Malanginspirasi.com – Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai bentuk hiburan yang mudah diakses oleh manusia. Di tengah aktivitas harian yang padat, rasa jenuh dan lelah kerap melanda sehingga seseorang membutuhkan hiburan dan rehat sejenak. Salah satu bentuk hiburan yang banyak diminati saat ini adalah bermain game.
Game online seperti Roblox, Candy Crush, Plants vs Zombie, Genshin Impact, hingga Mobile Legend menjadi pilihan banyak orang untuk mengisi waktu luang.
Bahkan, bermain game bersama teman atau yang dikenal dengan istilah mabar memberikan keseruan tersendiri.
Kemudahan akses internet membuat hiburan ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari umat Islam.
Sehingga muncul pertanyaan mengenai bagaimana hukum bermain game dalam pandangan Islam.
Lansiran NU Online
Dilansir dari laman NU Online, dalam Islam, penilaian hukum game-game tersebut dianalogikan (qiyas) dengan permainan secara umum yang telah dikenal sejak zaman dahulu.
Pada masa lalu, meskipun belum ada teknologi digital seperti sekarang, para ulama telah membahas hukum berbagai permainan.
Salah satu contohnya adalah permainan catur. Dalam kitab Fathul Muin IV/285 disebutkan:
واللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو بنسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام
Artinya: “Bermain catur hukumnya makruh; bila tidak disertai dengan harta dari kedua pemain atau salah satunya (karena berarti judi), atau tidak sampai meninggalkan sholat meskipun dikarenakan unsur lupa, atau tidak bermain bersama orang yang berkeyakinan mengharamkan catur tersebut.”
Penjelasan ini menunjukkan bahwa hukum permainan tidak bersifat tunggal, melainkan bergantung pada unsur-unsur yang menyertainya.
Prinsip inilah yang kemudian digunakan para ulama untuk menilai hukum permainan modern, termasuk game online.
Klasifikasi Hukum Permainan dalam Islam
Dalam kitab Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah juz 35/268–269 game memiliki klasifikasi hukum yang berbeda, tergantung dari jenis permainan dan unsur yang menyertainya:
اللَّعبُ مِنْهُ مَا هُوَ مُبَاحٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ وَمِنْهُ مَا هُوَ مَكْرُوهٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُحَرَّم
Artinya: “Permainan itu ada yang mubah, ada yang dianjurkan, makruh dan haram.”
Permainan yang mubah dijelaskan sebagai berikut:
فَمِنَ اللَّعِبِ الْمُبَاحِ الْمُسَابَقَةُ الْمَشْرُوعَةُ عَلَى الأْقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَنَحْوِ ذَلك وَإِبَاحَةُ اللَّعِبِ إِنَّمَا يَكُونُ بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَكُونَ فِيهِ دَنَاءَةٌ يَتَرَفَّعُ عَنْهَا ذَوُو الْمَرُوءَاتِ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَتَضَمَّنَ ضَرَرًا فَإِنْ تَضَمَّنَ ضَرَرًا لإِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ كَالتَّحْرِيشِ بَيْنَ الدُّيُوكِ وَالْكِلاَبِ وَنِطَاحِ الْكِبَاشِ وَالتَّفَرُّجِ عَلَى هَذِهِ الأْشْيَاءِ فَهَذَا حَرَامٌ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَشْغَل عَنْ صَلاَةٍ أَوْ فَرْضٍ آخَرَ أَوْ عَنْ مُهِمَّاتٍ وَاجِبَةٍ فَإِنْ شَغَلَهُ عَنْ هَذِهِ الأْمُورِ وَأَمْثَالِهَا حَرُمَ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يُخْرِجَهُ إِلَى الْحَلِفِ الْكَاذِبِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
Permainan mubah adalah permainan yang tidak merendahkan kehormatan diri, tidak menimbulkan bahaya atau kerugian bagi manusia maupun hewan.
Juga tidak melalaikan dari shalat dan kewajiban lain, serta tidak mengantarkan pada perbuatan haram.
Baca Juga:
Bolehkah Membaca Novel dalam Islam? Ini Penjelasannya
Adapun permainan yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُسْتَحَبِّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى السِّهَامِ وَالرِّمَاحِ وَالْمَزَارِيقِ وَكُل نَافِعٍ فِي الْحَرب
Permainan yang dianjurkan adalah permainan yang memiliki manfaat, seperti memanah atau hal-hal yang berguna.
Dalam konteks kekinian, hal ini dapat dianalogikan dengan game yang memiliki unsur pendidikan dan manfaat positif.
Sementara itu, permainan yang makruh disebutkan sebagai berikut:
وَمِنَ اللَّعِبِ الْمَكْرُوهِ اللَّعِبُ بِالطَّيْرِ وَالْحَمَامِ لأِنَّهُ لاَ يَلِيقُ بِأَصْحَابِ الْمَرُوءَاتِ وَالإْدْمَانُ عَلَيْهِ قَدْ يُؤَدِّي إِلَى إِهْمَال الْمَصَالِحِ وَيَشْغَل عَنِ الْعِبَادَاتِ وَالطَّاعَاتِ
Permainan makruh adalah permainan yang tidak pantas bagi kehormatan diri dan berpotensi melalaikan diri dari ibadah serta kemaslahatan.
Sedangkan permainan yang diharamkan dijelaskan dengan tegas:
وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُحَرَّمِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ: كُل لُعْبَةٍ فِيهَا قِمَارٌ لأِنَّهَا مِنَ الْمَيْسِرِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِاجْتِنَابِهِ
Artinya, setiap permainan yang mengandung unsur judi termasuk permainan yang haram.
Berdasarkan penjelasan tersebut, bermain game online pada dasarnya diperbolehkan selama tidak mengandung unsur judi, tidak menyakiti, tidak menipu.
Serta tidak mengandung pornografi dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, game juga tidak boleh melalaikan dari shalat dan kewajiban utama lainnya.
Jadi kesimpulannya, umat Islam dituntut untuk bersikap bijak dalam memanfaatkan teknologi yang bersifat hiburan, termasuk game.
Selama permainan tersebut berada dalam koridor syariat dan tidak melanggar prinsip-prinsip Islam, maka hukumnya boleh.
Namun, pengawasan khusus tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak. Sehingga bisa menekan dampak negatif terhadap akhlak, ibadah, dan kehidupan sehari-hari.







