Malanginspirasi.com – Side hustle, atau pekerjaan sampingan, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup karier Generasi Z (Gen Z) di tengah ketidakpastian lapangan kerja dan perkembangan teknologi.
Bukan sekadar tambahan uang saku, side hustle bagi sebagian dari mereka yang lahir antar tahun 1997-2012, adalah strategi untuk mendiversifikasi pendapatan tanpa mengorbankan keamanan pekerjaan utama.
Ini sejalan dengan konsep “career minimalism” yang lebih mengutamakan keseimbangan hidup daripada naik jabatan secara konvensional.
Menurut sejumlah survei terbaru, side hustle membantu Gen Z mengejar passion, membangun keterampilan, dan menghadapi ketidakpastian ekonomi seperti PHK massal dan inflasi.
Statistik dan Tren
Berdasarkan data tahun 2025, partisipasi Gen Z dalam side hustle sangat tinggi dibandingkan generasi lain:
- Hampir setengah (48%) dari Gen Z berusia 18-27 tahun memiliki setidaknya satu side gig, tertinggi di antara semua generasi (dibandingkan 44% milenial, 33% Gen X, dan 23% baby boomers).
- Pendapatan dari side hustle bisa mencapai 10-15 juta rupiah per bulan. Meski demikian, sebagian besar masih berkutat di angka ratusan ribu hingga 2 jutaan per bulan, sehingga belum aman untuk dijadikan pendapatan utama.
- Lebih dari 50% Gen Z memiliki side hustle, dan tren “side stacking” (memiliki multiple side hustle sekaligus).
- 77% side hustle Gen Z dimulai dalam dua tahun terakhir, menunjukkan pertumbuhan pesat akibat pandemi dan disrupsi teknologi.
Tren ini didorong oleh preferensi Gen Z terhadap fleksibilitas. Hampir setengahnya memprioritaskan jadwal kerja fleksibel, kompensasi, dan lokasi bebas.
Selain itu, 48% Gen Z dengan side hustle berhasil mendapatkan passive income, seperti dari konten digital atau investasi.
Baca Juga:
Manfaatkan Platform Digital, Live Streaming Jadi Ajang Cari Cuan yang Menggiurkan
Self-Reward, Cara Gen Z Merayakan Diri dan Menghilangkan Stress
Alasan Memilih Side Hustle
Gen Z tidak melihat side hustle sebagai “pekerjaan cadangan” atau pengganggu, melainkan bagian pusat dari identitas mereka.
Alasan utamanya meliputi:
1. Diversifikasi Pendapatan
Untuk keamanan finansial di tengah volatilitas pasar kerja. Side hustle memungkinkan mereka membangun multiple income streams, mengurangi ketergantungan pada satu majikan.
Hampir 7 dari 10 Gen Z melakukannya untuk menabung atau memenuhi kebutuhan biaya hidup.
2. Kepuasan dan Passion:
Banyak side hustle menawarkan outlet kreatif, kewirausahaan, atau aktivisme yang tidak didapat dari pekerjaan utama.
Satu dari tiga Gen Z memilihnya karena passion, bukan kebutuhan ekonomi semata. Ini mendukung work-life balance, di mana pekerjaan utama untuk stabilitas, side hustle untuk gairah, dan batasan ketat untuk keberlanjutan.

3. Pengembangan Keterampilan:
Di era AI dan perubahan industri cepat, side hustle membantu menghindari skill yang itu-itu saja yang sudah kurang relevan dengan perkembangan jaman. Gen Z sering memanfaatkan tren digital seperti monetisasi YouTube atau trading kripto.
4. Fleksibilitas dan Otonomi:
25% pekerja tech Gen Z menginginkan kombinasi full-time job dengan side hustle, lebih tinggi dari yang memilih karier tradisional.
Ini memungkinkan mereka bekerja lebih sedikit jam tapi menghasilkan lebih banyak, sambil mengejar pendidikan atau hobi.
Fenomena ini juga memengaruhi generasi lain, dengan milenial dan Gen X mulai mengadopsi side stacking untuk resiliensi ekonomi.
Beberapa Side Hustle Populer
Berikut beberapa side hustle yang banyak dilakukan Gen Z untuk meningkatkan taraf hidup, berdasarkan tren 2025.
Mereka rata-rata memanfaatkan platform online untuk memulai dengan modal minim:
- Content Creation: Membuat video, podcast, atau konten tertulis di platform seperti TikTok atau YouTube. Monetisasi melalui iklan, sponsor, dan membership. Cocok untuk Gen Z karena mudah dilakukan dengan smartphone dan memanfaatkan kreativitas mereka.
- Freelancing: Menawarkan layanan seperti manajemen media sosial, desain grafis, atau penulisan via Upwork atau Fiverr. Pekerjaan sampingan ini menarik karena fleksibel dan tidak terbatas lokasi, meski butuh pengalaman untuk tarif tinggi.
- Reselling dan Thrift-Flipping: Membeli barang bekas (vintage, pakaian, koleksi) dari thrift store dan menjualnya untung di eBay atau Depop. Sesuai dengan minat Gen Z pada fashion berkelanjutan dan nostalgia.
- Investing: Berinvestasi kecil-kecilan via app micro-investing, seperti saham atau kripto. Berjalan otomatis setelah riset awal. Menarik karena potensi pertumbuhan jangka panjang.
- Baby atau Pet Sitting: Menjaga anak atau hewan peliharaan via Care.com atau Rover. Fleksibel di luar jam kerja utama dan menyenangkan bagi yang suka anak/hewan.
- Sell Handmade Arts and Crafts: Membuat dan menjual kerajinan tangan di Etsy atau Amazon Handmade. Fokus pada produksi tanpa perlu marketing sendiri.
- Tutoring: Mengajar mata pelajaran seperti matematika atau bahasa via Wyzant. Permintaan tinggi, fleksibel, dan bayarannya bisa mencapai Rp15-25 ribu per jam.

Side hustle lain yang sedang naik daun termasuk affiliate marketing, stock photography, dan digital entrepreneurship seperti influencer 5-to-9 (konten setelah jam kerja).
Dampaknya pada Dunia Kerja
Side hustle Gen Z mendorong perubahan di tempat kerja, seperti permintaan fleksibilitas lebih tinggi dan redefinisi kesuksesan. Ini bukan penolakan terhadap kerja keras, tapi penyesuaian terhadap realitas modern di mana tangga karier tradisional tak lagi menjanjikan.
Bagi perusahaan, ini berarti strategi rekrutmen harus menawarkan work-life balance untuk menarik talenta muda. Di masa depan, side hustle bisa menjadi norma, membantu Gen Z mencapai kemandirian finansial lebih dini.







