Ramai Kampanye Go Vegan, Menyehatkan atau Justru Membahayakan Tubuh?

Malanginspirasi.com – Kampanye Go Vegan belakangan menjadi sorotan publik setelah ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok dan Instagram.

Gerakan ini memicu perdebatan luas di tengah masyarakat, mulai dari dukungan terhadap gaya hidup berbasis nabati hingga kritik yang menilai kampanye tersebut terlalu ekstrem dan berpotensi menyesatkan.

Gaya Hidup Non-Hewani

Go Vegan merujuk pada gaya hidup yang menghindari konsumsi serta penggunaan produk hewani beserta turunannya. Seperti daging, ikan, telur, susu, madu, hingga produk non-pangan berbahan hewan.

Sebagai gantinya, para penganutnya mengandalkan asupan nabati seperti buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Tidak hanya diterapkan secara personal, sebagian kelompok vegan juga aktif mengajak masyarakat luas untuk mengikuti pola hidup serupa.

Salah satu pemicu viralnya kampanye ini berasal dari akun TikTok dan Instagram Bahagia Vegan yang mengunggah sejumlah konten dengan narasi kontroversial.

Dalam unggahannya, mereka menyebut konsumsi daging sebagai bentuk penyiksaan terhadap makhluk hidup.

Pesan seperti “Hewan adalah teman, bukan makanan. Go Vegan!” menuai beragam reaksi, mulai dari simpati hingga penolakan keras dari warganet.

Historis Vegan
Ramai Kampanye Go Vegan, Menyehatkan atau Justru Membahayakan Tubuh?
Patung Siddhartha Gautama, seorang guru pertapa dan spiritual Asia Selatan. (Freepik)

Mengutip kumparan.com, secara historis, praktik menghindari konsumsi produk hewani bukanlah hal baru.

The Vegan Society mencatat bahwa konsep serupa telah dikenal lebih dari 2.000 tahun lalu.

Siddhartha Gautama kerap dikaitkan dengan pengenalan diet vegetarian kepada para pengikutnya sebagai bagian dari ajaran hidup yang berlandaskan welas asih.

Meski kerap disamakan, vegan dan vegetarian memiliki perbedaan mendasar.

Melansir Alodokter.com, vegetarian adalah pola makan yang tidak mengonsumsi daging dan makanan laut, namun sebagian masih mengonsumsi telur dan produk susu.

Klasifikasi Vegetarian

Vegetarian terbagi ke dalam beberapa tipe berdasarkan klasifikasi pola makan.

Pertama, lacto-ovo vegetarian, yaitu individu yang tidak mengonsumsi daging merah, daging unggas, maupun ikan, namun tetap mengonsumsi telur, susu, serta produk olahannya seperti keju dan yoghurt.

Kedua, lacto vegetarian, yang menghindari konsumsi daging merah, daging unggas, ikan, dan telur, tetapi masih mengonsumsi susu beserta produk turunannya.

Ketiga, ovo vegetarian, yakni mereka yang tidak mengonsumsi daging maupun produk hewani lainnya, dengan pengecualian telur sebagai satu-satunya produk hewani yang dikonsumsi.

Ramai Kampanye Go Vegan, Menyehatkan atau Justru Membahayakan Tubuh?
Ilustrasi seorang wanita yang menjalankan diet vegan. (Freepik/pvproductions)

Sementara itu, vegan merupakan bentuk pola hidup yang lebih ketat.

Vegan tidak hanya menghindari semua jenis makanan hewani, tetapi juga menolak penggunaan produk turunan hewan dalam aspek lain kehidupan, termasuk pakaian, kosmetik, dan suplemen tertentu.

Bahan seperti gelatin, whey, kasein, madu, hingga suplemen berbasis minyak ikan juga tidak dikonsumsi.

Dari sisi kesehatan, pola makan berbasis nabati kerap diklaim lebih menyehatkan. Sejumlah penelitian menunjukkan diet vegan dan vegetarian berpotensi menurunkan risiko penyakit.

Baca Juga:

Menuju Hidup Lebih Sehat dengan Konsumsi Makanan Berbasis Nabati

Cara Memasak Sama Pentingnya dengan Memilih Makanan Sehat

Layaknya seperti kardiovaskular, diabetes, kanker tertentu, divertikulitis, serta membantu menjaga berat badan ideal dan kadar kolesterol.

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat pula risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

Alodokter.com menyebutkan bahwa diet vegan dan vegetarian dapat meningkatkan risiko anemia dan kekurangan protein jika tidak direncanakan dengan baik.

Hal ini disebabkan hilangnya sumber nutrisi penting yang umumnya berasal dari produk hewani, seperti zat besi, vitamin B12, zinc, yodium, kalsium, vitamin D, serta asam lemak omega-3.

Penelitian Mengenai Vegan

Isu ini juga dibahas dalam jurnal ilmiah Progress in Cardiovascular Diseases Volume 74 (September–Oktober 2022) melalui artikel berjudul Debunking the Vegan Myth: The Case for a Plant-Forward Omnivorous Whole-Foods Diet.

Penelitian yang ditulis oleh James H. O’Keefe dan rekan-rekannya tersebut menyoroti bahwa diet vegan ketat berpotensi menyebabkan defisiensi nutrisi yang dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang, seperti anemia, patah tulang, sarcopenia, hingga gangguan kesehatan mental.

Penelitian tersebut juga menekankan bahwa manusia secara evolusioner telah mengonsumsi kombinasi makanan nabati dan hewani selama jutaan tahun.

Ramai Kampanye Go Vegan, Menyehatkan atau Justru Membahayakan Tubuh?
Ilustrasi organ pencernaan manusia yang membutuhkan pola makan omnivora (Pexels/Mart Production)

Oleh karena itu, hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan yang lebih seimbang. Yakni pola makan omnivora berbasis nabati (plant-forward omnivorous diet), dinilai lebih selaras dengan kebutuhan biologis manusia.

Pola ini menekankan konsumsi dominan makanan nabati alami, disertai asupan terbatas produk hewani berkualitas.

Kesimpulannya, kampanye Go Vegan tidak dapat dinilai secara hitam-putih.

Gaya hidup ini dapat memberikan manfaat kesehatan dan lingkungan apabila dijalankan dengan perencanaan nutrisi yang matang.

Namun, tanpa pemahaman yang memadai, penerapan diet vegan secara ketat berisiko menimbulkan masalah kesehatan.

Para ahli pun menyarankan masyarakat untuk bersikap kritis, tidak sekadar mengikuti tren. Serta berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengubah pola makan secara drastis.

Demi kesehatan yang berkelanjutan di masa depan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *