Malanginspirasi.com – Dire Straits, band rock asal Newcastle yang dipelopori oleh Mark Knopfler, telah mencuri perhatian pecinta musik rock sejak awal 1980-an. Dari debut single ‘Sultans of Swing’ yang terkenal dengan permainan gitar khas Knopfler, hingga album ‘Making Movies’ yang penuh melodi menawan, dan ‘Love Over Gold’ yang kaya akan nuansa dramatis, band ini membuktikan diri sebagai musisi yang inovatif. Namun, pencapaian Dire Straits dengan album kelimanya, ‘Brothers In Arms’ yang diluncurkan pada 17 Mei 1985, benar-benar mengukir sejarah.
Dengan lebih dari 30 juta kopi terjual dan menjadi CD pertama yang menembus penjualan satu juta, ‘Brothers In Arms’ menjadi album musik rock yang sangat populer.
Perpaduan sempurna antara kualitas musik dengan waktu rilis yang tepat membawa album ini ke posisi istimewa di mata pendengar dari berbagai kalangan.
Karena itu, mendengarkan kembali album ini dalam reissue terbaru yang terdiri dari lima piringan vinyl dan tiga CD, membuat pesona ‘Brothers In Arms’ tak pudar meski sudah empat dekade peluncurannya..
Lagu seperti ‘So Far Away” mengalir lembut seperti whisky malt, sederhana namun sangat memuaskan dan membawa suasana era 80-an yang ikonik.
‘Walk of Life’ masih saja menggetarkan dengan vibe honky-tonk-nya yang ceria. Sementara ‘Why Worry?’ menjadi semakin menyentuh dengan mixing Dolby Atmos 2022 yang meningkatkan nuansa Mediteranian di dalam lagu tersebut.
Beberapa lagu kini terasa seperti koleksi museum; misalnya ‘One World’ dengan blues ala shoulder-pad yang khas era 80-an. Dan tentu saja ‘Money For Nothing’ yang versi lengkapnya berdurasi delapan menit, Lagu terakhir ini memang sedikit terasa jadul dengan lirik slenge’an dan mirip ‘Glory Days’ ala Bruce Springsteen.

Beragam Genre
Namun, banyak lagu lain justru semakin kuat mengingatkan kita akan kekayaan musik Dire Straits yang mengeksplorasi berbagai genre musik. .
‘Your Latest Trick’ bagaikan lagu jazz bar yang emosional, mengingatkan pada Sade dan tema-tema sinematik seperti ‘Arthur’s Theme’ dan ‘Moonlighting’.
‘Ride Across The River’ mengkombinasikan unsur world music ala Peter Gabriel dengan nuansa Latin, reggae, dan mariachi yang unik.
Sebagian besar album menampilkan tema perang yang kuat, terutama di bagian kedua, dengan lagu utama yang memukau dan ‘The Man’s Too Strong’ yang menonjolkan sisi balada bluegrass. Ini mengingatkan saat-saat ketika musik rock mengusung tema anti-perang dan menyuarakan perubahan global.
Keistimewaan teranyar dari reissue ini adalah hadirnya rekaman konser live selama dua jam di San Antonio, 1985. Konser tersebut menjadi suguhan luar biasa bagi para penggemar yang tak pernah mendapat kesempatan melihat penampilan Dire Straits secara live.
Lagu seperti ‘Ride Across The River’ dan ‘Sultans of Swing’ tampil lebih berenergi di atas panggung. Adapun ‘Tunnel of Love’ diperpanjang hingga lebih dari 20 menit.
Momen paling magis tentunya saat akustik Knopfler mengalun lembut di bagian akhir chorus ‘Romeo And Juliet’, single yang masih menjadi salah satu titik terbaik dalam sejarah rekaman musik.
Konser kemudian diakhiri dengan ‘Going Home’ yang penuh sukacita—akhir yang terasa seperti puncak dari perjalanan legendaris Dire Straits.
‘Brothers In Arms’ dari Dire Straits tetap relevan dan mengesankan. Bukan hanya sebagai album sukses besar. Tapi juga sebagai warisan musik yang mendalam dan autentik bagi penggemar lama maupun generasi baru.

Track List ‘Brothers in Arms’ edisi 40 tahun:
CD 1 – Brothers in Arms
- So Far Away
- Money for Nothing
- Walk of Life
- Your Latest Trick
- Why Worry
- Ride Across the River
- The Man’s Too Strong
- One World
- Brothers in Arms
CD 2 – Live at San Antonio Municipal Auditorium
- Ride Across the River
- Expresso Love
- One World
- Romeo and Juliet
- Private Investigations
- Sultans of Swing
- Why Worry
CD 3 – Live at San Antonio Municipal Auditorium
- Walk of Life
- Two Young Lovers
- Money for Nothing
- Wild West End
- Tunnel of Love
- Brothers in Arms
- Solid Rock
- Going Home







