Malanginspirasi.com – Pernah merasa hidup tiba-tiba terasa mandek, bingung mau melangkah ke mana, sementara pertanyaan soal jodoh dan pernikahan justru jadi yang paling mengganggu pikiran?
Banyak anak muda yang memasuki fase ini tanpa persiapan, sehingga tekanan sosial terasa semakin menyesakkan.
Di tengah quarter life crisis, dorongan dari sekitar untuk “segera menikah” sering terdengar sebagai solusi instan dari rasa gelisah dan ketidakpastian hidup.
Padahal, menikah bukan pelarian dari masalah. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan sebelum seseorang merasa benar-benar layak untuk membangun rumah tangga.
Fase ini wajar dialami banyak orang, dan memahami apa yang terjadi dalam diri dapat membantu mengurangi tekanan yang terasa.
Mari telaah lebih dalam tentang krisis kehidupan, kesiapan menikah, dan bagaimana menavigasi tekanan sosial yang datang bertubi-tubi.
Quarter Life Crisis dan Tekanan Sosial
Dilansir melalui Instagram @taulebih.id, data menunjukkan bahwa 75% orang usia 25–33 tahun mengalami quarter life crisis.
Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 55–59%. Pada fase ini, kecemasan tentang karier, masa depan, hingga jodoh sering muncul bersamaan.
Sayangnya, banyak yang menganggap bahwa memiliki pasangan atau menikah adalah jalan paling cepat untuk “menenangkan” hidup, padahal tekanan tersebut justru bisa memperburuk kondisi mental.
Sementara itu, quarter life crisis adalah pengalaman yang umum, dan kamu tidak sendirian.
Ketakutan gagal, bingung menentukan langkah hidup, dan perasaan tertinggal dibanding teman sebaya sering membuat seseorang merasa tidak cukup.
Pada titik inilah, tekanan untuk segera punya pasangan semakin kuat.
Siap Nikah itu Seperti Apa?
Masih dari sumber yang sama, banyak orang mengira bahwa kesiapan menikah berarti harus sudah sempurna dalam berbagai aspek.
Padahal, siap bukan berarti sempurna, melainkan memiliki dasar-dasar yang cukup untuk memulai perjalanan panjang pernikahan.
Baca Juga:
Sebelum Cari Pasangan Hidup, Pastikan Dulu Kamu Sudah Punya Tujuan Hidup
Kesiapan mental dan emosional, kemampuan mengelola emosi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi fondasi penting.
Selain itu, aspek finansial seperti kemampuan menafkahi, mengatur keuangan, dan tidak terbebani utang konsumtif juga menjadi bagian dari kesiapan.
Ditambah lagi, pemahaman tentang fikih munakahat, tanggung jawab pernikahan, serta kesanggupan berkomitmen dalam jangka panjang.
Semua aspek ini menegaskan bahwa kesiapan menikah adalah proses, bukan hasil instan.
Benarkah Nikah Bisa Bikin Hidup Tenang?
Ada anggapan bahwa menikah akan langsung membawa ketenangan.
Namun nyatanya, penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan yang menikah terlalu muda memiliki risiko depresi 9,6% lebih tinggi.
Menikah tanpa kesiapan dapat membuka pintu terhadap stres tambahan, konflik berkepanjangan, hingga potensi perceraian.
Tekanan untuk menikah sering kali berasal dari keinginan untuk kabur dari kecemasan hidup. Padahal, jika fondasi mental tidak matang, pernikahan justru bisa memperburuk kondisi.
Pernikahan bukanlah pelarian, melainkan komitmen panjang yang membutuhkan tanggung jawab.
Perspektif Islam tentang Kesiapan Menikah
Dalam ajaran Islam, menikah memang dianjurkan, tetapi kesiapan tetap menjadi syarat.
QS. An-Nur ayat 33 mengingatkan bahwa mereka yang belum mampu hendaknya menjaga diri hingga Allah memberikan kemampuan.
Kata “kemampuan” mencakup kesiapan mental, fisik, finansial, hingga pemahaman tanggung jawab sebagai suami atau istri.
Menariknya, QS. An-Nur ayat 32 juga menegaskan bahwa Allah akan memberi kemampuan bagi yang berniat baik dan memiliki calon yang tepat.
Artinya, selama sudah memenuhi basic readiness, tidak perlu berlebihan dalam mengkhawatirkan rezeki.
Namun, ayat ini bukan pembenaran untuk menikah tanpa persiapan karena ikhtiar tetap menjadi bagian dari proses.
Dilema Muslim di Fase Quarter Life Crisis
Empat dilema utama yang sering menghantui anak muda Muslim antara lain:
1. Takut dianggap menunda sunah ketika sebenarnya sedang mempersiapkan diri
2. Merasa FOMO karena teman-teman sudah menikah
3. Desakan keluarga yang tidak sejalan dengan kesiapan mental dan finansial
4. Kebingungan memilih antara fokus karier atau memulai pernikahan.
Dilema-dilema ini membuat beban pikiran semakin berat. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Tidak ada satu pun standar usia yang wajib diikuti untuk menikah.
Kapan Harus Take Your Time, Kapan Harus Action?
Ada kalanya kamu perlu mengambil waktu, terutama jika belum punya penghasilan stabil, kesulitan mengontrol emosi.
Serta belum memahami hak dan kewajiban pernikahan, atau belum memiliki calon yang serius.
Dalam kondisi ini, terburu-buru menikah justru berpotensi menambah masalah.
Namun, jika kamu sudah memiliki basic readiness, calon yang sekufu, niat baik, dan komitmen kuat, tetapi hanya terhalang rasa takut atau overthinking, maka saatnya mulai bergerak.
Overthinking bukan alasan untuk menunda kebahagiaan yang sudah di depan mata.
Kuncinya adalah keseimbangan, tidak membandingkan diri dengan orang lain, tetapi juga tidak menjadikan “belum siap” sebagai tameng selamanya.
Menikah adalah Perjalanan, Bukan Perlombaan
Pernikahan bukan kompetisi untuk menjadi yang paling cepat. Setiap orang menjalani hidup dengan timeline berbeda.
Menunggu waktu yang tepat sambil mempersiapkan diri adalah bentuk ikhtiar terbaik. Begitu pula ketika sudah siap, tak perlu menunda hanya karena ketakutan akan masa depan.
Kesiapan menikah adalah tentang proses menjadi versi diri yang lebih matang, bukan mengikuti tekanan sosial yang memaksa.







