Malanginspirasi.com – Dilansir dari Instagram @nuonline_id, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa awal Sya’ban 1447 H jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Bulan Sya’ban dikenal sebagai salah satu bulan yang memiliki banyak keutamaan. Salah satunya yaitu amalan puasa sunah yang sering dikerjakan Rasulullah SAW.
Puasa Sya’ban menjadi perhatian umat Islam karena kerap disebutkan dalam berbagai hadits Nabi.
Meski demikian, tidak sedikit yang belum memahami batasan waktu pelaksanaannya. Hal ini penting diketahui agar niat beribadah tetap sejalan dengan tuntunan syariat dan tidak menjadi larangan.
Hadits mengenai Puasa Bulan Sya’ban
Hukum sunah puasa Sya’ban dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra.
Dalam hadits tersebut diterangkan bahwa Rasulullah SAW sering berpuasa hingga para sahabat mengira beliau tidak berbuka. Namun terkadang tidak berpuasa hingga disangka beliau tidak berpuasa sama sekali.
Aisyah ra juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.
Namun tidak ada bulan selain Ramadhan yang lebih banyak diisi puasa oleh beliau selain bulan Sya’ban (Muttafaqun ‘Alaih, dengan redaksi riwayat Muslim).
Penjelasan mengenai kebiasaan Rasulullah SAW ini diperinci oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmû’ Syarhul Muhaddzab.
Menurut beliau, maksud Rasulullah SAW berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya adalah berpuasa pada sebagian besar hari di bulan tersebut. Jadi bukan berpuasa penuh selama satu bulan.
Batasan yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki banyak keutamaan, ada batasan tegas terkait waktu pelaksanaannya. Puasa ini menjadi haram apabila baru dimulai pada tanggal 16 Sya’ban.
Oleh karena itu, puasa sunah di bulan ini harus dimulai sejak tanggal 1 atau paling lambat tanggal 15 Sya’ban.
Apabila seseorang belum melaksanakan puasa hingga tanggal 15 Sya’ban, maka ia tidak diperbolehkan memulai puasa pada tanggal 16 hingga akhir bulan Sya’ban.
Larangan ini menjadi perhatian penting agar ibadah tidak bertentangan dengan ketentuan syariat. Dasar larangan tersebut bersumber dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Ketika Sya’ban sudah melewati separuh bulan, maka janganlah kalian berpuasa.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Lima, yaitu Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
Jadi, puasa ini hanya disyariatkan sebelum memasuki pertengahan bulan. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam mengatur ibadah agar tidak memberatkan dan tetap selaras dengan persiapan menyambut Ramadhan.
Baca Juga:
Hindari Melakukan 5 Hal Ini Saat Puasa, Bisa Berakibat Buruk untuk Kesehatan!
Selain batasan waktu, puasa Sya’ban juga memiliki keutamaan besar bagi yang mengamalkannya. Salah satu faedah yang disebutkan oleh para ulama adalah memperoleh syafa’at Rasulullah SAW di hari kiamat.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadi-în menjelaskan bahwa puasa sunah yang kedua belas adalah puasa Sya’ban. Karena kecintaan Rasulullah SAW terhadap bulan tersebut.
Beliau menyebutkan bahwa siapa saja yang melaksanakan puasa Sya’ban, maka ia akan mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW di hari kiamat.
Penjelasan ini semakin menegaskan keutamaan puasa Sya’ban selama dilakukan sesuai ketentuan.
Puasa ini bukan sekadar amalan sunah biasa, tetapi juga menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw dengan mengikuti kebiasaan beliau.
Jadi kesimpulannya, puasa Sya’ban diawali pada 20 Januari 2026. Puasa Sya’ban menjadi haram jika baru dimulai setelah pertengahan bulan, atau tanggal 4 Februari hingga akhir bulan.
Dengan memahami ketentuan ini, umat Islam diharapkan dapat melaksanakan puasa Sya’ban secara benar, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan Rasulullah saw.







