Malanginspirasi.com – Film horror psikologis menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari horor konvensional pada umumnya.
Alih-alih mengandalkan jumpscare berlebihan, genre ini justru bermain dengan atmosfer, trauma batin, dan ketegangan mental yang perlahan menggerogoti penonton.
Tak jarang genre ini juga menyelipkan “plot-twist” di akhir untuk membolak-balikkan emosi penonton.
Bagi pencinta horror yang lebih “sunyi namun menusuk”, berikut delapan film horor psikologis yang patut masuk daftar tontonan, selain Midsommar dan Hereditary, tanpa spoiler.
1. Marrowbone (2017)

Berfokus pada kisah empat bersaudara, Jack, Billy, Jane dan Sam, yang hidup terisolasi di sebuah rumah tua demi menyembunyikan kematian ibu mereka. Sekaligus bersembunyi dari ayah mereka yang merupakan seorang “buronan.”
Sejak kematian ibunya, mereka diganggu oleh “sesuatu” di loteng rumah dan harus menghadapi ketakutan demi berjuang hidup.
Semua kaca di sembunyikan dan ditutup oleh kain putih agar menghindari gangguan dari “sesuatu” yang berada di rumah.
Film ini memadukan horor dengan drama psikologis yang kuat, membangun ketegangan melalui rasa kehilangan, trauma, dan ilusi perlindungan keluarga.
Plot twist pahit di akhir menjadi salah satu kekuatan utama film ini.
2. A Cure for Wellness (2016)

Mengisahkan tentang Lockhart (Dane DeHaan), pialang saham Wall Street yang dikirim ke Swiss untuk menjemput CEO perusahaannya dari pusat rehabilitasi mewah milik Dr. Heinreich Volmer.
Namun trernyata, pusat rehabilitasi ini menyimpan rahasia, membuat Lockhart terjebak dalam misteri gelap di mana perawatan “ajaib” melibatkan ritual mengerikan, manipulasi, dan obsesi terhadap keabadian.
Ia kemudian bertemu dengan Hannah (Mia Goth), anak dari Dr. Volmer, yang selalu minum “cairan penyembuh” berwarna biru.
Yang menjadi kunci Lockhart mengungkap kebenaran dari praktik jahat pusat rehabilitasi ini.
Dengan visual yang indah dari Pegunungan Alpen Swiss, namun mengganggu, film ini mengeksplorasi obsesi terhadap kesembuhan, kontrol tubuh, dan kegilaan yang dibungkus dalam kedok kesehatan.
3. Goodnight Mommy (2022)

Film tahun 2022 ini merupakan versi remake dari film Austria berjudul sama yang di rilis pada tahun 2014 silam.
Mengisahkan dua anak kembar, Elias dan Lukas, yang mulai mencurigai bahwa perempuan yang mengaku sebagai ibu mereka bukanlah orang yang sama setelah menjalani operasi wajah.
Perilaku aneh dan dinginnya membuat mereka yakin itu bukan ibu kandung mereka. Si kembar mencari bukti untuk mengungkap kebenaran, dan menemukan foto ibu mereka dengan warna mata berbeda.
Film ini menyoroti paranoia, kehilangan, dan ketidakpercayaan, dengan ketegangan psikologis yang semakin meningkat seiring terkuaknya kebenaran.
Plot twist di akhir menjadi kunci mengungkap alasan ibunya bertindak berbeda dan dingin terhadap Elias dan Lukas.
4. Mother! (2017)

Film karya Darren Aronofsky ini menjadi salah satu horor psikologis paling simbolik dan kontroversial.
Menggunakan metafora besar tentang sang pencipta, penciptaan, iman, dan kehancuran, film ini menyajikan pengalaman menonton yang intens dan penuh tekanan emosional.
Mengisahkan sepasang suami-istri yang tinggal di rumah terpencil yang baru di renovasi. Sang istri (Jennifer Lawrence) menikmati ketenangan, sementara suaminya (Javier Bardem) seorang penulis yang mencari inspirasi.
Kehidupan tenang mereka berubah ketika muncul seorang pria asing datang ke kediamannya, diikuti istrinya, lalu anak-anak mereka, menciptakan kekacauan dan perusakan rumah.
Alih-alih menakutkan secara visual, Mother! menghantui lewat kekacauan mental dan rasa tidak berdaya.
5. The Ritual (2017)

Mengisahkan empat sahabat, Luke, Hutch, Dom, dan Phil, yang mendaki di hutan Swedia untuk memenuhi janji untuk mengenang Robert, sahabat mereka yang tewas saat perampokan.
Di tengah petualangannya, Dom cedera lutut, yang membuat mereka mengambil jalan pintas melalui hutan kuno bernama Idha Haj.
Di mana mereka mulai menemukan simbol-simbol aneh, bangkai rusa yang tergantung di pohon, dan menemukan pondok tua dengan patung aneh.
Baca Juga:
Christian Bale Bintangi Film Frankenstein ‘The Bride’, Angkat Romansa Gelap Pasangan Monster
Teror terus berdatangan dan mereka mulai diganggu oleh entitas jahat kuno (Jötunn) yang dipuja oleh sekte pemuja yang ditemukan di hutan.
Memaksa mereka untuk menghadapi rasa bersalah dan trauma.
Terutama Luke, yang menyaksikan kematian temannya dan kini harus melawan dewa hutan tersebut agar bisa bertahan hidup dan melarikan diri.
Film ini menggabungkan horor psikologis dengan elemen folk horror, menciptakan atmosfer sunyi nan mencekam.
6. The Village (2004)

Mengisahkan tentang komunitas terpencil yang hidup damai di bawah aturan ketat untuk menghindari “makhluk” misterius di hutan yang mengelilingi mereka.
Penduduk desa hidup terisolasi dalam ketakukan dan dengan aturan dilarang masuk hutan, dilarang keluar malam, dan sangat menghindari warna merah.
Karena muncul desas-desus bahwa makhluk tersebut tidak suka apapun yang berwarna merah.
Namun semuanya terungkap saat Tetua desa (Edward) membawa anaknya (Ivy), gadis tunanetra, ke gudang tua yang sangat dihindari oleh penduduk.
Film ini menyoroti bagaimana ketakutan dapat dibangun, diwariskan, dan dimanipulasi secara psikologis demi kontrol sosial.
7. The Invitation (2015)

Mengisahkan Will (Logan Marshall-Green) yang diundang ke acara makan malam di rumahnya sendiri oleh mantan istrinya, Eden, dan suaminya, David, setelah dua tahun berpisah akibat kematian anak mereka.
Namun, di tengah perjamuan Will merasa ada yang tidak beres dengan tuan rumah dan para tamu lainnya.
Ia mencurigai ada rencana jahat yang melibatkan ritual berbahaya, terutama setalah beberapa tamu mulai bertingkah aneh dan ada yang menghilang.
Film yang bermain di wilayah ketegangan sosial dan trauma emosional.
Sebuah jamuan makan malam berubah menjadi pengalaman yang semakin tidak nyaman, memaksa penonton mempertanyakan niat, kepercayaan, dan rasa kehilangan yang belum sembuh.
8. The Others (2001)

Merupakan horor psikologis klasik yang mengandalkan atmosfer, kesunyian, dan perspektif subjektif.
Mengisahkan seorang ibu bernama Grice (Nicole Kidman) yang tinggal di rumah terpencil pasca-Perang Dunia II bersama dua anaknya, Anne dan Nicholas yang sensitif cahaya.
Kejadian aneh mulai terjadi setelah kedatangan tiga pelayan baru, Mr. Tuttle, Lydia, dan Mills, seperti pintu terbuka sendiri, suara-suara misterius terdengar, dan Anne mengaku melihat “orang lain” di rumah.
Ketegangan meningkat saat para pelayan mencoba mengungkap kebenaran di dalam rumah besar tersebut.
Plot-twist di akhir menjadi klimaks mengejutkan atas teror-teror yang selama ini terjadi di dalam rumah.
Delapan film ini membuktikan bahwa horor psikologis tidak perlu berisik untuk menghantui, cukup dengan cerita yang kuat dan atmosfer menekan.
Serta konflik batin yang terasa nyata, rasa takut bisa menetap jauh setelah layar mati.








