Suneung, SNBT Ala Korea Selatan yang Bikin Siswa Stres dan Bahkan Bunuh Diri

Malanginspirasi.com – Bayangkan sebuah negara di mana seluruh negeri “berhenti bergerak” selama satu hari penuh. Penerbangan ditunda, lalu lintas nyaris sunyi senyap, dan bahkan pasar saham dibuka lebih lamban.Semuanya demi ratusan ribu remaja yang duduk diam selama delapan jam menghadapi ujian yang bisa menentukan seluruh masa depan mereka. Itulah Suneung, ujian masuk perguruan tinggi di Korea Selatan, yang sering disebut sebagai “perang” terbesar dalam hidup seorang siswa.

Suneung (College Scholastic Ability Test) merupakan ujian yang berlangsung selama delapan jam dalam satu hari. Mencakup mata pelajaran seperti bahasa Korea, matematika, bahasa Inggris, sejarah, dan sains. Ujian ini diadakan setiap tahun pada hari Kamis di minggu ketiga bulan November.

Hasil dari ujian menjadi kunci utama untuk masuk ke universitas bergengsi seperti Seoul National University, Korea University, atau Yonsei University.

Ketiga kampus ini kerap diakronimkan “SKY”, saking bergengsinya di negeri gingseng tersebut.

Para pelajar Korea Selatan tetap konsentrasi belajar di tengah antrean mengular sebelum mengikuti Suneung. (Yonhap)

Masuk ke tiga universitas top ini tidak hanya membuka pintu karir bergaji tinggi dan status sosial. Tetapi juga dianggap memengaruhi prospek pernikahan dan stabilitas ekonomi masa depan. Karena itu, tekanan untuk berhasil luar biasa besar.

Sialnya, tekanan tersebut dimulai sejak usia dini. Sejak seorang siswa duduk di bangku sekolah dasar.

Masa Remaja yang Hilang

Ketika masuk ke sekolah lanjutan (SMA), siswa di Korea Selatan bisa menghabiskan 12-16 jam sehari untuk belajar, termasuk sekolah reguler di pagi hingga sore, diikuti dengan kelas tambahan di hagwon (akademi swasta) hingga larut malam.

Ini membuat banyak siswa tak memiliki waktu cukup untuk istirahat atau menikmati masa remaja mereka.

Pelajar Korea Selatan baru bubaran sekolah pada malam hari di Daechi-dong, Gangnam, selatan Seoul. Kesibukan belajar seringkali baru berakhir pada pukul 10 malam. (Korea JoongAn Daily)

Di sisi lain, para orang tua tak segan-segan mengucurkan puluhan juta won (setara ratusan juta rupiah) per tahun untuk tutor pribadi atau kelas persiapan Suneung.

Budaya kompetisi di negeri KPop ini didorong oleh nilai masyarakat yang menekankan prestasi akademik sebagai ukuran kesuksesan. Sementara, kegagalan dianggap sebagai aib keluarga.

Akibatnya, siswa sering mengorbankan tidur, hobi, dan kesehatan mental mereka. Survei menunjukkan bahwa persentase siswa sekolah dasar yang tidur cukup turun dari 56,68% pada 2019 menjadi 51,95% pada 2023.

Selain itu, sistem pendidikan yang berfokus pada peringkat membuat siswa merasa nilai diri mereka hanya bergantung pada skor ujian.

Baca Juga:

5 Alasan Mengapa Sekolah di Asia Mewajibkan Seragam, Sedangkan di Barat Tidak

Lima Word Affirmation dalam Bahasa Korea, Ala Xaviera Putri, Peserta Clash of Champions by Ruangguru

Pemicu Bunuh Diri

Tekanan ini sering berujung pada masalah kesehatan mental serius.

Korea Selatan memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), dengan 24,8 per 100.000 penduduk pada 2021. Jauh di atas rata-rata OECD yang berkisar pada angka 10,7.

Di kalangan remaja, stres akademik menyumbang sekitar 12% dari kasus bunuh diri.

Dilansir Korean Times, ingkat bunuh diri remaja mencapai rekor 7,9 per 100.000 pada 2023, dengan 4,5% remaja berusia 13-19 tahun melaporkan pikiran bunuh diri, dan 32,9% dari mereka menyebut tekanan ujian masuk atau prestasi sekolah sebagai penyebab utama. Naik 3,2 poin dari 2020.

Survei lain menunjukkan bahwa satu dari empat siswa pernah mempertimbangkan bunuh diri pada 2012, dan angka ini lebih tinggi di kalangan siswa SMA kelas akhir.

Sekitar 63% dari mereka pernah memikirkan self-harm atau bunuh diri.

Kasus tragis sering muncul, seperti tiga siswa penari yang bunuh diri bersama pada 2025 karena tekanan akademik dan karir.

Juga ada seorang remaja berusia 19 tahun yang melompat dari apartemen setelah Suneung pada 2019.

Kurangi Tingkat Kesulitan di Ujian

Kegagalan dalam ujian sering membuat siswa merasa malu dan putus asa. Pilihan  mengulang tahun (repeater) atau masuk universitas rendah dianggap sebagai kegagalan yang memalukan.

Para orang tua di Korea Selatan berdoa memohon buah hatinya lolos Suneung. (Radio France)

Pemerintah Korea Selatan telah mencoba mengatasi ini, seperti dengan reformasi ujian untuk mengurangi kesulitan. Meski demikian, kecaman terhadap sistem masuk perguruan tinggi bergengsi yang beratnya minta ampun ini, tetap mengalir deras.

Pada Suneung 2025, soal bahasa Inggris yang terlalu sulit memicu protes massal hingga kepala lembaga ujian mengundurkan diri.

Faktor lainnya seperti kecanduan internet dan kurang tidur memperburuk situasi. Pelbagai tekanan ini mencerminkan masyarakat yang menempatkan pendidikan sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Sayangnya, hal itu harus dibayar sangat mahal. Meningkatkan stres dan angka bunuh diri di kalangan generasi muda Korea Selatan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *