Butuh Pengembangan Lebih Lanjut
Namun, Tirana juga menekankan perlunya penyesuaian dalam aspek biaya agar ke depan sistem ini menjadi lebih efisien dan ekonomis tanpa mengurangi kualitas.
“Masih perlu adanya penyesuaian dalam biaya agar kedepannya bisa lebih efisien dan ekonomis. Tapi kami optimis bahwa ini merupakan bentuk investasi yang di masa depan bisa memberikan nilai tambah signifikan untuk sektor peternakan,” tambahnya.
Ke depan, LENTERA direncanakan untuk dilengkapi dengan teknologi AI yang lebih canggih, seperti pengenalan visual berbasis YOLO untuk memantau berat badan ayam secara otomatis melalui kamera CCTV.
“Misalnya ada ayam yang bobotnya tidak ideal, sistem akan langsung mendeteksinya. Teknologi ini membutuhkan pengembangan lebih lanjut,” kata Danung.
Selain itu, pengembangan berikutnya mencakup otomatisasi pemberian pakan dan air minum.
“Untuk sekarang, suplai makanan masih manual. Tapi nanti kami akan kembangkan supaya semuanya bisa otomatis,” tambahnya.
LENTERA adalah bagian dari upaya Universitas Brawijaya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Peresmian AI Center dan Data Center di UB pada Minggu (5/1/2025) oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjadi momentum penting untuk memperkuat pengembangan teknologi seperti LENTERA.
Meutya Hafid menyatakan bahwa teknologi berbasis AI di sektor peternakan memiliki potensi besar untuk mendukung program pemerintah.
“Teknologi seperti LENTERA ini dapat memberikan dampak langsung. Tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan peternak kecil,” ujarnya.
Melalui LENTERA, UB menunjukkan komitmennya dalam menciptakan teknologi yang relevan dan berdampak luas. Dengan dukungan penuh dari universitas dan pemerintah, LENTERA diharapkan dapat menjadi solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi peternakan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.







