Malanginspirasi.com — Pojok Curhat, spot konsultasi psikologi gratis yang disediakan MCC ini menarik perhatian warga, terutama para remaja yang peduli masalah kesehatan mental.
Bertempat di salah satu ruangan lantai empat Malang Creative Center (MCC).
Layanan ini berada di bawah naungan Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia, sebuah yayasan yang getol mengedepankan kesehatan mental generasi muda.
Alasan utama program ini diluncurkan, menurut seorang Peer Counselor, Rifa Ardelianti, S.Sos adalah maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja.
“Awalnya terbentuk karena program pencegahan bunuh diri, karena banyaknya pelaku adalah remaja.” katanya.
Peer Counselor yang terlibat menambahkan bahwa program ini memang dirancang agar berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Kesiapan layanan ini disambut hangat oleh masyarakat, khususnya lewat opsi konsultasi online.
Rifa mengungkapkan, dalam satu hari bisa ada sekitar 35 klien yang mengakses layanan.
Kebanyakan klien adalah remaja rentan usia sekitar awal 20-an.
Meski aktivitas fisik kantor hanya dilakukan pada Senin dan Kamis, layanan online tetap tersedia setiap hari.
Memungkinkan akses bagi mereka yang berada di luar kota atau memiliki keterbatasan mobilitas.

Layanan ini juga membentuk ekosistem dukungan yang lebih luas. Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia bekerja sama dengan Malang Health Tourism, Palang Merah Indonesia, dan RS Universitas Brawijaya.
Tantangan tersulit yang dilewati Counselor
Tantangan terbesar yang dihadapi, menurut Wildan Zarief., S.Psi., MCounsPsychTh adalah ketika menemukan kasus yang tidak sesuai ekspektasi.
“Branding kami ditujukan untuk remaja, tapi sering ada orang tua yang datang dengan masalah anaknya. Kami belum punya pengalaman di situ, jadi perlu cara yang tepat untuk mengomunikasikan layanan ini kepada mereka,” ujarnya.
Mereka juga masih sering disalahartikan sebagai klinik psikologi atau psikiatri, padahal fasilitas ini tidak menawarkan layanan klinis.
Harapan ahli bagi keberlangsungan layanan
Wildan berharap Pojok Curhat MCC bisa menjadi pintu bagi remaja untuk lebih terbuka soal kesehatan mental.
“Kami ingin menjangkau lebih dari Gen Z, karena kesehatan mental tidak hanya milik satu generasi,” tuturnya.
Harapannya, layanan ini bisa menjadi konduet bagi anak muda untuk memahami dan merawat kesehatan mental mereka secara berkelanjutan, tanpa stigma.







