Fatherless dalam Islam: Dampak dan Pentingnya Peran Ayah dalam Keluarga

Malanginspirasi.com – Fenomena fatherless kini menjadi perhatian serius di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dilansir dari Instagram @nuonline_id, istilah fatherless adalah kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan peran ayah, baik secara fisik maupun psikologis.

Secara fisik, fatherless bisa terjadi karena anak berjauhan dengan ayahnya. Bisa sebab kematian, perceraian orang tua, anak dititipkan ke nenek atau pengasuh, dan lain sebagainya.

Sementara secara psikologis, fatherless terjadi saat ayah yang tidak menjalankan perannya secara bertanggung jawab dalam keluarga.

Sehingga anak tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya meskipun sang ayah masih hidup.

Dampak Fatherless Terhadap Anak

Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak kehilangan figur penting dalam hidupnya. Padahal, dampak fatherless terhadap tumbuh kembang anak tergolong signifikan.

Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah lebih rentan mengalami masalah emosional seperti kecemasan, depresi, hingga rendahnya harga diri.

Selain itu, mereka juga berisiko menunjukkan perilaku agresif, seperti kenakalan remaja, bahkan terjerumus pada penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Masih dari sumber yang sama, data UNICEF tahun 2021 menunjukkan bahwa fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Tercatat sebanyak 20,9 persen anak di Indonesia hidup tanpa kehadiran ayah.

Dari total 30,83 juta anak usia dini berdasarkan Susenas 2021, sekitar 826 ribu anak tidak tinggal bersama ayah maupun ibu.

Sementara 2,17 juta anak hanya tinggal bersama ibu. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah anak fatherless tertinggi di dunia.

Peran Ayah dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, peran ayah sangat ditekankan dalam pembentukan karakter dan akhlak anak. Ayah tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan materi.

Tetapi juga memberi cinta, perhatian, serta bimbingan moral dan spiritual.

Al-Qur’an bahkan mengabadikan peran ini melalui kisah Luqman dalam QS. Luqman [31]: 13–19, ketika seorang ayah menasihati anaknya agar tidak mempersekutukan Allah. Sekaligus menanamkan nilai tauhid dan akhlak mulia sejak dini.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad as-Shawi dalam Hasyiah al-Shawi ‘ala al-Jalalain.

Ia menjelaskan bahwa ayah memiliki peran besar dalam membentuk akhlak dan kepribadian anak.

Keteladanan, nasihat, dan kehadiran ayah menjadi fondasi penting dalam pertumbuhan jiwa dan moral seorang anak.

Tanpa figur ayah, anak berpotensi kehilangan sumber kasih sayang, rasa aman, serta teladan dalam bersikap.

Baca Juga:

Jangan Sepelekan! Peran Ayah Bisa Menentukan Nasib Anak

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga memengaruhi perilaku, pendidikan, dan kemampuan sosial anak.

Anak fatherless lebih rentan mengalami kesulitan belajar, terlibat bullying, atau kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Kesimpulannya, tidak hanya dari segi psikologis, Islam juga menyoroti isu fatherless ini. Karena peran ayah dalam keluarga sangat penting.

Kehadiran ayah yang utuh, baik secara fisik maupun emosional, merupakan bagian dari amanah Allah SWT yang harus dijaga.

Dengan menjalankan peran tersebut, ayah turut berkontribusi menciptakan generasi yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan berakhlak mulia.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *