Malanginspirasi.com – Terdapat satu fenomena paling eksotis dan ekstrem di dasar laut yang mengungkap dinamika planet seluas ini dan jarang terskpos, yaitu Brine Pools.
Brine pools atau disebut juga danau bawah laut merujuk pada fenomena kolam air laut dengan kadar garam sangat tinggi yang terbentuk di dasar laut.
Air dalam brine pools bisa tiga sampai delapan kali lebih asin dibanding air laut normal, sehingga menjadi lebih padat dan berat.
Karena perbedaan densitas ini, air asin tersebut tidak tercampur dengan air laut di sekitarnya, menciptakan badan air terpisah yang menyerupai danau di bawah laut.
Proses Terbentuknya Brine Pools
Proses terbentuknya berkaitan erat dengan geologi dasar laut dan lapisan garam purba. Saat air laut meresap ke dalam kerak bumi dan bertemu lapisan garam bawah tanah, air tersebut melarutkan garam.
Kemudian menghasilkan cairan yang sangat asin dan padat. Cairan ini kemudian keluar ke dasar laut melalui retakan (fissure) atau vent, lalu mengalir ke cekungan, dan terbentuklah brine pools.
Baca Juga:
Fenomena Hujan Meteor Geminids, Salah Satu Pertunjukan Langit Terindah di Bulan Desember
Di beberapa area seperti Teluk Meksiko dan Laut Merah, lapisan garam purba itu terbentuk ketika lautan dangkal mengering jutaan tahun lalu, lalu kembali terisi.
Meninggalkan endapan garam tebal di bawah dasar laut. Pergerakan geologi atau tekanan sedimen kemudian membuat garam terlarut ke atas atau bocor ke laut, membentuk brine pools.

Lokasi Brine Pools Terkenal Dunia
– Red Sea atau Laut Merah, wilayah dengan konsentrasi tertinggi Brine Pools.
Khususnya kompleks yang diberi nama NEOM Brine Pools di Teluk Aqaba. Ditemukan pada kedalaman sekitar 1.770 meter dan hanya sekitar 2 km dari garis pantai Arab Saudi.
– Gulf of Mexico, juga terdapat brine pools besar, termasuk yang paling dalam diketahui, bernama Orca Basin, berada pada kedalaman lebih dari 2.200 meter.
Surga bagi Kehidupan Ekstrem
Kadar garam yang tinggi, larutannya yang berat, dan kondisi anoksik (tanpa oksigen) membuatnya mematikan bagi ikan, krustasea, dan banyak organisme laut lainnya.
Bahkan sering ditemukan sisa mayat ikan, kepiting, dan hewan laut lain mengambang di permukaan atau terbenam di dasar brine pools.
Pantas diberi julukan “lubang keputusasaan” dan “bak air panas kematian.”
Namun, di tepi perbatasan antara air asin dan air laut biasa hidup sejumlah besar mikroba ekstremofilik serta invertebrata yang mampu bertahan di kondisi ekstrem.
Mikroba ini menjalankan chemosynthesis, menghasilkan energi dari bahan kimia seperti metana atau sulfida yang dihasilkan dari ventilasi hidrokarbon bawah laut, bukan dari sinar matahari.

Gulf Hagfish adalah satu-satunya spesies yang diketahui mampu memasuki kolam air garam tanpa cedera.
Sebagai kru pembersih laut dalam, mereka menjalankan fungsi ini di sekitar rembesan air garam tempat mereka hidup.
Hidup dari kerang dan bangkai makhluk yang cukup malang untuk memasuki air garam.

Tube Worms ini hidup di rembesan dingin dan kolam air garam laut dalam, tempat bahan kimia merembes keluar dari dasar laut.
Oleh karena itu, ia sepenuhnya bergantung pada simbiosis dengan bakteri kemosintetik untuk nutrisinya. Bakteri ini hidup di dalam tabung, tempat mereka terlindungi dari predator.
Alasan Brine Pools Menarik Diteliti
Ilmuwan tertarik mempelajari brine pools karena beberapa alasan utama.
1. Brine pool menyimpan arsip geologis alami, dengan sedimen di dasarnya yang terpelihara dengan baik karena kondisi anoksik.
Contohnya, NEOM Brine Pools menyimpan jejak sedimen dan sejarah iklim atau tsunami hingga lebih dari 1.200 tahun terakhir. Ditemukan oleh Profesor Purkis dari Univrsity of Miami dan rekan-rekan.

2. Brine pool dianggap sebagai analog potensi lingkungan awal Bumi karena kondisi ekstrem dan isolasi kimiawinya. Sehingga studi asal-usul kehidupan dapat dilakukan menurut laporan Sci.News.
Kehidupan mikroba ekstrem di sana bisa memberi petunjuk bagaimana kehidupan bisa bertahan di lingkungan ekstrem.
3. Brine pool memiliki ekosistem unik di bagian pinggirannya, yang dihuni oleh komunitas makhluk hidup seperti kerang dan mikroba chemosintetik. Sehingga menarik bagi ahli biologi kelautan yang mempelajari adaptasi ekstrem.








