Malanginspirasi.com – Limbah kulit nanas yang selama ini dibuang ternyata bisa disulap menjadi pewarna alami yang layak jual untuk industri tekstil. Temuan ini diungkap peneliti Sri Lanka dalam jurnal Royal Society Open Science yang baru-baru ini dipublikasikan.
Dalam penelitian tersebut, tim berhasil mengembangkan metode yang dapat diulang untuk mengekstrak zat warna dari kulit nanas. Mengubahnya menjadi serbuk yang tahan lama, serta mengoptimalkan proses pewarnaan pada kain katun.
Hasilnya adalah berbagai nuansa cokelat alami yang menarik.
“Penelitian ini menyediakan bahan yang dapat direplikasi untuk memanfaatkan serbuk pewarna kulit nanas dalam aplikasi tekstil,” tulis para penulis.
Studi tersebut menguji berbagai jenis mordan atau zat fiksasi untuk menentukan mana yang paling efektif mengikat molekul pewarna pada kain katun.
Asam tanat, mordan alami yang berasal dari tumbuhan, menghasilkan kekuatan warna tinggi sekaligus ketahanan baik terhadap pencucian, gosokan kering dan basah, serta paparan cahaya.
Menurut peneliti, asam tanat terbukti menjadi alternatif berkelanjutan pengganti mordan logam konvensional yang sering beracun.

Mereka juga menyoroti bahayanya pewarna sintetis yang selama ini digunakan dalam industri tekstil.
“Banyak pewarna sintetis mengandung amina aromatik, logam berat, dan garam yang sulit terurai. Limbahnya mencemari air, berisiko bagi kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar, serta menyebabkan kerusakan ekologi jangka panjang,” ungkap para peneliti.
Pewarna Alami dari Limbah Kulit Nanas
Di tengah kesadaran global yang meningkat, industri tekstil didorong beraling ke pewarna alami yang dapat terurai secara hayati. Pewarna alami ini sebenarnya sudah digunakan sebelum era pewarna sintetis pada awal abad ke-20.
Yang menarik, sumber pewarna alami ini berasal dari limbah pertanian. Salah satunya adalah nanas.
Nanas merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di wilayah tropis dan subtropis, dengan produksi jutaan ton setiap tahun. Kulitnya, yang merupakan bagian besar dari buah, umumnya terbuang sebagai limbah.
Baca Juga:
4 Cara Mudah Mendaur Ulang Pakaian Bekas untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan
Penelitian ini membuktikan bahwa pewarna dari kulit nanas tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menguntungkan secara komersial. Temuan ini sekaligus membuka jalan pengembangan pewarna alami lain dari limbah agro.
“Langkah selanjutnya adalah optimalisasi skala produksi, analisis siklus hidup, dan eksplorasi sifat fungsional tambahan. Hal ini perlu dilakukan agar teknologi pewarnaan berkelanjutan ini semakin menarik bagi pasar,” jelas para peneliti.







