Dikira Sama dengan Hutan, Ternyata Sawit Bisa Tingkatkan Resiko Banjir

Malanginspirasi.com – Dalam perdebatan soal lingkungan, muncul argumen bahwa kelapa sawit aman, karena dianggap “pohon,” punya daun dan batang, dan bisa menyerap karbon serta melepaskan oksigen. Faktanya tanaman sawit dapat tingkatkan resiko banjir, berikut penjelasannya.

Secara botani, memang benar. Namun sejumlah penelitian dan laporan lingkungan menunjukkan bahwa perkebunan sawit tidak memiliki kapasitas hidrologis dan ekologis yang sama dengan hutan alami.

Artinya, sawit bukan pengganti hutan dalam hal mitigasi banjir dan menjaga siklus air.

Sama Namun Berbeda Fungsi

Menurut para peneliti, meskipun kelapa sawit berbatang dan berdaun seperti pohon, struktur biologis dan lanskapnya berbeda jauh dari hutan alam.

Kebun sawit sebagai monokultur, hanya satu jenis tanaman.

Di mana tidak memiliki kompleksitas ekosistem diantaranya tidak ada vegetasi bawah, fauna tanah, beragam jenis pohon, dan jaringan akar dalam-dangkal yang saling melengkapi seperti di hutan alami.

Dilansir dari Mongabay, sebuah studi kolaboratif antara University of Göttingen (Jerman), IPB University (Bogor), dan BMKG menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan monokultur, seperti kelapa sawit dan karet, telah mendorong peningkatan frekuensi dan intensitas banjir.

Para peneliti mencatat bahwa perubahan penggunaan lahan dari hutan ke perkebunan membuat tanah menjadi lebih padat.

Akibatnya, saat hujan intens, air sulit meresap ke dalam tanah dan lebih banyak menjadi limpasan permukaan yang segera mengalir ke sungai.

Penelitian Lahan DAS Sumatra

Studi tersebut meneliti kawasan lahan basah dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra.

Hasilnya memperlihatkan bahwa konversi hutan menjadi kebun sawit atau karet monokultur memperparah risiko banjir.

Saat hujan deras, lebih banyak air menggenang atau bergerak di permukaan ketimbang meresap ke dalam tanah.

Dikira Sama dengan Hutan, Ternyata Sawit Bisa Tingkatkan Risiko Banjir
Potret perkebunan sawit yang diambil dari angle atas. (Freepik)

Debit air pun cepat masuk ke sungai atau saluran drainase, meningkatkan peluang banjir di wilayah hilir.

Kondisi yang sangat berbeda jika kawasan itu tetap berupa hutan dengan tutupan vegetasi lengkap dan tanah kaya bahan organik.

Perbedaan Hutan Alami dan Kebun Sawit

Perbedaan mendasar antara hutan alami dan kebun sawit terletak pada:

Pertama, sistem akar yang beragam. Pohon di hutan memiliki akar dangkal dan dalam, akar serabut dan akar tunggang, yang membantu menyerap air ke berbagai lapisan tanah.

Kedua, struktur vegetasi berlapis. Dari kanopi pohon tinggi, pohon sedang, semak, hingga tanaman bawah dan mikroorganisme tanah.

Fungsinya memperlambat jatuhnya hujan, memberi tanah waktu menyerap air, dan mengurangi aliran permukaan (runoff).

Ketiga, tanah dengan bahan organik tinggi dan porositas baik.

Dedaunan yang gugur, akar-akar mati, dan sisa organisme tanah membentuk humus yang membuat tanah menyerap dan menahan air jauh lebih efektif dibanding tanah di kebun sawit monokultur.

Kombinasi elemen ini membuat hutan berfungsi seperti “spons alami” bagi cuaca ekstrem dan hujan deras. Sebuah sifat yang sulit ditiru oleh perkebunan tunggal.

Kelapa sawit memang pohon secara botani. Namun ketika ditanam sebagai monokultur pada lahan yang sebelumnya hutan, ia tidak bisa menggantikan fungsi ekologis hutan.

Terutama dalam hal menyerap air dan mengendalikan limpasan.

Aktivitas konversi lahan, padatnya tata tanam, dan struktur tanah yang berubah telah terbukti meningkatkan risiko banjir di banyak daerah di Sumatra dan wilayah aliran sungai.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *