Bolehkah Muslim Menyukai Ayat Alkitab? Ini Hukumnya

Malanginspirasi.com – Dalam beberapa situasi, sebagian Muslim mungkin merasa tertarik dan menyukai ayat-ayat dalam Alkitab. Baik karena nilai moral, gaya bahasa, atau rasa ingin tahu terhadap ajaran agama lain. Berikut hukum bagi Muslim dan penjelasan lengkapnya.

Dilansir dari muslim.or.id, ulama telah memberikan panduan bagi muslim dalam melihat kitab-kitab yang dinilai telah mengalami perubahan dari wahyu aslinya.

Karena seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama kebenaran yang terjaga keasliannya.

Jadi jika seorang muslim yang awam menyukai atau membaca ayat Alkitab, hal ini berisiko bercampurnya kebenaran dan kebatilan dalam kitab tersebut.

Hukum Bagi Muslim yang Menyukai atau Membaca Ayat Alkitab

Para ulama menegaskan bahwa seorang Muslim tidak dianjurkan bahkan tidak diperbolehkan membaca kitab-kitab yang di dalamnya bercampur antara kebenaran dan kebatilan.

Larangan ini muncul untuk menjaga akidah dan mencegah kesalahan pemahaman yang mungkin terjadi ketika seseorang mempelajari teks yang telah mengalami tahrif.

Karena setiap pertanyaan dan permasalahan umat islam bisa sicari jawabannya di dua sumber sahih, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bahkan Nabi Muhammad secara tegas memperingatkan umat Islam agar berhati-hati dengan kitab-kitab Ahli Kitab.

Baca Juga:

Tidak Tahu Kalau Sedang Haid dan Terlanjur Shalat, Apa Hukumnya?

Seperti dalam kisah Umar bin Khattab RA yang membawa sebuah tulisan dari sebagian Ahli Kitab.

Melihat hal itu, Rasulullah marah dan mengingatkan bahwa ajaran Islam telah datang dalam keadaan putih bersih, tanpa kekurangan.

Lebih lanjut, Rasulullah bersabda bahwa bila seorang Muslim meminta penjelasan kepada Ahli Kitab, bisa jadi mereka memberitahu kebenaran yang didustakan, atau kebatilan lalu dipercaya.

Bahkan Nabi SAW menegaskan jika seandainya Nabi Musa AS masih hidup, beliau pun wajib mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, menyukai ayat Alkitab dalam konteks mengagumi isinya tanpa pengetahuan yang cukup dianggap berisiko.

Karena hal ini bukan hanya soal membaca teks, tetapi juga potensi penyimpangan akidah. Sehingga membuat umat muslim bingung akan ajaran Islam.

Para ulama juga mengingatkan bahwa seseorang tidak memerlukan kitab selain Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mendapatkan petunjuk yang benar.

Pengecualian Diperbolehkan

Namun ada kondisi khusus yang menjadi pengecualian. Bagi orang yang memiliki pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Mempelajari kitab-kitab seperti Injil atau Taurat diperbolehkan dengan tujuan dakwah.

Pengecualian ini hanya berlaku bagi ulama kuat ilmunya. Karena mereka dinilai mampu mengkritisi isi kitab tersebut tanpa menjadi bingung akan hal yang benar dan salah.

Ibnu Taimiyah merupakan salah satu ulama yang mendapatkan pengecualian tersebut.

Ia tidak membaca kitab-kitab ahli logika, filsafat, atau kitab Rafidhah untuk mencari ajaran, melainkan untuk mengungkap kelemahan dan kesalahannya.

Melalui karyanya, seperti Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah dan Al-Jawab Ash-Shahih li man Baddala Din Al-Masih.

Ia menunjukkan kontradiksi yang terdapat dalam Injil serta kesalahan keyakinan kaum Nasrani.

Jadi, ia membaca alkitab bukan karena suka dengan ajaran mereka, tetapi karena kebutuhan ilmiah untuk membela Islam.

Dengan demikian, hukum menyukai ayat Alkitab tidak dapat dipisahkan dari niat, tingkat ilmu, serta risiko penyimpangan.

Jadi dapat disimpulkan, “menyukai” ayat Alkitab bukanlah sekadar masalah selera, tetapi berkaitan erat dengan prinsip menjaga akidah.

Kecintaan seorang Muslim seharusnya terarah pada Al-Qur’an sebagai wahyu murni yang terjaga, serta pada ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk terakhir bagi umat manusia.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *