Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini

Malanginspirasi.com – Kota Malang, yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan warisan budaya di Jawa Timur, menyimpan banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri tegak dan berfungsi aktif.

Bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi saksi sejarah tetapi juga bagian dari kehidupan modern, baik sebagai fasilitas pelayanan publik, tempat makan, hingga ruang komunitas.

Berikut beberapa bangunan kolonial di Malang yang masih aktif digunakan.

1. RCE Center
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Bangunan RCE Center pada zaman kolonial yang terlihat masih sama hingga sekarang. (djpb.kemenkeu.go.id)

RCE Center yang berlokasi di Jalan Merdeka Selatan dibangun pada 1936 dan dirancang oleh arsitek Belanda M.B. Tideman sebagai kantor pemerintahan kolonial Belanda di Malang.

Kini, bangunan ini tetap digunakan untuk fungsi pemerintahan sekaligus dibuka sebagai ruang publik, budaya, dan kegiatan komunitas.

Dengan arsitektur klasik yang masih terjaga, termasuk furnitur antik, ruangan bergaya lawas, serta pemandangan kota dari lantai dua.

2. Toko Oen
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Interior Toko Oen yang mempertahankan nuansa masa Hindia Belanda-nya. (disporapar.malangkota.go.id)

Didirikan pada 1930, Toko Oen merupakan kedai klasik legendaris yang dahulu menjadi tempat berkumpul warga Belanda untuk makan, minum, bahkan berdansa bersama keluarga dan kolega.

Meskipun hampir seabad berlalu, penampilan asli bangunan tetap dipertahankan, mulai dari lantai, langit-langit logam, hingga bagian interior klasiknya.

Salah satu daya tariknya adalah tulisan selamat datang dalam bahasa Belanda yang masih terpajang, mengajak pengunjung merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu.

3. Balai Kota Malang
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Balai Kota Malang di taman Jan Pieterszoon Coen, Malang sekitar tahun 1929. (kelsumbersari.malangkota.go.id)

Simbol pemerintahan yang masih bertahan. Balai Kota Malang dibangun pada tahun 1929 dengan gaya arsitektur khas kolonial yang megah dan diposisikan strategis di depan Alun-Alun Tugu.

Meskipun fungsi utamanya adalah sebagai pusat administrasi pemerintah, gedung Balai Kota tetap menjadi simbol sejarah dan perkembangan kota.

Sekaligus menjadi salah satu ikon yang mewakili perpaduan arsitektur kolonial dan spirit modern Malang.

5. Kawasan Kayutangan
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Jalanan Kayutangan yang berjejer pertokoan pada zaman dulu. (Facebook/AhmadFahmiSyahab/Sejarah dan Budaya Malang Raya)

Kawasan Kayutangan Heritage di pusat kota Malang menjadi contoh lain bagaimana bangunan kolonial dipertahankan dalam kehidupan modern.

Jalan-jalan tua dengan bangunan berpadu antara rumah tinggal dan toko bergaya kolonial Belanda masih berfungsi dan menjadi pusat aktivitas warga serta wisatawan.

6. Gereja Immanuel
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Protestantsche Kerk (sekarang GPIB Immanuel) di sudut Alun-Alun Malang sekira 1930. (KITLV – Leiden melalui Facebook/Dewi Kunti)

Tempat ibadah tertua yang masih aktif, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel adalah salah satu bangunan kolonial tertua di Malang.

Gereja ini didirikan pada 1861 sebagai Protestanche Gemeinde te Malang.

Bangunannya bergaya Gothik Eropa dengan jendela kaca berwarna khas dan menara tinggi, menunjukkan pengaruh arsitektur zaman kolonial.

Hingga kini gereja ini tetap aktif digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus cagar budaya penting di pusat kota.

7. Gereja Kayutangan
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau Gereja Kayutangan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. (antoniuscp.wordpress.com)

Terletak dekat kawasan heritage Kayutangan, Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (Gereja Kayutangan) dibangun pada awal abad ke-20 dan menjadi salah satu gereja bergaya Neo-Gothik tertua di Malang.

Dengan dua menara setinggi puluhan meter dan desain interior yang memadukan nuansa Eropa klasik, bangunan ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah dan daya tarik wisata religi.

8. Stasiun Malang Kota Lama
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Potret jaman dulu dari Stasiun Malang Kota Lama. (malangraya.blok-a.com)

Stasiun Malang Kota Lama (Malang Kotalama) adalah stasiun kereta api tertua di Jawa Timur yang masih berfungsi sampai sekarang.

Dibuka pada akhir abad ke-19, stasiun ini awalnya melayani angkutan hasil bumi dari pedalaman menuju pelabuhan.

Saat ini, meskipun perannya telah berubah, bangunan dengan ciri kolonial khas Staatsspoorwegen ini tetap melayani rute kereta api lokal.

Sebagian jalur tradisional sambil mempertahankan banyak elemen fasad aslinya.

9. Sekolah Cor Jesu
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Bangunan Sekolah Cor Jesu pada tahun 1945 yang digunakan sebagai markas sementara seolah militer Divisi VII Suropati. (memorisejarahkotamalang.wordpress.com/Museum Inggil)

Pendidikan dan sejarah yang tetap hidup. Sekolah Katolik Cor Jesu (dahulu dikenal sebagai Zusterschoolpada masa kolonial) merupakan bagian dari kompleks pendidikan yang dirintis oleh suster Ursulin sejak awal abad ke-20.

Bangunan sekolah yang megah dan simetris menunjukkan ciri arsitektur kolonial awal modern.

Hingga kini tetap berfungsi sebagai tempat pendidikan dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang masih bernilai tinggi.

10. Gedung PLN Kayutangan
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Kantor PLN UP3 Malang yang tidak banyak berubah sejak tahun 1948 (Facebook/JasaTukangListrikMalang, K.N. Ariffandi/malangraya.pikiran-rakyat.com)

Di kawasan Kayutangan Heritage juga berdiri Gedung PLN Kayutangan, salah satu bangunan kolonial yang dahulu merupakan kantor instansi listrik pada masa Hindia Belanda.

Meskipun telah beradaptasi dengan penggunaan modern, bangunan ini menyimpan desain arsitektural peninggalan kolonial yang masih terlihat dari struktur fasad dan materialnya.

11. Rumah Sakit Lavalette
Menyusuri Jejak Bangunan Kolonial di Kota Malang yang Masih Hidup Hingga Kini
Kliniek Lavalette di Malang sekitar tahun 1922. (jelajahmalangku.blogspot.com)

Pelayanan kesehatan warisan kolonial yang masih eksis. Rumah Sakit Lavalette berdiri sejak tahun 1918.

Atas prakarsa pengusaha perkebunan Hindia Belanda yang tergabung dalam Stichting Malangsche Zieken-verpleging.

Dahulu bernama “Lavalette Kliniek”, bangunan ini awalnya berfungsi sebagai klinik kesehatan dan sanatorium sebelum berkembang menjadi rumah sakit umum yang masih beroperasi hingga kini.

Lengkap dengan fasilitas medis modern namun tetap mempertahankan fasad kolonialnya.

Bangunan depan khas kolonial, termasuk tulisan “Lavalette Kliniek 1918”, masih terpampang sebagai penanda sejarahnya.

Bangunan-bangunan kolonial ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian hidup dari Kota Malang.

Fungsinya yang terus berjalan menjadikan sejarah, budaya, dan kehidupan modern bertemu dalam satu ruang kota yang dinamis.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *