Malanginspirasi.com – Cleopatra VII, ratu terakhir Kerajaan Mesir telah menjadi lambang kecantikan dan keberanian perempuan. Ia meninggalkan warisan dan kisah hidup hingga berabad-abad kemudian.
Tidak hanya dikenal sebagai ratu yang memiliki paras cantik hingga disamakan dengan dewi cinta, Aphrodite, Cleopatra VII juga digambarkan sebagai sosok yang cerdas, dan ambisius.
Selain itu, ia juga digambarkan berkepribadian kuat sehingga mampu menghadapi tekanan dunia laki-laki yang penuh intrik kekuasaan.
Karakter Cleopatra
Ia lahir pada tahun 69 SM dan naik tahta pada tahun 51 SM diusianya yang baru menginjak 18 tahun.
Kekuatan Cleopatra tidak hanya terletak pada kecantikan, kekuatan utamanya terletak pada kecerdasan, kecakapan politik dan kemampuan berkomunikasinya.
Ia juga fasih berbahasa Mesir Kuno dan mampu berbicara dengan Aethiopia, Troglodytae, Ibrani, Arab, Suriah, Media, hingga Parthia dalam bahasa mereka masing-masing.
Catatan sejarah menyebut Cleopatra melakukan reformasi moneter di Mesir. Ia menetapkan nilai mata uang perunggu berdasarkan nilai nominal, bukan berat logamnya.
Dengan adanya kebijakan ini, nilai koin mesir setara dengan denarius Romawi sehingga memperkuat stabilitas ekonomi.
Adanya reformasi ini memperlihatkan bahwa Cleopatra memahami kompleksitas ekonomi.
Kehidupan Pribadi
Salah satu aspek yang paling terkenal dari kehidupan Cleopatra VII adalah hubungannya dengan Julius Caesar dan Mark Antony, dua pemimpin besar Romawi.

Pada tahun 48 SM, Cleopatra membangun aliansi politik dan hubungan pribadi dengan Julius Caesar untuk mempertahankan kekuasaannya atas Mesir.
Dari hubungan ini lahirlah seorang putra bernama Ptolemy XV atau lebih dikenal sebagai Caesarion.
Setelah kematian Caesar pada 44 SM, Cleopatra menjalin hubungan dengan Mark Antony.
Keduanya tidak hanya terikat secara romantis tetapi juga membentuk kekuatan politik untuk menantang Octavianus (kemudian menjadi Kaisar Augustus).
Hidup Cleopatra VII berakhir tragis dan menjadi tragedi yang melegenda.
Setelah kekalahan dalam pertempuran Actium pada tahun 31 SM oleh pasukan Octavianus, Cleopatra memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Ia meninggal diusia 39 tahun, dan yang pasti Cleopatra memilih mati dengan kehormatan sebagai ratu, bukan sebagai tawanan.
Tradisi menyebutkan bahwa ia menguji racun pada narapida untuk menemukan racun yang paling tidak menyakitkan. Setelah menemukannya, ia akhirnya memilih untuk mati dengan bsai lar di kuil dewi Isis.
Setelah kematiannya, Romawi mengolok-olok dan menghina sosok Cleopatra. Namun, di tanah kelahirannya, ia tetap menjadi sosok yang dihormati.
Administrator setianya, Archibios, bahkan menawarkan 2.000 talenta untuk menyelamatkan patung-patung Cleopatra dari kehancuran.
Hingga berabad-abad kemudian, di tahun 373 M, seorang imam Mesir bernama Petesenufe menghias patung Cleopatra dengan emas sebagai bentuk penghormatan.
Hingga kini, Cleopatra menjadi inspirasi dalam berbagai karya seni, sastra, dan film.
Ia melambangkan keberanian seorang perempuan yang berani mengambil kendali atas nasibnya sendiri, meski harus berhadapan dengan kekuatan besar dunia.
Kisah hidupnya adalah bukti bahwa kecerdasan, keberanian, dan pesona dapat menjadi senjata paling ampuh dalam menghadapi kerasnya dunia politik dan sejarah.








