liga Premier sejak saat itu.
Satu-satunya kemenangan lain dalam 11 pertandingan di semua kompetisi diraih saat melawan juara Azerbaijan, Sabah FK, di ajang Liga Champions.
Kekalahan terbaru ini membuat mereka kini telah melalui tujuh pertandingan tanpa kemenangan—catatan terburuk sejak delapan laga tanpa kemenangan di bawah asuhan Louis van Gaal antara 25 November hingga 28 Desember 2015.
Hanya gol hiburan dari Joshua Zirkzee di masa tambahan waktu yang mencegah United mengalami kekalahan terburuk kedua mereka sepanjang sejarah di kompetisi Eropa.
Rasa malu semakin bertambah karena fakta bahwa saat mereka terakhir kali dinobatkan sebagai juara Eropa pada tahun 2008, Como justru sedang berkompetisi di level semi-profesional di Serie D, disaksikan oleh hanya beberapa ratus penonton.
Yang lebih parah adalah terkait bintang Como, Nico Paz.
Ia mencetak gol pembuka dalam 118 detik lalu merancang gol kedua kemudian mencetak gol ketiga.
Paz sempat menyatakan ingin hengkang dari Como dimana pastinya hampir semua klub besar di Eropa berusaha merekrutnya.
Peluang MU untuk mendapatkannya praktis tidak ada sama sekali.
Pada hari Minggu, MU akan menjamu Bournemouth—tim yang kini menempati peringkat ke-15 Liga Premier.
Perlu dicatat bahwa sebelum hasil imbang 4-4 yang luar biasa musim lalu, Bournemouth sempat meraih kemenangan 3-0 dalam dua kunjungan sebelumnya ke Old Trafford.
“Banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya saat menyaksikan pertandingan itu. Sungguh berat untuk ditonton,” aku Carrick, yang selama karier bermainnya di United berhasil memenangkan lima gelar Liga Premier dan Liga Champions.







