Love Language Beda, Bisa Bikin Hubungan Gagal?

Malanginspirasi.com – Hubungan yang sehat bukan hanya soal cinta, tapi juga soal bagaimana cinta itu disampaikan dan diterima.

Sering kali, pasangan merasa tidak dimengerti padahal keduanya saling mencintai. Salah satu penyebab umum dari ketidaksesuaian ini adalah perbedaan love language, atau bahasa cinta.

Saat dua orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kasih sayang, hubungan bisa terasa tidak seimbang. Tapi, apakah perbedaan ini benar-benar bisa membuat hubungan gagal?

Apa Itu Love Language?

Konsep love language diperkenalkan Dr. Gary Chapman melalui bukunya The 5 Love Languages. Ia mengidentifikasi lima cara utama seseorang mengekspresikan dan menerima cinta:

– Words of Affirmation: cinta disampaikan melalui kata-kata pujian atau dukungan.

– Acts of Service: cinta ditunjukkan lewat tindakan, seperti membantu tugas sehari-hari.

– Receiving Gifts: hadiah menjadi simbol kasih sayang.

– Quality Time: kehadiran utuh dan momen berkualitas bersama adalah bentuk cinta.

– Physical Touch: kasih sayang melalui sentuhan fisik seperti pelukan atau genggaman tangan.

Perbedaan dalam bahasa cinta ini bisa menjadi masalah jika tidak dipahami secara sadar oleh kedua belah pihak.

Kenapa Perbedaan Love Language Bisa Jadi Masalah?

Beda love language bukan berarti hubungan pasti gagal. Tapi, ketidaksadaran akan perbedaan ini dapat menimbulkan rasa kecewa atau bahkan terluka.

Misalnya, jika kamu merasa dicintai lewat kata-kata manis, tapi pasanganmu lebih suka menunjukkan cinta lewat tindakan, kamu bisa merasa tidak diperhatikan meskipun dia sebenarnya peduli.

Melansir Verywell Mind, pasangan cenderung memberikan cinta dengan cara yang mereka sendiri harapkan, bukan seperti yang diinginkan pasangannya.

Ketika love language tidak cocok dan tidak dikomunikasikan, muncul jarak emosional yang membuat hubungan jadi dingin dan penuh salah paham.

Tanda-Tanda Love Language Kamu dan Pasangan Tidak Sinkron

– Merasa tidak cukup dicintai walau pasangan sudah berusaha

– Sering salah paham karena merasa tidak dihargai

– Muncul perasaan jenuh atau frustasi tanpa alasan yang jelas

– Ada jarak emosional meski hubungan masih berjalan

Kalau hal-hal ini terjadi terus-menerus, hubungan bisa menjadi melelahkan secara emosional.

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kenali Love Language Masing-Masing

Langkah pertama adalah menyadari love language sendiri dan pasangan. Ikut tes 5 Love Languages atau ajak pasangan ngobrol soal cara kamu merasa dicintai.

2. Berlatih Ekspresi yang Pas untuk Pasangan

Kalau pasanganmu suka sentuhan fisik, cobalah memeluk lebih sering. Kalau dia suka kata-kata afirmatif, biasakan mengucap “terima kasih” atau “aku bangga padamu.”

Kamu tidak harus berubah sepenuhnya, tapi menunjukkan usaha bisa membuat pasangan merasa dihargai.

3. Komunikasi Terbuka dan Tidak Menuduh

Jangan menghakimi. Sampaikan perasaan dengan kalimat “aku merasa…” daripada “kamu nggak pernah…” agar diskusi tidak berubah jadi konflik.

4. Saling Mengapresiasi Usaha

Meskipun belum sempurna, apresiasi setiap usaha pasangan dalam menyesuaikan diri. Itu menunjukkan kamu menghargai niat baiknya, bukan hanya hasilnya.

5. Konsultasi Jika Diperlukan

Jika perbedaan bahasa cinta menimbulkan ketegangan terus-menerus, tidak ada salahnya mencari bantuan dari terapis pasangan.

Mereka bisa membantu menemukan jalan tengah yang sehat bagi kalian berdua.

Perbedaan love language bukan akhir dari segalanya. Justru, saat pasangan saling beradaptasi dan memahami kebutuhan satu sama lain, hubungan bisa jadi lebih kuat.

Kuncinya ada pada komunikasi yang terbuka, empati, dan kemauan untuk belajar. Cinta memang penting, tapi cara kita menunjukkan cinta juga tak kalah penting.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *