Malanginspirasi.com – Banyak perempuan tidak menyadari, kebiasaan buruk yang dianggap remeh ternyata dapat menyebabkan peranakan turun.
Dalam istilah medis, peranakan turun disebut dengan prolaps uteri.
Sementara itu, kasus turunnya organ panggul yang mencakup kandung kemih, rahim, atau rektum disebut dengan genital prolapse atau pelvic organ prolapse (POP).
Kasus peranakan turun menjadi kabar yang menakutkan sekaligus membuka mata tentang risiko yang sering diabaikan.
Kasus di Indonesia
Berdasarkan data RSUP Sanglah Denpasar Periode 2015-2016, prolaps uteri didapatkan sebanyak 247 kasus.
Sementara pada tahun 2016-2018, data yang ditemukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyebutkan prolaps organ panggul mencapai 15,96% dengan 252 kasus.
Baca Juga:
6 Cara Mudah Mencegah Kanker Payudara
Menurut penelitian “The Experience of Women with Genital Prolapse” oleh Roets (2007), genital prolapse memiliki dampak besar pada kualitas hidup wanita. Baik dari sisi emosional, sosial, maupun fisik.
Oleh karena itu, perempuan perlu menyadari sejak dini faktor-faktor penyebab peranakan turun dan cara pencegahannya.
Faktor Penyebab Utama
Penelitian “PEOPLE: Lifestyle and comorbidities as risk factors for pelvic organ prolapse—a systematic review and meta‑analysis PEOPLE: PElvic Organ Prolapse Lifestyle comorbiditiEs” oleh Fátima Faní Fitz dan lainnya (2023) telah mengungkapkan faktor tersebut.
Berikut beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab rahim turun (pelvic organ prolapse / POP):
1. Mengangkat beban berat secara rutin

Aktivitas fisik yang melibatkan pengangkatan beban berat, seperti pekerjaan rumah tangga berat, pertanian, atau buruh angkut, terbukti meningkatkan risiko prolaps organ panggul.
Tekanan berulang pada rongga perut (intraabdominal pressure) menyebabkan pelemahan ligamen dan jaringan penopang rahim.
Dalam jangka panjang, tekanan ini membuat organ panggul turun ke arah vagina.
Untuk mencegahnya, hindari pengangkatan beban berat dan bekerja di sektor ringan atau non-fisik.
2. Kurang aktivitas fisik atau jarang berolahraga

Aktivitas fisik yang kurang menyebabkan otot dasar panggul, terutama otot levator ani.
Menjadikan tubuh kehilangan kekuatan dan elastisitasnya sehingga tidak mampu menahan posisi organ-organ di dalam pelvis.
Hal ini mempercepat penurunan uterus, terutama pada wanita lanjut usia atau yang telah beberapa kali melahirkan.
Aktivitas ringan seperti senam panggul atau latihan Kegel disebutkan dapat berperan protektif terhadap risiko POP.
3. Kelebihan berat badan atau obesitas

Obesitas dapat meningkatkan tekanan intraabdominal secara kronis.
Lemak visceral (lemak di sekitar organ dalam) memberi tekanan tambahan pada otot panggul dan jaringan ikat yang menopang rahim.
Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas normal memiliki risiko POP lebih tinggi, bahkan setelah faktor usia dan paritas dikontrol.
Selain itu, obesitas sering disertai gaya hidup sedentari dan gangguan metabolik seperti diabetes yang dapat memperlemah jaringan kolagen pendukung rahim.
Oleh karena itu, menjaga berat badan ideal bagi perempuan sangat membantu dalam mencegah prolaps.
4. Kebiasaan merokok

Merokok memengaruhi kesehatan jaringan ikat dengan menurunkan kadar kolagen dan elastin, dua komponen penting dalam menopang struktur panggul.
Nikotin juga menghambat sirkulasi darah ke jaringan tersebut sehingga memperlambat regenerasi sel.
Menurut penelitian, perokok cenderung mengalami batuk kronis, yang menambah tekanan pada dinding perut bagian bawah setiap kali batuk, sehingga mempercepat terjadinya prolaps.
Oleh karena itu, merokok menjadi faktor risiko ganda, baik secara langsung melalui kerusakan jaringan maupun tidak langsung melalui batuk berulang.
Demikian, berhenti merokok merupakan jalan yang baik untuk mencegah turunnya peranakan.
5. Kebiasaan menahan buang air kecil atau besar

Menahan keinginan buang air kecil atau besar berulang kali meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan rektum.
Penelitian mencatat bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan distensi organ pelvis serta gangguan koordinasi otot dasar panggul.
Dalam jangka panjang, retensi urin atau tinja menambah beban pada ligamen penopang uterus.
Selain itu, menahan buang air besar sering berujung pada konstipasi kronis, yang menjadi salah satu penyebab utama prolaps akibat tekanan saat mengejan.
6. Kebiasaan mengejan keras saat buang air besar

Mengejan berlebihan saat defekasi adalah penyebab langsung prolaps.
Sembelit kronis meningkatkan tekanan di rongga perut dan menyebabkan kerusakan mekanik berulang pada jaringan ikat dan otot dasar panggul.
Penelitian juga menyoroti pola makan rendah serat dan kurang cairan memperburuk kondisi ini.
Wanita yang mengalami sembelit jangka panjang memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih tinggi untuk mengalami prolaps dibandingkan mereka yang memiliki pola buang air besar normal.
Oleh karena itu, menjaga pola makan yang tinggi serat dan memenuhi kebutuhan cairan harian dengan cukup sangat penting untuk mencegah prolapls uterus.








