Malanginspirasi.com – Band rock progresif asal Kanada, Rush, mengumumkan akan menggelar konser ‘Fifty Something Tour’. Tur ini akan dimulai pada 7 Juni 2026 di Kia Forum, Inglewood, California, dan berakhir pada 10 April 2027 di Helsinki, Finlandia.
Kabar ini disampaikan dua personil Rush, Geddy Lee dan Alex Lifeson dalam unggahan di kanal resmi YouTube mereka.
‘Fifty Something Tour’ menjadi konser Rush setelah jeda panjang sejak tur terakhir mereka pada 2015, dan menjadi yang pertama tanpa drummer legendaris Neil Peart yang meninggal pada 2020. Dengan total hingga 70 pertunjukan di berbagai benua, tur ini dirancang untuk merayakan lebih dari 50 tahun warisan musik Rush sambil menghormati kontribusi Peart.
Tur ini awalnya hanya digelar 22 kali di Amerika Utara. Namun karena antusiasme penggemar yang luar biasa—dengan lebih dari setengah juta tiket terjual—diperluas menjadi 58 pertunjukan di 24 kota pada 2026.
Pada Februari 2026, band ini menambahkan tur internasional untuk awal 2027, termasuk Amerika Selatan (pertama sejak 2010), Inggris, dan Eropa (pertama sejak 2013).
“Kami sangat senang menambahkan tanggal di Amerika Selatan, Inggris, dan Eropa,” demikian pernyataan resmi band, menekankan bahwa ini adalah cara untuk menyatukan penggemar global dan menghormati Peart.
Penggemar di platform seperti Reddit antusias. Walau begitu, sejumlah fans puritan menilai tur tanpa Peart bukanlah “Rush”.
Detail setlist belum resmi diumumkan. Tapi lagu-lagu dari album lama seperti ‘2112’, ‘Moving Pictures’, ‘Power Windows’, akan dimainkan di atas panggung. Sementara untuk elemen tribute, akan diisi rekaman solo drum Peart atau bahkan momen hening sejenak untuk mengenang sang drummer.
View this post on Instagram
Anika Niles
Dalam tur ini, posisi drummer bakal dimainkan Anika Nilles. Ia merupakan musisi Jerman berusia 42 tahun yang dikenal dengan gaya progresif dan presisi tinggi.
Nilles pernah tur dengan Jeff Beck lebih dari 60 show, rilis empat album solo, dan berlatar belakang keluarga drummer.
“Anika bukan pengganti Neil, tapi kolaborator yang membawa energi baru,” kata Lee.
Pilihannya menarik karena membawa diversitas gender ke genre rock yang didominasi kaum adam, terlebih di posisi penggebuk drum.
Hanya saja, ini bisa menjadi bumerang. Terutama bagi para penggemar fanatik, mengingat kejeniusan Peart serta gaya bermainnya yang rumit dan menuntut presisi tinggi.
Baca Juga:
Rayakan 50 Tahun Album ‘The Lamb Lies Down on Broadway’, Genesis Luncurkan Edisi Super Deluxe
Akhir Era Fish di Marillion, Perpisahan yang Pahit Setelah Kesuksesan Besar
Perjalanan Bermusik
Rush dibentuk pada 1968 di Toronto, dan dikenal dengan lagu-lagu seperti ‘Working Man’, ‘Tom Sawyer’, ‘Big Money’, ‘The Spirit of Radio’, dan masih banyak lagi, memadukan rock progresif dengan lirik filosofis.
Selama lebih dari lima dekade malang melintang di blantika musik rock, Rush telah menghasilkan 20 album studio, 9 album live, dan ratusan konser di seluruh belahan dunia.
Neil Peart, drummer sekaligus penulis sebagian besar lirik lagu, memutuskan pensiun karena masalah kesehatan pada 2015. Ia meninggal pada 2020 karena kanker otak.

Sepeninggal Peart, banyak yang mengira band ini bubar. Namun, Geddy Lee dan Alex Lifeson memutuskan untuk tur lagi sebagai bentuk penghormatan, bukan reuni penuh.
“Ini bukan tentang menggantikan Neil, tapi melanjutkan legacy kami,” ujar Lee dalam wawancara dengan rollngstones.com.
Tak dipungkiri, meski ‘Fifty Something Tour’ bakal mengobati kerinduan penggemar dan mendatangkan pendapatan besar secara bisnis. Tetapi nuansa emosional tetap bakal terasa bagi Lee dan Lifeson yang kini sama-sama berusia di atas 70 tahun.
Mereka berharap tur ini bisa menjadi terapi pasca-kehilangan sahabat yang menemani puluhan tahun bermusik. Neil Peart.







