Malanginspirasi.com – Ribuan anak praremaja di Indonesia dan dunia kini banyak yang mengalami iritasi kulit parah, jerawat dini, hingga gangguan kecemasan berat akibat obsesi berlebihan terhadap produk skincare. Fenomena yang disebut cosmeticorexia atau dermorexia ini semakin masif dipopulerkan media sosial. Khususnya TikTok dan Instagram, melalui tren “Sephora Kids” yang menampilkan anak usia 8–12 tahun memamerkan rutinitas skincare dewasa lengkap dengan retinol, asam, dan serum mahal.
Menurut pakar dermatologi, kulit anak yang masih tipis dan sensitif tidak dirancang untuk bahan aktif kuat yang biasa dipakai orang dewasa. Akibatnya, banyak kasus dermatitis, kerusakan lapisan pelindung kulit (skin barrier), kemerahan, dan bahkan penuaan dini yang paradoks.
Di sisi lain, tekanan untuk tampil “flawless” seperti filter media sosial memicu rendah diri, kecemasan penampilan, dan gangguan citra tubuh yang bisa berlanjut hingga dewasa.
“Anak-anak melihat influencer seusianya memakai puluhan produk setiap hari. Lalu merasa kulit mereka tidak cukup baik tanpa itu,” ujar Alejandro Lobato, seorang psikolog anak yang dikutip dalam laporan tren global.
Tekanan ini semakin kuat karena algoritma platform merekomendasikan konten beauty ke audiens usia dini, terutama ke Gen Alpha (kelahiran 2010-2024). Sehingga menciptakan lingkaran setan compulsive buying dan pemakaian berlebih.
Fenomena cosmeticorexia bukan lagi isu lokal. Bulan lalu, otoritas persaingan usaha Italia (AGCM) resmi menyelidiki raksasa kecantikan Sephora dan Benefit Cosmetics karena dugaan pemasaran terselubung kepada anak perempuan di bawah 10 tahun.
Regulator menyebut praktik tersebut “sangat licik” dan berpotensi membahayakan kesehatan anak melalui promosi produk anti-aging yang tidak sesuai usia.

Nilai Bisnis yang Luar Biasa
Secara global, bisnis produk kosmetika yang menyasar market anak-anak dan praremaja ini juga bukan main-main. Sangat menggiurkan.
Dikutip dari Humanium, pasar skincare bayi dan anak dunia diproyeksikan tumbuh rata-rata 7,71% per tahun hingga 2028, mencapai volume US$380 juta (Rp6,46 triliun) dengan 160,7 juta pengguna.
Pasar ini diperkirakan bertambah US$969 juta (Rp16,47 triliun) antara 2026–2030 dengan CAGR 7%.
Brand-brand seperti Drunk Elephant, Glow Recipe, serta lini khusus anak seperti Klee Naturals dan Evereden semakin agresif memasarkan produk “fun” dan “aman” melalui TikTok. Meski banyak pula yang memanfaatkan produk dewasa untuk menarik tweens (usia 8-12 tahun).
Strategi pemasaran, dari video haul hingga kolaborasi influencer anak, telah mendorong lonjakan penjualan. Bahkan membuat saham salah satu brand California naik 203% berkat positioning sebagai penyedia kosmetik terjangkau untuk tween.
Baca Juga:
PP Tunas Resmi Berlaku Hari Ini, Platform Digital Wajib Nonaktifkan Akun Anak di Bawah 16 Tahun
Akademisi UB Soroti Child Grooming sebagai Masalah Sosial dan Psikologis
Perlunya Intervensi Orang Tua
Di Indonesia sendiri, meski belum ada regulasi khusus, orang tua mulai melaporkan peningkatan kasus serupa. Banyak anak yang lebih sibuk merawat kulit daripada bermain atau belajar, sementara orang tua kesulitan membendung pengaruh konten viral.
Psikolog memperingatkan bahwa obsesi ini dapat berkembang menjadi gangguan mental serupa orthorexia, di mana penampilan menjadi ukuran utama harga diri.
Untuk mengatasinya, ahli merekomendasikan edukasi dini tentang skincare sederhana. Pembersih lembut, pelembap, dan sunscreen saja sudah cukup.
Orang tua diminta membatasi akses media sosial, memantau pembelian produk, serta membuka diskusi terbuka soal citra tubuh yang sehat. Dermatolog anak juga menekankan pentingnya konsultasi sebelum anak mencoba produk dewasa.
Sementara regulator global mulai bergerak, tren cosmeticorexia mengingatkan bahwa di balik kilauan filter dan video GRWM (Get Ready With Me), ada generasi anak yang kehilangan masa kecilnya demi “kulit sempurna” yang sebenarnya tidak perlu.







