Fakta Menarik ‘Boso Walikan,’ Kode Komunikasi Rahasia hingga Menjadi Identitas Arek Malang

Malanginspirasi.com – Malang tidak hanya dikenal lewat udara sejuk dan kota pelajarnya. Tetapi juga melalui satu fenomena linguistik unik yang jarang dimiliki daerah lain di Indonesia, yakni “Boso Walikan Malang.”

Disebut juga sebagai “bahasa terbalik” karena kosakatnya dibentuk dengan membalik susunan huruf atau suku kata baik dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Terkesan main-main, namun dibaliknya ternyata Boso Walikan menyimpan sejarah sebagai kode komunikasi rahasia pada masam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bukan Sekadar Bahasa Gaul

Boso Walikan bukan sekadar bahasa gaul anak muda. Menurut laman brascho.info, sejarah Boso Walikan dimulai pada saat jaman perjuangan Gerilya Rakyat Kota (GRK).

Saat itu, bahasa terbalik dipakai sebagai kode komunikasi rahasia agar tidak mudah dipahami oleh pihak Belanda atau mata-mata musuh.

Boso Walikan digunakan sebagai alat komunikasi antar sesama pejuang serta sebagai identitas untuk mengenali lawan maupun kawan.

Karena pada saat itu, banyak sekali mata-mata Belanda yang berasal dari orang pribumi sendiri.

Otomatis, komunikasi dalam bahasa Jawa menjadi hal yang riskan karena dapat dipahami mata-mata dan kemungkinan akan bocor ke pihak Belanda.

Dari sinilah Boso Walikan berkembang menjadi simbol kecerdikan dan perlawanan lokal.

Kata “Malang” sendiri dibalik menjadi “Ngalam,” yang hingga kini sangat populer sebagai penanda identitas kota. Mulai dari nama komunitas, media, hingga slogan pariwisata.

Fakta Menarik 'Boso Walikan Malang', Kode Komunikasi Rahasia hingga Menjadi Identitas Arek Malang
Potret lawas Agresi Militer Belanda II di Kota Malang, Jawa Timur tahun 1949. (daerah.sindonews.com)
Tidak Selalu Konsisten, Tapi Punya Pola

Menariknya, Boso Walikan tidak selalu mengikuti aturan linguistik yang kaku.

Namun juga tidak semua kata bisa seenaknya di walik karena hanya kata-kata yang umum saja yang biasanya dibaca secara terbalik.

Sebagian kata dibalik secara penuh huruf per huruf, sementara yang lain mengalami penyesuaian bunyi agar tetap mudah diucapkan.

Sebagai contoh, kata “komputer” tidak pernah diucapkan sebagai retupmok karena akan sulit pengucapannya dan tidak lazim digunakan.

Kata “polisi” menjadi “isilop”, “tentara” dibalik menjadi “aratnet”, dan “datang” menjadi “gnatad.” Contoh kosakata yang diyakini pernah dipakai dalam konteks kewaspadaan dan pergerakan.

Penggunaan kode ini memungkinkan penyampaian informasi penting tanpa menarik perhatian pihak lawan.

Simbol Solidaritas Arek Malang

Di luar fungsi komunikatif, Boso Walikan berperan penting sebagai penanda identitas sosial Arek Malang.

Baca Juga:

Fakta Menarik: Mengapa Tata Kota Malang dan Bandung Mirip? Jejak Perencana Thomas Karsten

Bahasa ini sering digunakan untuk menunjukkan kedekatan, keakraban, dan rasa “satu daerah.”

Ketika seseorang fasih menggunakan Boso Walikan, ia secara tidak langsung menegaskan posisinya sebagai bagian dari komunitas Malang.

Warisan Budaya Tak Tertulis

Meski belum tercatat sebagai bahasa resmi atau dilindungi secara formal, Boso Walikan layak dipandang sebagai warisan budaya tak benda.

Ia mencerminkan kreativitas linguistik, sejarah perlawanan, dan kuatnya rasa kebersamaan warga Malang.

Di tengah arus globalisasi, keberadaan Boso Walikan menjadi pengingat bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi. Tetapi juga penyimpan memori kolektif dan identitas lokal yang patut dijaga.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *