Malanginspirasi.com – Setiap 14 Februari, jutaan orang di seluruh dunia merayakan Hari Valentine dengan bertukar bunga, cokelat, dan ungkapan kasih sayang. Namun, di balik kemeriahan ini, terdapat sejarah panjang yang berakar pada tradisi pagan dan Kristen, serta kontroversi di beberapa negara yang melarang perayaan ini karena dianggap bertentangan dengan nilai budaya atau agama. Sementara itu, dari sisi bisnis, hari ini telah menjadi mesin ekonomi raksasa, dengan proyeksi pengeluaran global mencapai puluhan miliar dolar AS, meskipun di tengah inflasi dan perubahan pola konsumsi.
Hari Valentine berakar dari Festival Lupercalia di Roma kuno, yang dirayakan pada pertengahan Februari sebagai ritual kesuburan. Para pria Romawi mengorbankan hewan dan menggunakan kulitnya untuk memukul wanita sebagai ritual yang diyakini dapat meningkatkan fertilitas atau kesuburan. Tak hanya itu, festival ini juga melibatkan undian nama untuk memasangkan pria dan wanita selama setahun, yang kadang berujung pada pernikahan.
Pada abad ke-5 M, Paus Gelasius I menggantikannya dengan peringatan Santo Valentine, seorang martir Kristen yang dieksekusi pada 270 M karena menikahkan pasangan secara rahasia, melawan perintah Kaisar Claudius II.
Legenda menyebutkan Valentine menulis surat cinta pertama bertanda “Dari Valentine-mu” sebelum eksekusi.
Pengagungannya menjadi sesuatu yang bernuansa romantis baru muncul pada Abad Pertengahan. Terutama setelah penyair seperti Geoffrey Chaucer dan William Shakespeare mempopulerkannya melalui karya-karya mereka.
Pada abad ke-18, tradisi kartu ucapan berkembang di Inggris. Lalu di abad ke-19 mulai diproduksi massal di AS, mengubahnya menjadi hari komersial.
Perayaan Hari Valentine memiliki keunikan di negara-negara non-Barat. Misal, di Jepang, wanita memberi cokelat. Sementara di Korea Selatan ada “White Day” sebagai balasan.
Cuan Miliaran Dolar
Dari sisi bisnis, Perayaan Hari Valentine adalah pendorong ekonomi signifikan.
Menurut survei National Retail Federation (NRF) AS, pengeluaran Valentine 2026 diproyeksikan mencapai rekor US$29,1 miliar, naik dari US$27,5 miliar tahun lalu.
Rata-rata, konsumen AS menganggarkan US$199,78 per orang, terutama untuk perhiasan yang mencapai angka sekitar US$7 miliar.
Kemudian ada perputaran uang untuk makan malam romantis (US$6,3 miliar), pakaian (US$3,5 miliar), dan bunga (US$3,1 miliar).
Sebanyak 55% orang AS merayakan, dengan 35% membeli hadiah untuk hewan peliharaan senilai US$2,1 miliar.
Secara global, pengeluaran melebihi angka AS, dengan Inggris mencapai £2,1 miliar, didorong oleh inflasi yang menaikkan harga mawar hingga 17%.

Industri ritel, florikultura, dan makanan manis mendapat lonjakan, meski pola K-shaped economy menunjukkan kelas atas lebih boros sementara kelas bawah memangkas anggaran.
Para ahli seperti Katherine Cullen dari NRF mencatat bahwa meski partisipasi turun dari 63% pada 2007 menjadi 55% kini, total pengeluaran naik 72% karena fokus pada hadiah berkualitas. Di tengah inflasi, harga permen naik 10% dan bunga 7,2%, tapi konsumen tetap antusias.
Adapun untuk bisnis lokal di Indonesia, meski ada larangan di beberapa daerah, penjualan online cokelat dan bunga tetap meningkat. Hal ini menunjukkan pergeseran ke tren digital.
Dilarang di Sejumlah Negara
Meski populer, Hari Valentine dilarang di beberapa negara karena dianggap sebagai impor budaya Barat yang berbenturan dengan budaya setempat.
Berikut negara-negara yang melarang perayaan Hari Valentine:
- Arab Saudi: Larangan ketat diterapkan oleh polisi agama (sebelumnya disebut Komisi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan), yang melarang penjualan mawar merah, cokelat hati, dan kartu ucapan karena dianggap mempromosikan perilaku tidak Islami di luar pernikahan. Meskipun ada pelonggaran sejak berkuasanya Muhammad bin Salman (MBS), perayaan masih dibatasi.
- Iran: Sejak 2011, pemerintah melarang produksi dan penjualan barang Valentine, menyebutnya sebagai “simbol budaya Barat yang keblabasan” yang mendorong perilaku tidak bermoral. Polisi memantau toko dan restoran untuk mencegah perayaan.
- Pakistan: Pengadilan Tinggi Islamabad melarang perayaan publik pada 2017, dengan alasan bukan bagian dari budaya Muslim dan mendorong “ketidaksopanan”. Larangan ini berlaku di wilayah tertentu, meskipun di kota besar seperti Lahore dan Karachi, perayaan pribadi masih terjadi.
- Malaysia: Fatwa sejak 2005 dari otoritas Islam melarang perayaan karena melanggar hukum syariah, terutama di negara bagian dengan mayoritas Muslim. Kendati tidak diterapkan secara ketat dalam skala nasional, razia terkadang dilakukan untuk mencegah pesta atau penjualan barang terkait.
- Indonesia: Tidak dilarang secara nasional, tetapi di beberapa provinsi dan kota seperti Makassar, Padang, dan Banda Aceh, otoritas lokal atau kelompok Islam melarang perayaan di sekolah dan tempat umum karena dianggap mendorong seks bebas dan bukan budaya Indonesia.

Penolakan pelajar Indonesia terhadap Perayaan Hari Valentine. (Daily Mail) - Korea Utara: Tidak dirayakan sama sekali karena pemerintah tidak mengakui hari libur Barat, dan fokus pada ideologi negara. Perayaan romantis dianggap sebagai pengaruh kapitalis.
- Uzbekistan: Dilarang sejak 2012 oleh pemerintah, dengan alasan melindungi nilai budaya nasional dari pengaruh asing.
- Turkmenistan: Mirip dengan Uzbekistan, perayaan dibatasi oleh kebijakan pemerintah yang menekankan tradisi lokal daripada impor Barat.
Sebagai sebuah tradisi yang menekankan momen romantis (terutama pada pasangan kekasih), Hari Valentine akan terus dirayakan di berbagai belahan dunia karena sudah dianggap menjadi simbol kasih sayang secara universal.








