Kisah Al-Mustakfi: Dilengserkan dari Jabatan Khalifah Karena Ketidakadilan

Malanginspirasi.com – Abad ke-4 Hijriah menjadi salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Baghdad. Kekhalifahan Abbasiyah yang sebelumnya dikenal kuat dan berwibawa mulai kehilangan kendali, terlebih saat kepemimpinan Al-Mustakfi, berikut kisahnya.

Harga kebutuhan pokok melonjak, keamanan memburuk, dan rakyat hidup dalam ketidakpastian akibat konflik kekuasaan yang tak berkesudahan.

Di tengah kondisi tersebut, Al-Mustakfi naik takhta sebagai khalifah pada tahun 333 H.

Namun harapan rakyat akan hadirnya pemimpin yang mampu melindungi dan menata kembali keadaan justru berujung pada kekecewaan baru.

Kepemimpinannya dianggap gagal menjawab krisis yang melanda Baghdad.

Kejatuhan Al-Mustakfi di Tengah Kekacauan Politik Baghdad

Dilansir dari Instagram @nuonline_id, sejak awal pemerintahannya, Al-Mustakfi tidak memegang kendali nyata atas kekuasaan.

Kekhalifahan Abbasiyah saat itu berada di bawah bayang-bayang para jenderal Turki dan pejabat ambisius.

Nama-nama seperti Tuzun dan Ibn Syarizad lebih menentukan arah kebijakan dibandingkan sang khalifah sendiri.

Dominasi militer Turki dan Daylam membuat kehidupan rakyat semakin sulit. Jalanan Baghdad dikuasai tentara bayaran, sementara korupsi dan perebutan pengaruh antar faksi terus berlangsung.

Dalam situasi ini, Al-Mustakfi tidak menjalankan peran Khalifah. Ia tidak mampu mengendalikan tentara maupun mengamankan rakyatnya.

Kekecewaan masyarakat Baghdad semakin memuncak. Rakyat merasa hidup mereka ditentukan oleh konflik elite militer, bukan oleh kebijakan adil dari seorang khalifah.

Bahkan generasi muda Baghdad ikut larut dalam gaya hidup mewah ala penguasa militer.

Ketika Muʿizz ad-Dawla dari dinasti Buyid memasuki Baghdad pada tahun 334 H, hampir tidak ada perlawanan berarti.

Rakyat yang lelah justru berharap kehadiran kekuatan baru ini mampu membawa ketertiban dan keamanan yang gagal diwujudkan oleh Al-Mustakfi.

Sejak saat itu, wibawa khalifah semakin runtuh. Muʿizz ad-Dawla menguasai seluruh kendali pemerintahan, sementara Al-Mustakfi hanya diberi tunjangan terbatas untuk istana.

Pelongsoran Gelar

Gelar “Imamul Haqq” yang disandangnya tidak berarti lagi di mata rakyat maupun elite politik.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika sebuah jamuan makan yang diselenggarakan ‘Alam al-Qahramanah dituding sebagai upaya rahasia menggalang dukungan bagi khalifah.

Laporan tentang pertemuan tersebut memicu kecurigaan Muʿizz ad-Dawla, yang kemudian menuduh Al-Mustakfi berkhianat.

Pada 8 Jumadal Akhirah 334 H, dua perwira Daylam memasuki istana dengan dalih meminta gaji. Mereka mendekat seolah hendak mencium tangan khalifah.

Namun tiba-tiba menariknya dengan kasar hingga Al-Mustakfi terjatuh. Sorbannya dililitkan ke leher, dan istana pun berubah menjadi arena kekacauan.

Baca Juga:

Kisah Syekh Zakaria al-Anshari Dicopot dari Jabatannya karena Menegur Penguasa

Pasukan Buyid menyerbu istana dan menjarah harta tanpa sisa. Al-Mustakfi digiring keluar layaknya tawanan, sementara rakyat hanya menonton.

Sebagian bahkan ikut menjarah, menandakan bahwa sang khalifah telah kehilangan simpati sepenuhnya.

Tragedi tidak berhenti di sana. Untuk mencegah kemungkinan ia kembali berkuasa, mata Al-Mustakfi dibutakan.

Ia menjadi khalifah Abbasiyah ketiga yang mengalami nasib pahit serupa. Beberapa tahun kemudian, ia wafat dalam tahanan, jauh dari kehormatan yang seharusnya melekat pada seorang pemimpin.

Kisah kejatuhan Al-Mustakfi menunjukkan bahwa saat keadilan dan rasa aman gagal diwujudkan, takhta pun menjadi rapuh dan mudah tumbang.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *