Malanginspirasi.com – Quarter life crisis atau krisis seperempat abad, masih kerap jadi topik perbincangan di media sosial oleh kalangan generasi Z. Banyak dari mereka merasa khawatir dan bingung akan masa depannya. Berbagai pengalaman dan kegiatan positif pun banyak dibagikan untuk keluar dari problem ini.
Menciptakan sebuah karya seperti membuat lagu adalah salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan. Daripada terjebak dalam quarter life crisis, menghawatirkan masa depan yang entah, mengisi waktu luang dengan hal demikian akan lebih bermanfaat.
Itulah yang dilakukan 4 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka adalah Janu (22) vokalis, Ibnu (24) gitaris, Farhan (23), dan Fachrizal (22) drummer.
Alih-alih terkungkung dalam kekhawatiran dan tidak melakukan apa-apa, empat mahasiswa akhir itu memilih untuk membentuk band bernama The Belcamp Trees.
Agar tidak banyak overthinking, kata Ibnu.
“Keresahan itu perlu dituangkan. Bikin lagu adalah salah satu mediumnya,” terang sang gitaris.
Diketahui mereka baru saja merilis lagu perdananya bulan lalu, yakni single berjudul ‘Jelita’.

Kisah Lahirnya The Belcamp Trees
The Belcamp Trees terbentuk pada awal 2024. Pada awalnya mereka merupakan mahasiswa dengan hobi yang sama dan memiliki tempat tinggal di daerah yang sama, Tegalgondo, Karangploso Malang.
Bukan The Belcamp Trees, dengan alasan kesamaan nama daerah itu, mereka awalnya menyebut dirinya sebagai The Galgondo.
Nama The Belcamp Trees baru ada saat saat proses produksi single ‘Jelita’ oleh teman kuliah mereka, Rizal (22).
Nama tersebut didapati usai ia melihat tulisan di belakang kampus 3 UMM, ‘Belcamthree’ atau Belakang Campus Three, sebutan jalan di belakang kampus UMM.
Berangkat dari penemuan itu, kemudian mereka mengganti nama The Galgondo yang terinspirasi dari nama desa, menjadi The Belcamp Trees.
“Sebelum kepikiran buat lagu, dulu kita sering main band bareng di studio,” terang Ibnu.
Lagu-lagu yang sering mereka mainkan adalah lagu dari band-band rock luar seperti Green Day, Ramones, dan Misfits. Juga band lokal seperti Morfem dan FSTVLST.
Hal itu kemudian yang menjadi pengaruh untuk genre yang mereka bawa, yakni rock alternatif.
Selanjutnya, karena usia mereka yang sama, 20-an, narasi yang mereka bawa adalah kisah-kisah hidup di usianya. Hal itu menjadi dasar rencana perilisan EP perdana yang sedang mereka kerjakan, yaitu Metamorfase ¼.
Seperti namanya, “Fase perubahan. EP ini berisi semua perjalanan dan lika-liku hidup di usia kita sekarang,” terang Ibnu lagi.
Dijelaskannya, sebenarnya EP ini akan rilis awal tahun. Akan tetapi karena kendala teknis, akhirnya mereka bersepakat untuk merilis satu single dahulu, ‘Jelita’.
Rilis Single Perdana
‘Jelita’ merupakan lagu bertema cinta yang ditulis oleh sang vokalis. Lagu ini bercerita tentang sepasang insan yang berharap bisa selalu bersama dalam kondisi apapun, meski terkadang kenyataan tak selalu berpihak.
‘Jelita’ adalah simbol juga harapan, kata Janu.
“Semua hal yang kita cintai adalah Jelita. Semua yang tak kita harapkan perpisahannya. Kekasih, teman, siapa saja intinya,” tuturnya.
View this post on Instagram
Single ini direkam di sebuah studio kecil di Kota Batu, Joyosentiko Art Space & Music Studios. Pemiliknya, Gama, merupakan bassist band punk legendaris Malang bernama LastCarBitch.
Selain Gama, gitaris LastCarBitch Tommy, juga turut membantu proses produksi dalam pembuatan lagu Jelita.
Lagu ini digadang-gadang menjadi intro projek EP Metamorfase ¼. Berikut adalah liriknya:
Jalan remang kala Mei datang
Entah, lama kita di bawah hujan
Langkah-langkah yang tergenggam melamban
Indah, begitu indah
Tentang terang yang akan datang, dan
Apa yang ada di bawah hujan
Ku ingin bersama sampai waktunya
Untuk semua kurang dan senang
Jelita
Selamanya bersama
Oh Jelita
Jelita
Jelita
Selamanya bersama
Kemana pun singgahnya
Tetaplah bersama
Oh Jelita
Tak ingin cepat pulang
Bersamamu ku senang
Percakapan mendatang
Semoga bersenang-senang
Tak ingin cepat pulang
Bersamamu ku senang
Percakapan mendatang
Semoga bersenang-senang
Tak ingin cepat pulang







