Malanginspirasi.com – Nasihat untuk berhenti maksiat sangat dinanti bagi banyak orang yang menyadari bahwa dirinya terjebak dalam perbuatan maksiat. Namun merasa tidak berdaya untuk benar-benar berhenti.
Niat tobat sudah berkali-kali, juga sudah menyesal, tapi dosa yang sama kembali terulang. Kondisi ini sering kali menimbulkan kelelahan batin dan rasa putus asa.
Menyikapi hal ini, Imam Al-Ghazali punya panduan yang sangat manusiawi bagi mereka yang berada dalam situasi tersebut.
Beliau tidak memulai dengan tuntutan yang berat, melainkan menawarkan jalan bertahap yang berangkat dari kesadaran diri dan kejujuran hati.
Muhasabah sebagai Jalan Awal Menghentikan Maksiat
Dilansir dari Instagram @nuonline_id, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa langkah pertama bagi orang yang sulit berhenti dari maksiat adalah muhasabah atau introspeksi diri.
Muhasabah bukan sekadar menyesali dosa, tetapi menyadari secara penuh apa yang dilakukan, mengapa itu terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi diri sendiri dan akhirat.
Menurut Imam Al-Ghazali, muhasabah harus dilakukan secara terus-menerus, terutama oleh orang yang berulang kali jatuh dalam dosa yang sama.
Ia menegaskan bahwa introspeksi diri tidak cukup dilakukan sesekali. Melainkan perlu ditingkatkan bagi mereka yang merasa tidak jera dari perbuatan maksiat meski memiliki keinginan kuat untuk berhenti.
Dalam Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali bahkan menganjurkan agar muhasabah dilakukan setiap waktu, bahkan di setiap tarikan napas.
Setiap kali maksiat lahir maupun batin terjadi, di situlah muhasabah harus segera dihadirkan agar kesadaran tidak terputus.
Untuk menggugah hati, Imam Al-Ghazali memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh. Ia mengajak seseorang membayangkan bahwa setiap kali berbuat maksiat, seolah-olah satu batu dilemparkan ke rumahnya.
Jika dosa dilakukan terus-menerus, maka rumah itu akan cepat dipenuhi batu dan tak lagi layak huni.
Sayangnya, banyak orang memandang remeh dosa kecil karena tidak langsung melihat dampaknya.
Padahal, menurut Imam Al-Ghazali, para malaikat pencatat amal tidak pernah lalai mencatat setiap perbuatan, sekecil apa pun dosa tersebut.
Sehingga muhasabah berfungsi untuk membangunkan kesadaran bahwa maksiat bukanlah perkara sepele.
Dosa kecil yang dibiarkan akan menumpuk, dan pada akhirnya bisa menenggelamkan pelakunya tanpa disadari.
Anjuran Beri Sanksi untuk Diri Sendiri
Selain muhasabah, Imam Al-Ghazali juga menganjurkan adanya bentuk “hukuman” atau sanksi mendidik bagi diri sendiri ketika terjatuh dalam maksiat.
Hukuman ini bukan untuk menyiksa, melainkan untuk melatih jiwa agar lebih terkendali.
Contohnya, jika seseorang tergelincir dalam hal yang syubhat terkait makanan, maka ia dianjurkan untuk menggantinya dengan puasa.
Jika maksiat dilakukan melalui pandangan, maka sanksinya adalah lebih sungguh-sungguh menundukkan pandangan.
Begitu pula jika kesalahan dilakukan dengan lisan atau tangan, hendaknya diberi sanksi yang mendidik hati.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa jika seseorang kehilangan kendali atas dirinya, maka maksiat akan terasa ringan dan dianggap biasa.
Padahal, sikap meremehkan inilah yang justru membuka jalan menuju kehancuran spiritual.
Pada akhirnya, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa tobat bukan berarti seseorang langsung menjadi suci tanpa dosa.
Tobat adalah komitmen untuk terus bangkit, meski harus jatuh berkali-kali.
Selama muhasabah terus dijaga dan kesadaran diri tetap hidup, pintu perbaikan selalu terbuka.
Wallahu’alam.







