Malanginspirasi.com – Lupa adalah bagian dari sifat dasar manusia yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Bahkan sejak manusia pertama diciptakan, lupa sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Dilansir dari Instagram @nuonline_id, Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pun pernah menyatakan bahwa beliau terkadang lupa agar menjadi pelajaran bagi umatnya (HR. Malik).
Dari sini dapat dipahami bahwa sifat lupa bukan merupakan aib. Sebaliknya, sifat ini bisa menjadi ruang pembelajaran, terutama dalam urusan ibadah.
Salah satu bentuk lupa yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah saat lupa jumlah raka’at salat.
Pikiran yang melayang, kurangnya kekhusyukan, atau kelelahan sering membuat seseorang ragu apakah sudah melaksanakan tiga atau empat raka’at.
Bahkan, tidak jarang seseorang baru menyadarinya setelah salam diucapkan. Lalu, bagaimana seharusnya sikap yang benar ketika lupa jumlah raka’at shalat?
Cara Menyikapi Lupa Jumlah Raka’at Salat Menurut Ulama
Masih dari sumber yang sama, para Imam an-Nawawi dalam Raudhatut Thalibin menjelaskan bahwa jika seseorang ragu jumlah raka’at saat masih dalam salat. Maka ia harus mengambil jumlah raka’at yang paling sedikit karena itulah yang paling yakin.
Sebagai contoh, ketika salat Zuhur seseorang ragu apakah ia sudah melaksanakan tiga atau empat raka’at, maka ia harus menganggapnya masih tiga raka’at.
Setelah itu, ia menambahkan satu raka’at lagi agar genap empat raka’at.
Setelah menyempurnakan raka’at yang kurang tersebut, sebelum salam dianjurkan melakukan sujud sahwi.
Sujud sahwi ini berfungsi sebagai penyempurna shalat akibat adanya keraguan atau kelupaan yang terjadi.
Berbeda halnya jika seseorang baru ingat setelah salam bahwa ada raka’at yang tertinggal.
Jika hal ini terjadi, Imam al-Qaffal dalam Hilyatul Ulama fi Ma’rifatil Madzahibil Fuqaha menyebutkan bahwa perlu diperhatikan jarak waktu antara salam dan ingatnya kekurangan raka’at tersebut.
Jika seseorang ingat tidak lama setelah salam, maka ia diperbolehkan langsung berdiri untuk menambahkan raka’at yang kurang.
Setelah menyempurnakan raka’at tersebut, ia kembali menutup salat dengan sujud sahwi sebagai penyempurna.
Baca Juga:
Penjelasan Fikih: Bolehkah Tetap Shalat Saat Mimisan?
Namun, jika seseorang baru ingat setelah selang waktu yang lama, maka salat tersebut harus diulang dari awal. Namun para ulama punya perberbedaan pendapat mengenai batasan “waktu yang lama” ini.
Abu Ishaq asy-Syairazi menyebut “lamanya waktu” ini sekitar satu raka’at salat. Namun sebagian ulama lain mengembalikan pada kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat.
Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa jangan panik saat lupa jumlah raka’at salat. Karena lupa merupakan sifat dasar manusia. Fikih pun telah mengaturnya secara lengkap bila hal ini terjadi.
Karena Islam memberikan kemudahan agar ibadah tetap sah dan tidak memberatkan umatnya.
Dengan memahami panduan ini, diharapkan ibadah salat dapat dijalankan dengan lebih tenang dan penuh kesadaran.







